jump to navigation

CH’I DAN ROH KUDUS SUATU STUDI PNEUMATOLOGI DALAM KONTEKS AGAMA TAO 26/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
trackback

Oleh: GI Santobi, M. Div.

PENDAHULUAN

Di kalangan gereja Injili, doktrin Roh Kudus tidaklah dianggap penting atau hal yang utama.  Hal ini tampak dari buku-buku Sistimatika Teologi yang ditulis oleh para sarjana Injili.[1] Mereka lebih cenderung menekankan doktrin Allah dan Kristus daripada Roh Kudus.  Bahkan  Packer menganggap Roh Kudus sebagai “Cinderella” ajaran Kristen saat ini.[2] Hal ini justru berbeda dengan apa yang terjadi di kalangan Pentakosta dan Karismatik.  Mereka dapat dikatakan “sangat menekankan” peran dan karya Roh Kudus di dalam kehidupan gereja dan orang percaya secara pribadi.

Di kalangan gereja ekumenikal atau di dalam World Council of Churches (WCC), pada tahun-tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan minat terhadap Roh Kudus.  Hal ini tampak dari tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh sekolah-sekolah teologi dari kalangan mereka.  Ada dua alasan utama mengapa kalangan ekumenikal “kembali” berminat terhadap doktrin Roh Kudus.  Pertama, masuknya gereja-gereja Ortodoks Timur – di mana Roh Kudus sangat berperan penting – ke dalam organisasi ekumenikal ini (WCC).  Hal ini memberikan pengaruh kepada gereja-gereja lainnya yang mulai membuka akan keterlibatan Roh Kudus di dalam kehidupan rohani orang percaya. Kedua, perkembangan yang luar biasa dari gerakan Pentakosta dan Karismatik ke seluruh dunia membuat orang-orang Kristen lainnya mulai tersadar akan pentingnya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.[3]

Seiring dengan hal tersebut, mulai muncul pemikiran untuk “menafsirkan kembali” doktrin Roh Kudus di dalam konteks di mana orang percaya itu berada.  Karkkainen menekankan akan hal ini :”the challenge given to theology in its reflection on the Holy Spirit is to retrieve concrete, particular aspects of the pneumatological tradition.”[4] Lee juga menyatakan bahwa setiap penyataan teologi adalah kontekstual[5] yang artinya merupakan respon dari isu yang ada dan muncul dari konteks itu sendiri.  Berkenaan dengan ini, gereja-gereja di Asia pada masa sekarang ini tertantang untuk “menciptakan” sebuah teologi yang “berkonteks” Asia terlebih lagi dunia Asia yang pluralistik.[6] Lee sendiri menekankan akan hal ini :

Most Third World people have a pluralistic context where many different religions and cultures coexist in their lives.  The more pluralistic their context is, the more pluralistic interpretations they would make of the Trinity.  What I have attempted here is to provide one of many possible interpretations of the Trinity from the perspective of an Asian context.[7]

Salah satu agama yang muncul dan berkembang di Asia khususnya di Asia Timur adalah agama Tao.  Agama Tao ini merupakan agama yang muncul dari kepercayaan kuno orang China selama berabad-abad yang memiliki inti kepercayaan di dalam hukum keseimbangan Yin Yang.  Hal ini digambarkan secara jelas dari I Ching (Kitab Perubahan) yang dimiliki oleh orang China selama berabad-abad.  Prinsip Yin Yang ini menekankan akan keharmonisan dari alam semesta atau kosmologi.  Lee yang mengutip dari lampiran (the appendix) I Ching menyatakan “There is the Absolute which produced the two forms, yin and yang; and the yin and yang between them produced all things…. One yin and one yang constituted what is called Tao.”[8] Ching juga menyatakan :”Philosophical Taoism is only one of several strands that converged to make up religious Taoim.  The others include ideas from the Yin-Yang school, which understands the natural order under the two complementary yet antithetical aspects of the Tao, and the Five Agents school.”[9]

Dari prinsip Yin Yang ini muncul energi yang merupakan roh atau energi “penggerak” dari semua perubahan yang terjadi di dalam alam semesta ini yang disebut dengan “ch’i”.  Ch’i inilah yang dianggap Roh Kudus dan nafas atau jiwa manusia di dalam pengajaran Kristen karena kata ch’i disamakan dengan kata Ibrani “ruakh” (Perjanjian Lama) dan kata Yunani “pneuma” (Perjanjian Baru) yang dapat diartikan sebagai “roh”, “nafas/jiwa” dan “angin”.

Oleh karena melihat pengertian atau pemahaman ch’i yang demikian, maka ada beberapa penulis/teolog Kristen[10] yang telah menafsirkan dan mengkontekstualisasikan ch’i sebagai Roh Kudus.  Mereka mencoba untuk “mendaratkan” doktrin Roh Kudus sebagai ch’i di dalam konteks Asia Timur khususnya China sehingga orang-orang yang tinggal di negara-negara tersebut atau lebih tepatnya para penganut Tao dapat memiliki kesamaan konsep dan pengertian khususnya tentang doktrin Roh Kudus tersebut yang diyakini oleh orang-orang Kristen.  Dengan demikian, pemahaman yang sama ini dapat menjadi “jembatan” dialog antara orang Kristen dengan para penganut Tao supaya tercipta saling menghargai dan menghormati.  Di sisi lain, pemahaman ini dapat menjadi “jalan masuk” injil Kristus disampaikan.

Di dalam tulisan ini, penulis mencoba meninjau apakah usaha kontekstualisasi tersebut sesuai dengan Firman Tuhan.  Tinjauan ini akan dilakukan dengan membandingkan antara Ch’i dan Roh Kudus yaitu dengan memberikan gambaran tentang Ch’i dan Roh Kudus sendiri menurut Firman Tuhan.  Selanjutnya akan dianalisa apakah tepat konsep ch’i dipakai untuk salah satu oknum Allah Tritunggal, Roh Kudus ini.

DEFINISI, ASAL USUL DAN KONSTEKSTUALISASI CH’I SEBAGAI ROH KUDUS

Definisi  Ch’i

Konsep pemikiran China tentang Chi dikembangkan oleh para filsuf seperti Lao-tzu, Kong Fu Tzu (Konfusius), Men Zi (Mencius) dan lainnya antara abad enam dan empat sebelum Masehi.[11] Menurut Kamus Besar China-Indonesia, ch’i (qi) berarti gas, udara, nafas, bau, hawa/cuaca, sikap, semangat, jiwa, kemarahan, dan hina.[12] Menurut Simpkins, kata ch’i sama dengan kata Yunani Pneuma dan kata Sansekerta Prana yang berarti napas, pernapasan, angin, dan spirit yang vital, jiwa.  Menurutnya, segala sesuatu di alam semesta, baik yang bergerak dan tidak bergerak, merupakan bagian dari samudra luas ch’i.  Segala sesuatu adalah ch’i baik materi padat maupun energi.[13]

Sedangkan menurut Skinner, “Ch’i, roh yang vital, mengisi dunia pemikiran para Taois. Ch’i adalah Roh Kosmis yang menghidupkan dan menginfus semua hasil cipta alam, memberikan energi kepada manusia, kehidupan kepada alam, pergerakan kepada air dan pertumbuhan kepada tanaman….Keberadaan orang adalah karena Ch’i, sedangkan Ch’i berada di dalam diri orang.”[14]

Sedangkan menurut Wikipedia, chi adalah : “Qi, also commonly spelled ch’i (in Wade-Giles romanization) or ki (in Romanized Japanese), is a fundamental concept of traditional Chinese culture.  Qi is believed to be part of every living thing that exist, as a kind of “life force” or “spiritual energy.”  It is frequently translated as “energy flow,” or literally as “air” or “breath.”[15]

Menurut Sarah Rossbach ada dua macam ch’i.  Dia menyatakan : “In Chinese, the character ch’i has two meanings : one cosmic, one human.  Heaven’s ch’i encompasses air, steam, gas, weather, and force.  Man’s ch’i includes breath, aura, manner, and energy.  The two types of ch’i are far from separate.  Man’s ch’i is strongly influenced by the ch’i of both heaven and earth.”[16]

Lee sendiri memberikan pengertian chi sebagai berikut :

The cosmic dimension of spirit is expresses in the idea of ch’i, the vital energy which is the animating power and essence of the material body.  Ch’i (or ki in Korean) is almost identical with ‘spirit,” ruach in Hebrew and pneuma in Greek, both of which are often translated as “wind” or “breath.”  The word “ruach” has its etymological origin in air, which manifest itself in two distinctive forms; that of wind in nature and that of breath in living things.  A similar idea is found in the Sanskrit word prana, which means “breath,” denoting the breath of life.[17]

Dari beberapa definisi di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa ch’i dapat diartikan sebagai nafas, angin, roh atau jiwa.  Ch’i ini juga menunjuk kepada nafas atau jiwa manusia dan Roh Kosmis yang menghidupkan dan memberikan energi di dalam mempertahankan kehidupan di dalam dunia ini.

Aplikasi Ch’i di dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa aplikasi dan praktek dari ch’i di dalam kehidupan sehari-hari adalah:

1.  Ch’i Kung/Tai Chi/Wai Tan Kung

Ch’i Kung adalah seni bangsa China yang membantu manusia untuk bekerja dengan banyak energi yang telah dianugerahkan padanya supaya energi itu dapat ditingkatkan.  “Kung” berarti mengolah, bekerja dengan, atau mengembangkan.  Jadi, Ch’i Kung berarti mengolah ch’i. Ketika mempraktekkan Ch’i Kung ini, seseorang akan sadar akan energi ch’i yang dimilikinya yang mengalir di seluruh tubuhnya.  Kemudian lahirlah kemampuan untuk memperkuat atau menenangkan diri terhadap kehendak.  Ch’i Kung dapat membantu menghilangkan rasa sakit dengan berusaha memulihkan kembali aliran energi.  Jadi, ch’i kung adalah cara untuk meningkatkan dan memancarkan ch’i supaya dengan demikian memiliki dasar untuk kesehatan dan kesejahteraan serta memberikan pengendalian diri yang lebih baik.[18] Hal ini sama juga dengan Tai Chi dan Wai Tan Kung.[19]

2.  Akupunktur

Akupunktur adalah pengobatan Timur yang merupakan metode koreksi atas permasalahan ch’i di dalam tubuh seseorang yang sakit.   Akupunktur ini memakai prinsip-prinsip ajaran Tao dan ch’i menjadi dasar bagi semua perawatannya[20]digabungkan dengan prinsip lima unsur dan Yin Yang untuk memahami tentang tubuh manusia.  Tubuh manusia adalah bagian dari alam semesta dan alam semesta terdiri dari lima unsur yaitu unsur kayu, api, tanah, logam dan air.  Yin Yang sendiri merupakan sistem halus yang berusaha untuk membantu menggambarkan kompleksitas tubuh manusia.[21]

Kata Akupunktur (acupuncture) berasal dari bahasa Latin “acu” yang berarti jarum dan “pungere” yang berarti menusuk.  Para ahli akupunktur menempatkan jarum kecil pada titik-titik acu (acupoints) sepanjang garis meridian[22].  Jarum ditempatkan secara benar untuk menambah, mengurangi, atau mengarahkan kembali aliran ch’i sebagaimana yang dibutuhkan untuk memperbaiki keseimbangan.[23]

  1. Feng shui yaitu dengan mengusahakan keseimbangan yin dan yang untuk menghasilkan ch’i yang baik sehingga dapat memberikan keberuntungan, kesuksesan, kemakmuran dan terhindar dari marabahaya bagi penghuni rumah.
  2. Ilmu Bela Diri seperti Tae Kwon Do, Kempo, Karate, Kung Fu, Judo, Jiujitsu, Aikido yang mengelola tenaga dalam (ch’i) menjadi kekuatan[24] yang luar biasa untuk mengalahkan musuh.

Asal Usul Ch’i

Filsafat Taoisme

Di dalam kepercayaan China, Taoisme[25] terbagi menjadi dua yaitu Filsafat Taoisme (Tao Chia) dan Agama Taoisme (Tao Chiao) yang memiliki ajaran .  Filsafat Taoisme telah menjadi bagian dari filsafat Cina selama berabad-abad yaitu di dalam I Ching (Kitab Perubahan).   Filsafat Taoisme adalah suatu sistem pemikiran China yang memandang Tao (‘the Way”) adalah sumber dan realitas dari manusia dan ciptaan, memiliki karakteristik perubahan, secara spontan, tidak memiliki tujuan dan kembali ke asal.  Filsafat Tao percaya bahwa alam ini dan Tao secara esensi adalah satu.[26] Sedangkan Agama Taoisme adalah salah satu gerakan keagamaan yang menyembah Tao (“the Way”) dan yang melakukan meditasi[27] dengan bertujuan menyatu dengan alam.

Filsafat Taoisme berpedoman bahwa segala sesuatu itu berubah.[28] I-Ching membedakan perubahan menjadi tiga yaitu, pertama, transformasi berputar, di mana satu hal berubah menjadi satu hal yang lain, tetapi akhirnya akan kembali ke bentuknya semula; contohnya perubahan musim.  Kedua, perubahan yang berkembang secara progresif yaitu transformasi yang berganti sedikit dalam suatu waktu. Tiap bentuk baru mengambil bentuk yang sebelumnya, namun ia selalu bergerak maju.  Contohnya usia seseorang.  Ketiga, perubahan yang dimulai dari yang kecil, namun ketika sudah melewati transformasinya, perubahan terjadi berkali lipat dengan hasil yang sangat besar.  Misalnya ketika kita melihat tetangga setiap hari, tampaknya tidak banyak ada perubahan.  Tetapi ketika kita sudah tidak berjumpa beberapa tahun, maka banyak perubahan yang terjadi.  I Ching menekankan bahwa langit dan bumi pada awalnya kecil dan berkembang selama beribu tahun untuk menjadi semesta yang kompleks sebagaimana yang kita saksikan.[29]

Lao-tzu di dalam Kitab Tao Te Ching memberikan makna Tao sebagai sumber dari alam semesta secara metafisik :”Tao produced the One, the One produced the Two, The Two produced the Three, and the Three produced the ten thousand things[30] (pasal 42).  Tao digambarkan sebagai sumber utama, Sang Utama (the One) adalah keberadaan yang mula-mula, atau “the Chaos”.  Sang Dua (the Two) menunjukkan yin (negatif atau feminim) dan yang (positif atau maskulin); Sang Tiga (the Three) adalah yin, yang dan kesatuan mereka.  Tao menentukan semua hal atau segala-galanya bergantung padanya.  Lao-tzu percaya bahwa Tao adalah universal dan bahwa segala-galanya akan dibangun atau ditransformasi secara sempurna menurut Tao.  Oleh karena itu, Tao juga mencakup jalan proses universal dan prinsip tertinggi.  Inilah asal usul (ontology) Lao-tzu secara sederhana.[31]

Tao adalah hakikat yang tertinggi.  Tao adalah sumber, sebelum terjadi penciptaan.  Sebelum hidup adalah kehampaan atau kekosongan, yakni Tao[32].  Hidup atau te mengikuti Tao.  Ruang hampa bukanlah tidak ada apa-apa, melainkan justru merupakan potensi adanya segala sesuatu.  Ruang adalah keterbukaan untuk diisi.  Tao adalah kesatuan tak berubah yang mendasari semua fenomena yang berubah.[33]

Seseorang dapat menemukan kebijaksanaan Tao ketika ia diam, hening, dan luwes, dengan memberikan ruang bagi munculnya Tao.  Hidup lebih dekat dengan alam dengan suatu cara yang sederhana akan menyingkapkan keterkaitan kita dengan Tao.  Jika seseorang peka terhadap pengekspresian Tao dalam dirinya, orang lain, dan dunia di sekitar, maka jalur Taoisme akan terbuka di depannya.[34] Dan cara yang dipakai untuk menemukan Tao adalah meditasi.  Esensi dari meditasi ini adalah pengalaman batiniah, yaitu dengan memusatkan perhatian pada dimensi batin yang paling dalam, melepaskan segala pikiran dan pengaruh luar.[35]

Upaya untuk menemukan Tao dapat pula dilakukan dengan “berbaur” dan “mengikuti” Tao alam yang dapat membawa kembali ke arus alami menuju pemenuhan diri yaitu dengan cara mengamati alam itu sendiri.[36] Selanjutnya belajar hidup selaras dengan alam dan tidak mengambil tindakan yang bertentangan dengan alam.  Ini yang disebut dengan wu wei, yaitu suatu cara tanpa tindakan dengan belajar bagaimana membentuk kekuatan alam dalam gerak untuk membantu menyelesaikan segala hal tanpa banyak usaha.[37]

Yin Yang

Simbol atau filsafat yin yang sangat penting di Asia Timur (China, Jepang, Korea), karena simbol yin yang ini memcerminkan akan pandangan dunia dan praktek kehidupan di Asia Timur.  Kecenderungan penduduk yang tinggal di negara-negara Asia Timur berpikiran secara makrokosmos daripada antroposentris.  Di Barat orang cenderung berpikiran antroposetris menuju ke kosmosentris; di Asia Timur orang cenderung berpikir kosmosentris ke antroposentris[38].  Antropologi adalah bagian dari kosmologi dan manusia dianggap sebagai mikrokosmos di dalam kosmos (alam).  Hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara manusia dan dunia (alam) adalah ciri dari filsafat Asia Timur.   Oleh karena itu, kosmologi menjadi dasar untuk memahami akan keberadaan manusia.  Jika alam beroperasi melalui hubungan yin yang, maka aktifitas manusia sebagai mikrokosmos juga sama dengan prinsip yin dan yang.[39]

Prinsip yin yang adalah menyeimbangkan apa yang ada di dalam dunia ini yang cenderung bersifat berlawanan.  Misalnya saja panas dingin, terang gelap, pria wanita, bersih kotor.  Walaupun demikian, sifat berlawanan ini dapat dipandang sebagai saling memperlengkapi dan bukan untuk saling menghancurkan.  Inilah prinsip yin yang, berlawanan tetapi untuk saling melengkapi.

Prinsip atau filsafat yin yang ini muncul dan berkembang adalah hasil dari pengamatan terhadap alam semesta khususnya terhadap matahari dan bulan.  Dalam I Ching (Kitab Perubahan), tulisan/huruf gambar (the ideogram) “I” terdiri dari matahari dan bulan, yaitu yang dan yin. Jadi, pergerakan matahari dan bulan atau siang dan malam menjadi prinsip dasar untuk menentukan apa yang terjadi di alam semesta.  Yang menunjukkan matahari seperti terang, siang, api, merah, kekeringan, panas, dan seterusnya; sedangkan yin menunjukkan bulan seperti gelap, malam, putih, air, dingin, dan seterusnya.  Yang adalah esensi dari langit, sedangkan yin adalah bumi.  Yang adalah prinsip maskulin, sedangkan yin adalah feminism.  Yang adalah positif dan yin adalah negatif; yang adalah gerakan, yin adalah istirahat; yang adalah kehidupan, yin adalah kematian.  Semua yang ada di dalam dunia ini dapat dikategorikan ke dalam yin dan yang. Jadi yin dan yang adalah prinsip kosmos yang dinyatakan di dalam segala sesuatu.  [40]

Walaupun yin dan yang berlawanan di dalam karakternya, mereka adalah kesatuan.  Untuk memahami hubungan antara yin dan yang dapat melihat dari apa digambarkan di dalam I Ching yaitu yin digambarkan dengan dua garis terpisah (- -), sedangkan yang digambarkan sebagai satu garis (    ).[41] Yin Yang digambarkan sebagai lingkaran yang mencakup dua realita yang digambarkan berada dalam keseimbangan (sama luas) tetapi bertentangan (arah dan warna berbeda), tetapi harmonis (membentuk lingkaran seutuhnya).  Di tengah yin yang gelap ada titik putih dan di tengah yang yang terang ada titik gelap.  Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada yang mutlak karena sekalipun gelap dan terang berada dalam kadar yang seimbang, dalam gelap bisa dijumpai terang dan dalam gelap bisa dijumpai gelap.[42]

Konsep Yin Yang ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Keseimbangan yin dan yang dapat dicapai karena hubungan keduanya adalah saling melengkapi.  Walaupun yin dan yang berlawanan tetapi mereka juga saling memenuhi satu dengan yang lainnya.  Contohnya adalah pria dan wanita adalah berlawanan tetapi mereka dalam hubungan saling melengkapi.  Pernikahan menjadi hubungan yang saling memenuhi satu dengan yang lainnya.  Jadi hubungan saling memenuhi adalah keseimbangan atau harmoni antara yin dan yang, di mana keseimbangan ini adalah Sang Ultimat Agung (the Great Ultimate)[43] yaitu Tao.

Ch’i dan Roh Kudus, Sebagai Usaha Kontekstualisasi Konsep Ch’i Terhadap Roh Kudus

Chi sebagai Roh Allah/nafas Allah

Kwek melihat ada empat bagian Firman Tuhan yang berhubungan dengan ch’i sebagai nafas Allah (Roh Allah) yaitu pertama, berkenaan dengan penciptaan di mana Allah memberikan nafas kehidupan (ch’i) kepada manusia (Kej. 2:7); kedua, ketika Allah berbicara kepada Ayub “selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih di dalam lubang hidungku,” (Ayub 27:3) dan “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup” (Ayub 33:4) menunjukkan bahwa nafas yang dihembuskan Allah adalah Roh Allah; ketiga, di mana Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat supaya nafas hidup berhembus dari empat penjuru mata angin dan masuk ke dalam tulang-tulang supaya bisa hidup kembali; nafas hidup (ch’i) yang dihembuskan Allah itu adalah Roh Allah sendiri (Yeh. 37:9, 14); keempat, peristiwa “pengembusan” Roh Kudus (Ch’i) yang dilakukan oleh Yesus ke dalam para murid-Nya (Yoh. 20:22).[44] Jadi Kwek di sini menyimpulkan bahwa nafas yang diberikan kepada manusia adalah Roh Allah/Roh Kudus sendiri.  Ini berarti manusia yang memiliki nafas tersebut adalah Allah juga karena memiliki Roh Allah.

Wang sependapat dengan Kwek yang menyatakan bahwa nafas hidup yang dihembuskan Allah kepada manusia pertama (Adam) adalah Roh Kudus sendiri.  Demikian juga ketika Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada para murid-Nya, Wang melihat bahwa “ini adalah bukti tambahan bahwa “Nafas” (Qi) menggambarkan Roh Kudus”[45].  Dia menyatakan :

Pada saat Adam diciptakan, tiga Anggota Keallahan mengambil bagian…. Tetapi adalah Roh Kudus, Anggota ketiga dari Keallahan, yang “menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya”, dan melemaskan tubuh kaku yang tak-bernyawa.  Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Maha Kuasa membuat aku hidup (Ayub 33:4).  “Nafas Allah” adalah Roh Kudus, dan betapa pentingnya Dia kepada keberadaan seseorang…. Qi itu adalah nafas dari Yang Maha Kuasa – lambang dari Roh Kudus.[46]

Berbeda dengan Lee; ia tidak hanya menekankan ch’i sebagai nafas hidup manusia saja tetapi juga ada kuasa di dalamnya.  Nafas adalah gerakan udara di dalam tubuh manusia membuat manusia itu hidup.  Di dalam Perjanjian Lama, nafas Allah diidentifikasikan dengan kuasa pemberi hidup (Kej. 6:17; Bil. 16:22; Maz. 104:29; Yes. 37:7).  Demikian juga di dalam Allah menciptakan manusia, Allah memberikan nafas-Nya sebagai kuasa pemberi hidup dan manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7).  Di dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus juga menjadi kuasa pemberi hidup di dalam kelahiran Yesus (Mat. 1:18-20; Luk. 1:15, 35).  Jadi kehidupan dan kematian manusia karena nafas kehidupan, roh atau ch’i.[47]

Chi sebagai angin

Selain ch’i sebagai nafas Allah, ch’i juga dapat berarti angin.  Angin digambarkan sebagai presentasi dari kekuatan Allah di alam.  Allah bertindak sebagai angin untuk “menguakkan” (membelah) air laut dan orang-orang Israel lolos dari orang Mesir (Kel. 14:21; 15:8).  “Angin” tidak hanya mengeringkan dan merusak sumber/mata air (Hos. 13:15) tetapi juga mengumpulkan awan untuk memberikan hujan kepada tanaman  (I Raj. 18:45).  Karena Allah adalah Roh yang menunjukkan dirinya sebagai angin demikian juga dengan ch’iCh’i, yang adalah gerakan dari yin dan yang, bertindak melalui proses pendinginan (condensation) dan penyebaran (dispersion) di dalam membuat hujan dan melalui hujan ini, alam dipelihara, ditopang dan kembali berproduksi.  Demikianlah angin, sebagai gambaran Roh Kudus, mendukung proses prokreasi, pemeliharaan, pembaruan dan transformasi.  Seperti angin, Roh Kudus memasuki semua benda/hal dan memberikan kepada mereka energi dan kehidupan.  Ch’i sebagai Roh Kudus, adalah aktifitas yin dan yang, yang mana mengubah dan mentransformasikan segala sesuatu di dalam dunia.[48]

Chi sebagai kekuatan Allah

Dari dua gambaran ch’i di atas yaitu sebagai nafas dan angin menunjukkan adanya kuasa atau kekuatan yang menghidupkan dan menyembuhkan.  Angin adalah simbol dari kekuatan/kuasa kehidupan di dalam alam, sedangkan nafas adalah simbol dari kekuatan/kuasa di dalam kehidupan.  Angin dan nafas adalah kekuatan, karena mereka mewakili dari gerakan yin dan yang. Ch’i adalah esensi dari semua kehidupan dan semua eksistensi, yang meliputi kehidupan sebaik bukan kehidupan.  Tanpa ch’i kehidupan tidak ada.[49]

Konsep ch’i juga menolong kita untuk memahami implikasi kosmologi dari Roh Kudus dan kehadiran-Nya secara inklusif di dalam seluruh keberadaan.  Bumi adalah ‘a living organism’ karena ch’i di dasar dan langit adalah hidup karena ch’i ada di udara.  Gambaran Roh Kudus sebagai ch’i membantu kita dalam menegaskan kembali akan ide imanensi atau imanuel ilahi.[50] Dengan kehadiran Roh Kudus di tengah umat-Nya (imanen atau imanuel), maka Roh Kudus memberikan kekuatan dan kuasa kepada kita untuk memberitakan Injil.  Inilah juga yang diyakini dan dinyatakan oleh Peter Lee :

What is of interest now is the point that the Spirit is energy or dynamic power.  Western theology is not short on arguing that the Spirit is power, as wind (the meaning of the Hebrew word for spirit, ruach, or the Greek pneuma) ia an agent of power.  Power to do what?  To accomplish what God wills, as the Book of Acts so well testifies.  That is fine.  Although it is nothing new, the point is emphasized nevertheless that, in theologizing, we must not lose sight of the Holy Spirit as an enabling or energizing power.[51]

DOKTRIN ROH KUDUS MENURUT FIRMAN TUHAN

Istilah  Roh Kudus di dalam Alkitab

Ruakh

Kata roh di dalam Perjanjian Lama berasal dari kata “ruakh”. Kata ini dipakai sebanyak 387 kali di Perjanjian Lama.  Ide dasar dari kata ruakh ini adalah “Angin yang bergerak”.[52] Kata ‘ruakh’ ini dapat berarti ‘roh’ (Bil. 16:22), ‘angin’ (Kej. 8:1; Yes. 7:2; 41:16), ‘nafas hidup’ (Ayub 9:18; Yeh. 37:1-10).  Kata ‘ruakh’ ini dipakai untuk menunjuk kepada Roh Allah (Kej. 1:2; Bil. 11:17, 25; I Raj. 18:12; II Raj. 2:16).  Ruakh juga dapat menunjuk kepada unsur kehidupan di dalam manusia dan binatang (Kej. 6:17: 7:15, 22; Ayub 27:3; Maz. 104:29; Pengk. 3:21; 12:7).  Ruakh semua manusia adalah di dalam tangan Allah (Ayub 12:10; Yes. 42:5) dan digambarkan cepat berlalu/singkat (Ayub 7:7).  Ruakh dapat pula digunakan untuk menunjuk kepada pikiran rasional; berhubungan dengan perasaan, perhatian dan emosi (Kej. 41:8; Hak. 8:3; Ams. 16:32; Pengk. 10:4; Dan. 2:1).  Ruakh juga dapat menunjuk  suatu keberadaan supernatural, rohani dari Allah (I Sam. 16:23).  Ruakh juga dapat menunjuk angin di dalam arti ‘angin sejuk/sepoi-sepoi’ (Kej. 3:8) atau angin yang sangat kencang/kuat (Kel. 10:19; Ayub 1:19; Yes. 32:2; Yer. 4:11; Hos. 8:7).  [53]

Menurut Ferguson, kata ruakh menunjukkan adanya kehadiran energi dan aktitas.  Kata ruakh di sini menunjukkan adanya gerakan udara yang sering diwujudkan sebagai angin yang sangat kuat atau badai, atau di dalam nafas hidup seseorang.  Oleh karena itu, ide yang dominan untuk kata ruakh adalah kekuatan/power.[54]

Menurut Ferguson, ruakh adalah tindakan kekuatan dan energi supernatural Allah di mana melalui ruakh tersebut Allah dapat menciptakan dan menghancurkan.  Ferguson menyatakan :

The results of the activity of ruach are in keeping its nature.  When the ruach Yahweh comes on individuals they are caught up in the thrust of an ‘alien’ energy and exercise unusual powers : the faint are raised into action; exceptional human abilities are demonstrated; ectasy may be experienced.  Yahweh’s ruach is, as it were, the blast of God, the irresistible power by which he accomplishes his purposes, whether creative or destructive.  By his ruach he creates the host of heaven (Ps. 33:6), gives power to judge-saviours like Othniel and Samson (Jdg. 3:10; 14:6), snatches up prophets, lifts them and places them elsewhere (as, for example, Ezk. 3:12, 14; 11:1; cf. 1 Ki. 18:12).  Those who are the subjects of the activity of the divine ruach act in supernatural ways, with supernatural energy and powers.  God’s ruach, therefore, expresses the irresistible force, the all-powerful energy of God in the created order.[55]

Menurut Karkkainen,  Allah sebagai Roh pemberi kehidupan adalah sumber kehidupan dan kekuatan, kata ruakh dapat menunjukkan sebagai kekuatan kehidupan (the life-force) dari seseorang (Hak. 15:19), dan sekelompok orang (Bil. 16:22).  Kekuatan kehidupan itu adalah tidak ada pada berhala-berhala (Yer. 10:14), tetapi dalam Allah (Maz. 33:6) dan di dalam Mesias (Yes. 11:4).  Allah sendiri yang dapat memberikan kekuatan kehidupan (Yes. 42:5) dan menjaganya (Maz. 31:5).[56]

Nepes

Kata Ibrani ‘nepes’ berasal dari kata ‘nafas’ yang berarti ‘bernafas’.  Kata nepes sendiri dapat berarti nafas (Kej. 1:30; 2:7; Ayub 41:21), kehidupan (Kej. 35:18; 37:21; I Raj. 17:21, 22; Maz. 54:3), ciptaan yang hidup (manusia dan binatang).  Dapat pula berarti jiwa, roh, pikiran, pribadi atau individu.  Imamat 17:11 menggambarkan kekuatan/daya hidup, eksistensi sebagai individu :”Karena nyawa (nepes) makhluk ada di dalam darahnya.”  Kehidupan adalah amat berharga (Kel. 21:30; 30:12; II Raj. 10:24). Nepes seseorang dapat meninggal atau berhenti (Hak. 16:30); dapat dibunuh (Bil. 31:19); dicurahkan dengan darah (Yes. 53:12; Rat. 2:12).  Binatang mempunyai nepes (Kej. 1:21, 24; 2:19; 9:10, 12, 15, 16; Im. 11:10).  Manusia tidak hanya memiliki keberadaan secara fisik saja seperti binatang, manusia juga mempunyai roh (ruakh) dan hati (leb).  Manusia telah diciptakan Allah menurut Gambar dan Rupa-Nya dan menjadi obyek kasih Allah.  Kejadian 2:7 nyata bahwa nepes dapat mempertahankan seluruh kehidupan manusia.[57]

Neshamah

Kata Ibrani neshamah berasal dari kata nasam yang berarti ‘menghembuskan nafas’.  Kata neshamah juga dapat berarti ‘tiupan angin/udara’, bernafas, nafas (Kej. 2:7).  Digunakan untuk menunjukkan ciptaan yang hidup (Maz. 18:16; Yes. 30:33) atau keberadaan sesuatu yang hidup (Maz. 150:6).  Digunakan juga menunjuk pada Roh Kudus, yang memberikan kehidupan dan hikmat (Ayub 33:4).[58]

Pneuma

Kata Yunani pneuma berasal dari kata ‘pneo’ yang berarti “bernafas”.  Kata pneuma dapat berarti : (1) nafas, dari mulut atau hidung (II Tes. 2:8); roh kehidupan (Wahyu 11:11); angin (Yoh. 3:8).  (2) nyawa/roh – (a) yang tinggal di dalam Yesus Kristus (Mat. 27:50); di dalam manusia (Kis. 7:59, Stefanus; Wah. 13:15); (b) jiwa rasional, pikiran. (3) Roh Kudus.  Di dalam Perjanjian Baru, kata pneuma menunjuk kepada “Roh Allah”; “Roh Kristus”; disebut Roh Yesus (Kis. 16:7); Roh Kristus (Rom. 8:9; I Pet. 1:11); Roh Yesus Kristus (Fil. 1:19); Roh Tuhan (II Kor. 3:17).  Roh Kudus adalah perwakilan di mana saja sebagai keberadaan dalam hubungan yang dekat/intim dengan Allah Bapa dan Allah Anak; datang kepada semua orang Kristen dan tinggal dengan mereka, diberikan untuk pengetahuan spiritual mereka, bantuan, konsolidasi, pengudusan, dan sebagai penengah untuk mereka (Yoh. 14:17, 26; 15:26; 16:13; Rom. 8:14,16, 26, 27; 14:17; 15:13, 16; II Kor. 1:22; 5:5; Ef. 3:16; 4:30; 6:18; I Tes. 1:6; II Tes. 2:13; I Pet. 1:22); sebagai pemberi wahyu bagi para nabi dan para rasul (Mat. 22:43; Mark12:36; Kis 10:19; 20:23; 21:11; I Tim. 4:1; I Pet.1:11; II Pet. 1:21; Wah. 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22; 14:13; 19:10; 22: 17);  Roh Kudus mengajar, memberikan pencerahan, membimbing orang Kristen di dalam iman dan kehidupan sehari-hari (Mat. 10:20; Mark. 13:11; Luk. 11:13; 12:12; Yoh. 7:39; Rom. 5:5; I Kor. 123; II Kor. 3:3; Gal. 5;5; Tit. 3:5; Ibr. 6:4; I Pet. 4;14).[59]

Di dalam Perjanjian Baru, kata pneuma menunjuk kepada manusia rohani di mana Roh Kudus tinggal di dalamnya (Rom. 8:16), keseluruhan dari hidup seseorang yang membuka dan berespon kepada Allah (Mat. 5:3; Luk. 1:47), daerah kesadaran manusia terhadap hal-hal yang rohani – hati manusia (Mark. 2:8; 8:12; Yoh. 11:33; 13:21; Kis. 17:16).[60]

Gambaran Roh Kudus  di dalam Alkitab

Di dalam bagian ini, gambaran atau metafora Roh Kudus yang akan diuraikan adalah berhubungan dengan konsep ch’i di atas yaitu sebagai nafas dan angin

Nafas kehidupan.

Nafas adalah lambang kehidupan sehingga ini juga menandakan bahwa Roh Kudus adalah sebagai sumber dan penopang kehidupan.  Ayub 32:8 berkata :”Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian”.  Ayub 33:4 berkata, “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.”[61]

Kejadian 2:7 menggambarkan bagaimana Tuhan Allah memberikan nafasnya kepada manusia dan manusia itu menjadi mahkluk hidup.  Kata Ibrani yang dipakai adalah neshamah yang hampir sama dengan kata Ibrani ruakh yang dapat berarti “nafas”, “angin” atau “roh.”  Kata neshamah ini hanya digunakan untuk nafas kehidupan (Kej. 6:17; Yez. 37:5).  Tindakan Allah “menghembuskan” nafas kehidupan kepada manusia merupakan hal yang penting berhubungan dengan Yohanes 20:22, di mana Yesus “menghembusi” para murid-Nya dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.”[62]

Angin

Dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani yang dipakai adalah ruakh yang berarti angin (Kej. 8;1; Bil. 11;31; Yes. 27:8). Sedangkan di dalam perjanjian baru, kata Yunani yang dipakai adalah pneuma yang dapat berarti angin.  Di dalam menjelaskan tentang kelahiran baru kepada Nikodemus, Yesus membandingkan kelahiran baru oleh Roh Kudus dengan angin : “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.  Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:8).  Kelahiran baru merupakan karya kedaulatan Allah yang tidak kelihatan oleh mata; sebagaimana angin yang bertiup, demikian pula kelahiran baru oleh Roh Kudus.  Roh Kudus melakukan “sebagaimana yang dikehendaki-Nya (lihat I Kor. 12:11); tidak ada yang mengaturnya sama dengan tidak ada yang mengatur angin.[63]

Angin menggambarkan aksi yang misterius, tak terlihat, tak terduga, dan dasyat.  Dengan angin sebagai lambing, Alkitab menyatakan bahwa Roh Kudus sebagai Pribadi yang mahakuasa, yang aksi-Nya tidak bisa ditahan oleh apa dan siapa pun juga.  Pada hari Pentakosta, turunnya Roh Kudus atas para murid disertai dengan “suatu bunyi seperti tiupan angina keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk” (Kis. 2:2).[64]

Aksi Roh Kudus yang dilambangkan sebagai angin, membawa manusia ke tempat yang dikehendaki-Nya, seperti yang dinyatakan di dalam Yehezkiel 8:3 “Lalu Roh itu mengangkat aku ke antara langit dan bumi dan membawa aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke Yerusalem..”.  Juga dalam Yehezkiel 11:1 “Lalu Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pintu gerbang Timur dari rumah TUHAN,…”.  Di dalam Kisah Para Rasul 8:39 “Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi.”[65]

Kepribadian Roh Kudus

Roh Kudus adalah Allah yang memiliki pribadi.  Seperti Allah (termasuk Allah Roh Kudus) menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, – di mana manusia memiliki kepribadian-, maka Roh Kudus pun memiliki kepribadian atau seorang pribadi.[66]

Akal budi. Roh Kudus memiliki akal budi karena “Roh Kudus menyelidiki segala sesuatu” (I Kor. 2:0).  Roh Kudus meneliti kedalaman dari Allah dan menyatakannya kepada orang percaya.[67]

Pengetahuan/pikiran. Karena Ia mahatahu, maka Ia mengetahui segalanya (Rom. 8:27).  Karena Ia mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan Allah secara sempurna, maka Ia pasti juga adalah Allah, karena hanya Allah yang dapat mengetahui Allah secara sempurna.  Roh Kudus juga memberikan ‘pencerahan’ (penjelasan) di dalam penyataan ilahi, inspirasi dan iluminasi (I Kor. 2:10-11).[68]

Emosi. Roh Kudus memiliki perasaan, kesadaran dan kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap sesuatu.  Efesus 4:30 menyatakan :”janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah.”  Konteksnya adalah menekankan bahwa Roh Kudus didukacitakan pada waktu orang percaya berdosa dengan berdusta (ayat 25), marah (26), mencuri dan malas (28), atau mengucapkan kata-kata yang tidak baik (29). [69]

Kehendak.  Roh Kudus memiliki kehendak yaitu memiliki kuasa untuk berdaulat dalam pemilihan dan keputusan.  Roh Kudus memberikan karunia-karunia-Nya menurut kehendak-Nya.  Di Kisah Para Rasul 16:6, Roh Kudus menggunakan kehendak-Nya dengan melarang Rasul Paulus untuk melayani di Asia dan mengarahkan pelayanannya ke Eropa.[70]

Karya Roh Kudus sebagai Pribadi

Mengajar.  Yesus mengirimkan Roh Kudus kepada para murid-Nya untuk mengajarkan mereka (Yoh. 14;26).  Roh Kudus akan melakukan pengajaran yang sama dengan Kristus.  Roh Kudus juga akan mengingatkan hal-hal yang telah Kristus ajarkan kepada murid-murid-Nya.[71]

Bersaksi. Roh Kudus akan bersaksi tentang Kristus dan pengajaran-Nya; sebagaimana para murid Kristus bersaksi tentang Kristus demikian juga Roh Kudus bersaksi tentang Kristus (Yoh. 15:26-27).[72]

Membimbing. Yesus menyatakan bahwa pada waktu Roh Kudus datang, Ia akan membimbing para murid pada semua kebenaran (Yoh. 16:13).  Roh Kudus akan menjadi seperti seorang pemandu atau pemimpin perjalanan menuju wilayah asing bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan, tetapi dikenal oleh pemandu tersebut.[73]

Meyakinkan. “Meyakinkan” (Yunani elegcho) berarti “meyakinkan seseorang akan sesuatu; menunjukkan sesuatu pada seseorang.”  Roh Kudus sebagai pengacara yang meyakinkan dunia tentang dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8).[74]

Melahirbarukan. Seseorang yang mengalami kelahiran baru telah dilahirkan oleh Roh Kudus; ia telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus (Yoh. 3:5-6).  Yesus Kristus memberikan hidup kepada orang percaya (Yoh. 5;21), Roh Kudus juga melahirbarukan manusia (lihat Yeh. 36:25-27; Tit. 3:4).[75]

Menjadi pendoa syafaat. Roh Kudus berdoa untuk orang percaya pada saat mereka lemah; Roh Kudus menyerukan akan keluhan orang percaya dan berdoa atas nama orang percaya (Rom. 8:26).  Allah Bapa mengerti doa syafaat Roh Kudus dan menjawab doa dan bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan hidup orang percaya (Rom. 8:28).[76]

Memerintah. Di dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus memerintahkan Paulus dan Barnabas dikhususkan bagi pekerjaan misi (Kis. 13:2) dan mengutus mereka (Kis. 13:4); Roh Kudus melarang Paulus dan Silas untuk berkhotbah di Asia (Kis. 16:6); Roh Kudus mengarahkan Filipus untuk berbicara pada sida-sida dari Etiopia (Kis. 8:29).[77]

Tindakan-tindakan yang Ditujukan Pada Roh Kudus

Didukakan. Roh Kudus dapat didukakan pada waktu orang percaya berdosa (Ef. 4:30).[78]

Dihujat. Penghujatan biasanya dipkirkan sebagai sesuatu yang melawan Allah Bapa (lihat Wah. 13:6; 16:9).  Kristus juga dihujat (Mat. 27:39; Luk. 23:39); demikian juga Roh Kudus dihujat (Mat. 12:32; Mark. 3:29, 30).  Penghujatan melawan Roh Kudus adalah pada saat karya Kristus disebut berasal dari Setan, padahal pada waktu itu Roh Kudus telah memberikan kesaksian tentang pekerjaan Kristus berasal dari Allah Bapa.[79]

Ditolak. Dalam pembicaraannya melawan ketidakpercayaan orang Yahudi yang akhirnya merajam dia dengan batu sampai mati, Stefanus menuduh mereka sebagai orang yang “keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga; kamu selalu menentang (menolak) Roh Kudus…” (Kis. 7:51).[80]

Didustai. Pada waktu Rasul Petrus menghadapkan Ananias dan Safira berkaitan dengan penipuan mereka, ia menuduh mereka telah mendustai Roh Kudus (Kis. 5:3) dan Ananias dan Safira pun dihukum mati karena mereka telah berdosa yaitu mendustai Roh Kudus.[81]

Ditaati. Roh Kudus memberikan perintah kepada Rasul Petrus untuk mendampingi dua orang pergi ke rumah Kornelius di mana kebenaran akan menjadi terbukti terhadap orang non-Yahudi.  Rasul Petrus taat akan perintah Roh Kudus dan pergi ke rumah Kornelius di Kaisarea.[82]

Dipadamkan. Di dalam I Tesalonika 5:19, Rasul Paulus memberikan nasehat supaya “janganlah memadamkan Roh.”  Konsep ‘memadamkan’ ini didasarkan atas gambaran Roh Kudus sebagai ‘api’.  Seperti api yang tinggal di dalam setiap orang percaya, Roh Kudus harus dinyatakan dalam sikap dan tindakan kita sebagai orang percaya.[83]

Keilahian Roh Kudus

Memiliki Sebutan Ilahi. Roh Kudus disebut juga sebagai “Roh Allah” (I Kor. 2:11; 3:16; Kej. 1:2) dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sejati.[84] Disebut juga sebagai Roh Tuhan Allah (Yes. 61:1); Roh Tuhan (Luk. 4:18); Roh Tuhan kita (I Kor. 6:11); Roh Allah yang hidup (II Kor. 3:3); Roh TUHAN/Yahweh (Hak. 3:10); Roh-Nya (Bil. 11:29); Roh Bapa-mu (Mat. 10:20).[85]

Hidup. Roh Kudus hidup karena Dia memberikan kehidupan (Rom. 8:2) seperti Kristus yang adalah hidup (Yoh. 1:4; 15:6; I Tim. 3:15).[86]

Mahatahu.  Roh manusia mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan manusia dan Roh Kudus mengetahui tentang Allah.  Roh Kudus menyelidiki “hal-hal yang tersembunyi” dari Allah (I Kor. 2:10); “hal-hal yang tersembunyi” (Yunani bathos) digunakan dalam kaitan dengan pengetahuan manusia.  Inilah yang tidak dapat dipahami oleh manusia, tetapi Roh Kudus mengetahui hal-hal yang tidak dapat dipahami dan diselidiki oleh manusia karena Dia adalah Allah (Rom. 11:33).[87]

Mahahadir.  Daud menyatakan bahwa ia tidak dapat lari dari hadapan Roh Allah (Roh Kudus); apabila ia “mendaki ke langit”, Ia ada di sana; apabila ia “menaruh tempat tidur di dunia orang mati”; Roh Kudus pun ada di sana.  Bahkan kalau ia dapat terbang jauh, ia tdak dapat lari dari kehadiran Roh Kudus (Maz. 139:7-10).  Di dalam Yohanes 14:17, Yesus mengajarkan bahwa Roh Kudus akan menyertai dan diam di dalam diri murid-murid-Nya.[88]

Kekal. Di dalam Ibrani 9:14, Roh Kudus disebut sebagai Roh yang Kekal.[89]

Kekudusan. Salah satu aspek penting dari keilahian Roh Kudus adalah kekudusan-Nya, sama seperti Allah yang adalah kudus.  Hal ini terlebih lagi dengan sebuatan-Nya sebagai Roh yang Kudus.[90]

Kasih. Roh Kudus adalah kasih dan menghasilkan kasih di dalam diri anak Allah yaitu sebagai salah satu dari buah-buah Roh Kudus (Gal. 5:22-23).  Apabila Ia tidak memiliki kasih, maka Ia tidak dapat menghasilkan kasih di dalam diri orang percaya. [91] Rasul Paulus juga menekankan untuk bergumul di dalam doa demi kasih Roh (Rom. 15:30).[92]

Kebenaran. Roh Kudus disebut sebagai “Roh Kebenaran” (Yoh. 14:17; 15:26) yang memimpin orang-orang kepada kebenaran melalui Kitab Suci.[93]

Mulia. Rasul Petrus menasehatkan supaya jemaat Tuhan tetap berbahagia walaupun mereka menderita karena mereka memiliki “Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”[94]

Kasih Karunia. Allah memberikan anugerah-Nya untuk orang-orang berdosa.  Tuhan Yesus penuh dengan anugerah (Yoh. 1:14), demikian pula dengan Roh Kudus, karena itu Ia diidentifikasikan sebagai Roh kasih karunia (Ibr. 10:29).[95]

Hikmat. Sebagaimana Allah adalah sumber hikmat (Rom. 11:33), Rasul Paulus juga mengidentifikasikan Roh Kudus sebagai “Roh hikmat dan wahyu” (Ef. 1:17).[96]

Karya Roh Kudus Sebagai Allah

Penciptaan. Di dalam Kejadian 1:2 menunjukkan bahwa Roh Allah terlibat di dalam penciptaan.  Di dalam Mazmur 104:24-26, pemazmur menjabarkan tentang penciptaan dan dalam Mazmur 104:30 pemazmur mengindikasikan bagaimana Allah menciptakan :”Apabila Engkau mengirimkan roh-Mu, mereka tercipta.”  Roh Kudus (nafas-Nya) bukan hanya menciptakan bumi tetapi juga langit (Ayub 26:13).[97]

Kelahiran Kristus Yesus. Keterlibatan Roh Kudus dalam kehamilan Maria memastikan ketidakberdosaan Kristus Yesus sebagai manusia (Mat. 1:20).[98]

Inspirasi Kitab Suci. Roh Kudus memberikan inspirasi (“dorongan”) bagi para penulis Kitab Suci (para nabi dan rasul) untuk menuliskan Firman-Nya  (II Pet. 1:21; lihat juga II Tim. 3;16).[99]

Regenerasi. Roh Kudus memberikan dan menyebabkan kelahiran baru melalui “Firman Allah yang hidup dan yang kekal” (I Pet. 1:23).[100]

Perantara. Roh Kudus adalah perantara khusus umat Tuhan ketika sedang bergumul dan menaikkan keluhan-keluhan umat Allah yang kemudian disampaikan oleh Roh Kudus kepada Allah Bapa (Rom. 8:26).[101]

Pengudusan. Roh Kudus menguduskan orang yang berdosa untuk diselamatkan (II Tes. 2:13).[102]

Penolong orang-orang kudus/percaya. Di dalam Yohanes 14:16, Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya untuk memberikan “seorang Penolong yang lain”.  Kata ‘Penolong’ (Yunani parakleton) berasal dari dua kata, “berjalan di samping” dan “dipanggil”, jadi yang dimaksud dengan ‘Penolong’ adalah “seseorang yang dipanggil untuk berjalan di samping untuk menolong.”[103]

TINJAUAN TERHADAP CH’I SEBAGAI ROH KUDUS MENURUT FIRMAN TUHAN

Nafas adalah ciptaan Allah

Para sarjana yang menyatakan bahwa ch’i adalah nafas Allah yang juga kemudian dinyatakan sebagai Roh Allah, jelas tidaklah benar.  Walaupun nafas/roh manusia berasal dari Allah, yaitu dengan cara dihembuskan oleh Allah (Kej. 2:7), tidak berarti bahwa nafas atau roh yang ada di dalam diri manusia adalah Roh Allah.  Jika benar roh yang ada di dalam diri manusia adalah Allah, maka manusia juga adalah Allah.  Dan ini tidaklah benar.

Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26) artinya Allah menciptakan manusia menurut sifat dan karakteristik dari Allah.  Allah menciptakan manusia secara khusus – berbeda dengan ciptaan lainnya yang hanya dengan berfirman -, manusia diciptakan Allah dengan menghembuskan ‘nafas-Nya’ karena Allah rindu manusia dapat berhubungan dengan-Nya secara rohani.  Karena manusia memiliki roh yang berasal dari Allah, maka manusia dapat berhubungan dengan-Nya secara rohani.  Manusia rindu untuk mengenal dan menyembah-Nya.  Walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa, hubungan telah rusak; keinginan untuk mencari dan mengenal Allah tidaklah surut.  Ini dapat kita baca dari Roma 1:20 yang menyatakan bahwa sebenarnya manusia dapat mengenal Allah melalui “kekuatan dan keilahian-Nya” yang nampak dari ciptaan-Nya, hanya saja manusia tidak mau mengakuinya dan menindas pengetahuan tersebut dan menggantinya dengan menyembah ciptaan-Nya.  Baru setelah Kristus datang, hubungan ini dipulihkan dan manusia kembali dapat mengenal Allah dan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24).

Jika dikatakan di dalam nafas Allah itu ada kekuatan yang menghidupkan itu adalah benar.  Manusia yang berasal dari debu tanah dapat hidup karena ada kekuatan dan kuasa dari Allah yang menghidupkan.  Allah adalah sumber kehidupan dan hanya Allah saja yang dapat memberikan kehidupan kepada siapa pun.  Ini dapat kita membaca di dalam kitab Injil-injil bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh. 11:43-44), anak muda di Nain (Luk. 7:11-17), dan anak Yairus (Luk. 8:54-56).

Walaupun demikian bukan berarti kekuatan yang menghidupkan ini adalah Roh Allah.  Ini adalah ciptaan Allah.  Ketika Allah menciptakan manusia yang hidup, itu berarti roh manusia itu pun adalah ciptaan Allah dan bukan Allah sendiri.  Dengan demikian, pemahaman ch’i yang berada di dalam hidup seseorang adalah roh orang tersebut dan bukanlah Roh Kudus.

Roh Kudus dapat tinggal di dalam diri seseorang jika orang tersebut percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.  Dan pada saat itulah kita dimeteraikan oleh Roh Kudus dan Roh Kudus menjadi jaminan kita untuk mendapatkan hidup yang kekal (Ef. 1:13-14).  Roh Kudus yang ada di dalam diri kita bukanlah roh kita ataupun nafas kita.  Dia tetap Roh Kudus yang memimpin dan membimbing kita untuk hidup menyenangkan Allah dengan menghasilkan buah-buah Roh Kudus jika kita mengizinkan-Nya memenuhi hidup kita.

Roh Kudus memiliki pribadi, sedangkan ch’i tidak

Dari apa yang telah diuraikan di atas baik tentang ch’i maupun Roh Kudus, kita dapat melihat adanya perbedaan yang mendasar sekali.  Perbedaan tersebut adalah ch’i digambarkan tidak memiliki pribadi dan bagaimana serta siapakah ch’i tersebut tidaklah diketahui.  Yang ada hanyalah apakah ch’i tersebut.  Memang ch’i dapat berarti ‘roh’, ‘Roh Kosmis’ atau ‘jiwa’; tetapi tidaklah dijelaskan tentang siapakah roh atau jiwa tersebut.

Ch’i lebih dikenal dan dipahami sebagai ‘angin’ atau ‘roh’ yang memberikan kekuatan bagi mereka yang mempercayainya.  Hal ini jelas terlihat dari praktek ch’i yang dilakukan oleh para penganutnya baik dari segi pengobatan, feng shui maupun ilmu bela diri.  Ch’i hanyalah dianggap sebagai kekuatan, energi yang memberikan kekuatan dan keberuntungan bagi mereka yang dapat ‘mengolahnya’ dengan baik.

Selain itu, jika ch’i dapat dikendalikan oleh manusia, tentu ch’i tersebut bukanlah Allah.  Karena Allah yang seharusnya mengendalikan manusia dan bukan manusia yang mengendalikan Allah – jika memang benar ch’i tersebut adalah Roh Allah atau Roh Kudus.

Berbeda dengan pemahaman ch’i, Roh Kudus adalah Allah yang memiliki pribadi.  Roh Kudus adalah Allah yang turut menciptakan manusia yang memiliki pribadi.  Karena Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan-Nya, maka Allah pasti juga memiliki pribadi.  Roh Kudus memiliki kehendak, perasaan, pikiran dan memiliki hikmat untuk memutuskan sesuatu.   Inilah perbedaan yang sangat mendasar sekali dari konsep ch’i yang ada di dalam agama Tao dengan Roh Kudus di dalam pengajaran Kristen.

Roh Kudus adalah Roh Yang Imanen tetapi tidak menyatu dengan alam

Melihat pemahaman yin dan yang di dalam agama Tao atau dalam konteks Asia Timur, maka yang menjadi dasarnya adalah kosmoslogi di mana alam ini adalah makrokosmos dan manusia itu sendiri adalah mikrokosmos.  Manusia akan menemukan Tao jika sudah menyatu dengan alam.  Dari pemahaman ini kita dapat melihat bahwa titik berangkat untuk ‘mengkontekstualisasi’ ch’i sebagai Roh Kudus sudah tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Dalam hal ini nyata sekali bahwa filsafat Tao/yin yang adalah suatu jalan agama/kepercayaan yang mempercayai bahwa “alam itu allah dan allah itu alam.”  Dengan demikian keberadaan Allah sebagai pencipta berpribadi ditolak dan perbedaan Allah-manusia sebagai Pencipta-Ciptaan juga ditolak karena pada hakekatnya “Allah sama dengan manusia dan manusia adalah allah”.  Alkitab dengan sangat jelas sekali menyatakan bahwa adanya perbedaan antara Allah dan manusia.  Allah adalah sang Pencipta dan manusia adalah ciptaan.  Demikian juga dengan alam.  Allah adalah pencipta dari alam semesta ini.  Jelas bahwa adanya perbedaan dan keterpisahan antara Allah dan ciptaan-Nya[104].  Dalam hal ini Pratt menyatakan :

Apabila kita coba mengamati Kejadian 1:1, maka kita dapat melihat bahwa aktivitas penciptaan terdiri dari dua pembagian.  Di satu pihak kita melihat seseorang yang menciptakan, dan di pihak lain kita melihat ciptaan yang Dia ciptakan.  Akibatnya kita dapat melihat garis pemisah atau perbedaan yang tercipta antara Allah sebagai pencipta dengan ciptaan Allah.  Kita akan sebut ini sebagai “perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan.”[105]

Konsep imanen yang di dalam filsafat Tao berbeda dengan pengajaran Kristen.  Di dalam pemahaman ketuhanan sebagai sebuah konsep kovenan[106], Allah adalah kepala kovenan yang terlibat secara mendalam dengan umat-Nya (ciptaan-Nya).  Hanya saja di dalam sejarah umat manusia, terjadi kesalahan pemahaman akan konsep imanensi Allah.  Konsep imanensi Allah yang diartikan, Allah tidak dapat dibedakan dari dunia.  Ketika Allah memasuki dunia, maka Dia menjadi sangat “duniawi” sehingga tidak dapat ditemukan[107]dan dikenal sebagai Allah yang benar.  Allah begitu dekat dengan dunia sehingga Dia tidak dapat dipisahkan dari dunia (imanen), maka kita tidak mengenal Allah dengan benar.  Atau kita dapat “mengenal”-Nya yaitu melalui akal kita semata atau melalui intuisi kita.  Tetapi Allah yang dikenal melalui metode ini bukanlah Allah yang menyatakan diri melalui Kitab Suci sehingga Allah yang demikian adalah Allah ciptaan manusia yang tunduk kepada kendali, pengetahuan dan kriteria manusia sendiri.[108]

Filsafat Tao yang merupakan paham pantheisme merupakan salah satu paham non-Kristen yang salah memahami akan konsep imanensi Allah.  Allah yang begitu dekat dan sangat dekat sehingga akhirnya tidak ada lagi perbedaan antara Allah dengan ciptaan-Nya.  Allah menjadi sama dengan ciptaan (alam) dan alam adalah Allah itu sendiri.  Mereka tahu bahwa Allah itu ada tetapi ketika pemahaman mereka memakai “intuisi” – yaitu konsep pemahaman orang Cina Kuno terhadap alam sekitarnya -, tetapi menghasilkan pemahaman akan Allah yang tidak benar karena bukan berasal dari Kitab Suci sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan akan Allah yang benar.

Oleh karena itu, tepat sekali yang dikatakan oleh Ferguson :

‘Spirit’ came to be thought of in immanent but non-personal terms.  A kind of Unitarian immanence theology was the result : the Spirit is God identifying himself with the world.  The panentheism characteristic of later process theology is one expression of this : in God as Spirit we live and move and have our being.  He is not far from any of us; his experience and ours are inextricably linked and mutually interdependent.[109]

Apakah chi tepat sebagai usaha kontekstualisasi Roh Kudus?

Pertanyaan di atas patut kita ajukan di tengah pergumulan teologi di dalam konteks masing-masing.  Kontekstualisasi sangat perlu dan penting yaitu untuk menyatakan kebenaran Firman Tuhan sesuai dengan konteksnya.  Ha ini bertujuan supaya kebenaran Firman Tuhan tersebut dapat dipahami lebih baik, menjadi milik konteks tersebut dan bukan hanya milik konteks Barat di mana kekristenan tumbuh dan berkembang ataupun konteks ‘lampau’ di mana Alkitab itu dicatat.

Walaupun demikian, yang harus kita pikirkan di dalam upaya kontekstualisasi ini adalah istilah-istilah yang dipakai dan pemahaman yang diberikan terhadapnya serta pandangan dunia di belakangnya.  Di dalam upaya kontekstualisasi kita dapat memakai istilah yang berasal dari konteks tersebut – dalam hal ini adalah istilah ch’i.  Hanya saja perlu kita pertimbangkan adalah apakah ada konsep-konsep di balik ch’i tersebut yang menjadi ‘gangguan’ di dalam kita menyampaikan pengajaran Roh Kudus kepada para penganut Tao atau pun di Asia Timur yang telah memiliki konsep yang berbeda dengan konsep Roh Kudus yang berasal dari Firman Tuhan?

Oleh karena itu, di dalam pemakaian istilah-istilah, kita harus memberikan definisi yang telah ‘dibaharui’ sesuai dengan Firman Tuhan.  Pembaruan definisi istilah ini tidaklah langsung mengubah semuanya, tetap kita harus membangun definisi yang diperbarui tersebut di atas budaya dan pengenalan mereka sebelumnya.  Hanya saja kita harus mencari ‘jembatan’ di mana kita dapat menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan secara benar.

Misalnya saja ch’i yang dipahami sebagai nafas, jiwa, roh atau pun Roh Kosmis, ini sudah menjadi dasar untuk kita memberikan definisi yang diperbarui yaitu dengan ‘melengkapinya’ dengan ‘kepribadian’ dari Roh Kudus dan bukan secara mentah-mentah menggantinya.  Jika secara ‘mentah-mentah’ kita menggantinya, kita akan terjebak di dalam pemahaman yang salah.  Roh Kudus hanyalah dipahami sebagai energi atau pun kuasa; seperti konsep ch’i yang telah dipraktekkan sekarang ini.

Dalam hal ini, Hesselgrave menyatakan :

Jika isi berita misionari akan dikontekstualisasikan, kita harus memberikan perhatian pada definisi-definisi.  Akan segera nampak bahwa konsep-konsep fundamental Kristen dapat dengan mudah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Tionghoa – konsep-konsep tentang Allah, surga, hukum, tugas, hak, roh-roh, jiwa, pengorbanan, dan seterusnya.  Tetapi, komunikasi misionari dapat diruntuhkan demikian juga dibangun di atas dasar itu.  Misalnya, ambillah istilah Tao.  Terjemahan bahasa Tionghoa dari pernyataan Kristus di dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan” adalah “Akulah Tao.”  Sekarang pikirkan kembali tentang apa yang sudah dikatakan tentang Tao di dalam konteks pandangan dunia Tionghoa.  Konsep apa yang dapat menjadi jembatan yang lebih baik ke pemahaman tradisional Tionghoa?  Dan apa yang dapat dipenuhi dengan lebih banyak potensi untuk perumusan kembali dan kesalahpahaman terlepas dari definisi dan cukup penjelasan?[110]

Oleh karena itu, penulis setuju jika ada usaha kontekstualisasi ch’i sebagai Roh Kudus.  Hanya saja penulis melihat penting untuk melakukan ‘perumusan kembali’ terhadap definisi-definisi yang berkaitan dengan ch’i tersebut.  Dengan demikian, berita yang hendak disampaikan yaitu Roh Kudus dapat dipahami dengan benar sesuai dengan Firman Tuhan.

KESIMPULAN DAN APLIKASI

Kesimpulan

Pertama, usaha ber’pneumatologi’ di dalam konteks Asia adalah usaha yang benar dan harus dilakukan supaya teologi yang dibangun tidak lagi ‘berbau’ Barat tetapi sudah ‘berbau’ Asia.

Kedua, usaha ber’pneumatologi’ dalam konteks Asia sangat penting mengingat karakteristik Asia yang memiliki keanekaragaman atau pluralistik di dalamnya; adanya bermacam-macam budaya, agama/kepercayaan, kebiasaan, tradisi, suku bangsa dan cara berpikir.  Untuk itu, Kekristenan yang berada di tengah-tengah konteks seperti ini harus benar-benar ‘menyelam’ ke dalamnya sehingga Kekristenan pun menjadi milik Asia dan bukan Barat saja.  Hanya saja harus ditekankan akan keunikan dari doktrin Kristen terhadap agama-agama lainnya.

Ketiga, di dalam usaha ‘berpneumatologi’, kita harus berhati-hati di dalam penggunaan istilah-istilah karena hal ini berkaitan dengan pandangan dunia yang ada dibalik istilah tersebut.  Istilah-istilah yang dipakai hendaknya ‘dirumuskan kembali’ sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Keempat, terjadi perbedaan yang mendasar antara ch’i di dalam agama atau filsafat Tao dengan Roh Kudus di dalam pengajaran Firman Tuhan.  Ch’i tidak berpribadi, tetapi Roh Kudus adalah Allah yang memiliki pribadi.

Kelima, di dalam pemahaman ch’i sebagai nafas manusia, ch’i bukanlah Roh Allah tetapi ciptaan Allah; satu ‘paket’ dengan penciptaan manusia.

Kelima, jika ch’i dapat dikendalikan dan diolah oleh manusia, maka ch’i bukanlah Allah karena Allah tidak dapat dikendalikan oleh manusia.  Yang benar adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh atas manusia sebagai ciptaan-Nya.

Aplikasi

Sebagai aplikasinya, kita harus berhati-hati di dalam menanggapi pengajaran-pengajaran seperti ini.  Terlebih lagi di dalam aplikasi di dalam kehidupan sehari hari.  Jika kita menerima ch’i sebagai Roh Kudus dengan salah, maka tidak masalah jika kita melakukan praktek-praktek ch’i tersebut.  Yang penting bagi kita adalah menyadari bahwa Roh Kudus berpribadi dan dekat dengan kita sebagai umat-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Ching, Julia. Chinese Religions. Maryknoll : Orbis Books, 1993

Demarest, Bruce and Gordon Lewis, Integrative Theology Volume One. Grand Rapids :

Academie Books, 1987

Dunn, James D.G. The Christ & The Spirit Volume 2 : Pneumatology. Grand Rapids : William

B. Eerdmans, 1998

Enns, Paul. Buku Pegangan Teologi. Malang : SAAT, 2003

Ferguson, Sinclair B. The Holy Spirit. Downers Grove : InterVarsity Press, 1996

Frame, John M.  Doktrin Pengetahuan Tentang Allah Jilid 1. Malang : SAAT, 2004

_____________ Cornelius Van Til : Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya. Surabaya :

Momentum, 2002.

Gromacki, Robert . The Holy Spirit. Nashville : Word Pub., 1999

Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru. Bandung : Kalam Hidup, 1990

_______, Hongsui – Antara Tahyul dan Iman Kristiani. Bandung : Yabina, 1996

_______, Tenaga Dalam dan Penyembuhan Holistik – Tinjauan Iman Kristen. Bandung :

Yabina, 1999

Hesselgrave, David. Mengomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya . Malang : SAAT, 2005

Kamus Besar China – Indonesia. Beijing : Pustaka Bahasa Asing, 1995

Karkkainen, Veli-Matti. Pneumatology. Grand Rapids : Baker Book Academic, 2002

Kwek, J.S. Mitologi China & Kisah Alkitab. Yogyakarta : ANDI, 2006

Lee, Jung Young. di dalam buku The Trinity in Asian Perspective. Nashville : Abingdon Press,

1996.

Lee, Peter K.H. Dancing, Ch’i, and the Holy Spirit di dalam buku Frontiers in Asian Christian

Theology. Ed. R.S. Sugirtharajah; Maryknoll : Orbis Books, 1994

Packer. J.I. Knowing God. Downers Grove : InterVarsity, 1993

Pang, Choong Chee. ‘Taoism’ dalam buku A Dictionary of Asian Christianity. Ed. Scott W.

Sunquist; Grand Rapids : William B. Eerdmans, 2001

Payne, J. Barton. “Ruah” di dalam Theological Wordbook of the Old Testament. Ed. R. Laird

Harris, Gleason L.Archer, Jr, Bruce K. Waltke; Chicago : Moody Press, 1980

Rossbach, Sarah. Feng Shui. London : Rider, 1984

Simpkins, C. Alexander dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah.

Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, 2004

_______________________________________, Simple Taoisme – Tuntunan Hidup Dalam

Keseimbangan. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer, 2000

Skinner, Stephen. Feng Shui. Semarang : Dahara Prize, 2002

Sudharma, Erick. Mengenal Sang Penghibur. Bandung : Mitra Pustaka, 2005

The Hebrew-Greek Key Study Bible. Ed. Spiros Zodhiates; Chattanooga : AMG, 1996

Wang, Samuel dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala. Glendale : Pan

Asean Foundation, 2003

Wing, R.L. Tao Kekuatan – Tao Te Ching. Jakarta : Elex Media Komputindo, 1994

Yun, D.C. Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions. Ed. Keith Crim;

Nashville : Abingdon, 1981

Jurnal

Mah, Yeow-Beng. “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004

internet

http://en.wikipedia.org/wiki/Qi


[1] Lihat buku Wayne Grudem, Bible Doctrine (Grand Rapids : Zondervan, 1999); Alister McGrath, Christian Theology – An Introduction (Oxford : Blackwell, 1997); Louis Berkhof di dalam Teologi Sistematikanya hanya ada dokrin Allah, Manusia, Kristus, Keselamatan, Gereja dan Akhir Zaman.  Doktrin Roh Kudus kalau pun ada hanya mendapatkan bagian yang sedikit sekali.

[2] J.I. Packer menyatakan :”It is startling to see how differently the biblical teaching about the second and third persons of the Trinity respectively is treated.  The person and work of Christ have been, and remain, subjects of constant debate within the chuch; yet the person and work of the Holy Spirit are largely ignored.  The doctrine of the Holy Spirit is the Cinderella of Christian doctrines.  Comparatively few seem to be interested in it.” [Knowing God (Downers Grove : InterVarsity, 1993), 68.

[3] Veli-Matti Karkkainen, Pneumatology (Grand Rapids : Baker Book Academic, 2002), 11-12

[4] Ibid, 14

[5] Kontekstualisasi adalah “usaha untuk mengomunikasikan karya-karya, perkataan, dan kehendak Allah dalam cara yang setia kepada penyataan Allah, khususnya pada waktu hal ini dikeluarkan di dalam ajaran-ajaran Kitab Suci, dan yang penuh arti bagi responden-responden di dalam konteks kultural dan eksistensial mereka masing-masing.  Kontekstualisasi itu bersifat verbal maupun non verbal dan ada hubungannya dengan berteologi; penerjemahan, penafsiran dan penerapan Alkitab; gaya hidup inkarnasional; penginjilan; pengajaran Kristen; penanaman dan pertumbuhan gereja; organisasi gereja; gaya penyembahan – sungguh dengan semua aktivitas-aktivitas yang termasuk dalam melaksanakan Amanat Agung.” [David Hesselgrave, Mengomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya (Malang : SAAT, 2005), 138-139].

[6] Asia adalah benua yang luar biasa yang terdiri dari negara-negara yang berbeda secara budaya dan suku bangsa serta beberapa agama-agama yang berbeda seperti Hindu, Budha, Konfusius, Tao, Sinto, Shaman, Kristen, Islam dan Yudaisme.  Bahkan agama-agama tersebut lahir dan berkembang di dalam konteks Asia sendiri. [Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, (Nashville : Abingdon Press, 1996, 17]

[7] Ibid

[8] Ibid, 24

[9] Julia Ching, Chinese Religions (Maryknoll : Orbis Books, 1993), 102

[10] Jung Young Lee di dalam buku The Trinity in Asian Perspective;  J.S. Kwek, Mitologi China & Kisah Alkitab (Yogyakarta : ANDI, 2006);  Peter K.H. Lee, Dancing, Ch’i, and the Holy Spirit di dalam buku Frontiers in Asian Christian Theology (Ed. R.S. Sugirtharajah; Maryknoll : Orbis Books, 1994); Samuel Wang dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala (Glendale : Pan Asean Foundation, 2003)

[11] Yeow-Beng Mah, “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004, 344

[12] Kamus Besar China – Indonesia (Beijing : Pustaka Bahasa Asing, 1995), 673

[13] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah (Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, 2004), 106

[14] Stephen Skinner, Feng Shui (Semarang : Dahara Prize, 2002), 39

[15] http://en.wikipedia.org/wiki/Qi

[16] Sarah Rossbach, Feng Shui (London : Rider, 1984), 23

[17] Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, 96

[18] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao, 109-111

[19] Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Bandung : Kalam Hidup, 1990), 70

[20] Ibid, 131-132

[21] Ibid, 135-136

[22] Meridian adalah jaringan yang menghubungkan bersama semua substansi dan organ, di dalam maupun di luar, dengan mengedarkan chi dan darah.   Meridian tidak terlihat seperti pembuluh darah atau arteri tetapi menyerupai aliran energi. (Ibid, 136-137)

[23] Ibid, 153

[24] Herlianto, Tenaga Dalam dan Penyembuhan Holistik – Tinjauan Iman Kristen (Bandung : Yabina, 1999), 56

[25] Taoisme didirikan oleh Lao-tzu (lahir 604 SM), seorang yang bekerja sebagai juru arsip di perpustakaan kerajaan.  Setelah beberapa tahun bekerja, Lao-tzu merasa kecewa dengan merajalelanya korupsi di sekelilingnya.  Dia memutuskan pergi dan meninggalkan pekerjaannya.  Sebelum melewati pintu gerbang Barat-laut, seorang penjaga meminta Lao-tzu untuk menuliskan ajaran-ajarannya.  Lao-tzu kemudian menuliskan ajaran-ajarannya yang berbentuk syair – yang kemudian diberi nama Tao Te Ching[25].  Penjaga gerbang tersebut kemudian tersentuh hatinya dan mengikuti Lao-tzu ke mana pun dia pergi.  Lao-tzu menghilang dan tidak pernah ditemukan. [C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah, 17-18]

[26] D.C. Yun, Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions (Ed. Keith Crim; Nashville : Abingdon, 1981), 738

[27] Ibid, 742

[28] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah, 29

[29] Ibid, 32-33

[30] Terjemahan lainnya :”The Tao gives birth to One; One gives to Two; Two gives birth to Three; Three gives birth to the myriad things.” (Julia Ching, Chinese Religions, 114). “Tao itu ada sebagai satu.  Satu itu ada sebagai dua.  Dua itu ada sebagai tiga.  Dan tiga itu menciptakan segalanya.”.  [Samuel Wang dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala, 72]

[31] Choong Chee Pang, ‘Taoism’ dalam buku A Dictionary of Asian Christianity (Ed. Scott W. Sunquist; Grand Rapids : William B. Eerdmans, 2001), 820.  Julia Ching berpendapat bahwa pasal 42 dari Tao Te Ching ini menunjukkan adanya Allah yang disembah oleh para penganut Tao yang dikenal sebagai ‘Three Pure Ones’ (San-ch’ing/Sanqing), yang adalah Tuhan dari Tiga Prinsip Kehidupan (Three Life-principles) atau ‘nafas’ (ch’i). Nama-nama mereka adalah ‘the Primal Celestial One (Yuan-shih t’ien-tsun/Yuanshi tianzun), ‘the Precious Celestial One’ (Ling-pao t’ien-tsun/Lingbao tianzun), dan ‘the Way-and-Its-Power Celestial One (Tao-te t’ien-tsun/Daode tianzun).  Ching juga memperbandingkan ‘Tiga Tuhan” Tao ini dengan Allah Tritunggal (Kristen) yaitu ‘the Primal Celestial One, yang mengendalikan masa lampau, lebih menyerupai Allah Bapa; ‘the Precious Celestial One’, yang mengendalikan masa sekarang, telah dibandingkan dengan Allah Anak; dan ‘the Way-and-Its-Power Celestial One, yang mengendalikan masa akan datang, dibandingkan dengan Allah Roh Kudus. (Julia Ching, Chinese Religions, 114).

[32] Inti Tao :”Dilihat tapi tidak terlihat : Namanya adalah tak berbentuk. Didengar tapi tidak terdengar : Namanya aalah tanpa suara.  Dijangkau tapi tidak teraih : Namanya adalah tak tersentuh.” [R.L. Wing, Tao Kekuatan – Tao Te Ching (Jakarta : Elex Media Komputindo, 1994), 28

[33] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Simple Taoisme– Tuntunan Hidup Dalam Keseimbangan (Jakarta : Bhuana Ilmu Populer, 2000), 62-63

[34] Ibid, 64-65

[35] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao, 40-41

[36] Ibid, 46

[37] Ibid, 66-67

[38] Lee menyatakan :”In the West, anthropology seems more important than cosmology.  It focuses on the person as the center of the world.  Descartes’s dictum,”I think, therefore I am” seems to represent the Western way of thinking.  In East Asia we can say,”I am a part of the cosmos; therefore, I think and feel who I am.”  In East Asia, the search for “who I am” seems to begin with an individual’s perception of the cosmos.  It seems that to know the world is to know human nature, for a human being is a part of the world.” (Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, 22)

[39] Ibid, 18

[40] Ibid, 25

[41] Ibid, 26

[42] Herlianto, Hongsui – Antara Tahyul dan Iman Kristiani (Bandung : Yabina, 1996), 12

[43] Ibid, 31

[44] J.S. Kwek, Mitologi China & Kisah Alkitab (Yogyakarta : ANDI, 2006), 64-65

[45] Ibid, 76

[46] Samuel Wang dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala, 75-75

[47] Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, 97

[48] Ibid, 96-97

[49] Ibid, 96

[50] Ibid, 97-98

[51] Peter K.H. Lee, Dancing, Ch’i, and the Holy Spirit di dalam buku Frontiers in Asian Christian Theology (Ed. R.S. Sugirtharajah; Maryknoll : Orbis Books, 1994), 73

[52] J. Barton Payne, “Ruah” di dalam Theological Wordbook of the Old Testament (Ed. R. Laird Harris, Gleason L.Archer, Jr, Bruce K. Waltke; Chicago : Moody Press, 1980), 2131

[53] The Hebrew-Greek Key Study Bible (Ed. Spiros Zodhiates; Chattanooga : AMG, 1996), 1550

[54] Sinclair B. Ferguson, The Holy Spirit (Downers Grove : InterVarsity Press, 1996), 17

[55] Ibid, 17-18

[56] Veli-Matti Karkkainen, Pneumatology, 26

[57] The Hebrew-Greek Key Study Bible, 1534

[58] Ibid, 1536

[59] Ibid, 1664

[60] James D.G. Dunn, The Christ & The Spirit Volume 2 : Pneumatology (Grand Rapids : William B. Eerdmans, 1998), 3

[61] Erick Sudharma, Mengenal Sang Penghibur (Bandung : Mitra Pustaka, 2005), 35

[62] Veli-Matti Karkkainen, Pneumatologi (Grand Rapids : Baker Academie, 2002), 23-24

[63] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi (Malang : SAAT, 2003), 315

[64] Erick Sudharma, Mengenal Sang Penghibur, 36

[65] Ibid

[66] Bruce Demarest and Gordon Lewis, Integrative Theology Volume One (Grand Rapids : Academie Books, 1987), 195

[67] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 302

[68] Robert Gromacki, The Holy Spirit (Nashville : Word Pub., 1999), 6

[69] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 302

[70] Ibid, 303

[71] Ibid

[72] Ibid

[73] Ibid, 303-304

[74] Ibid, 304

[75] Ibid

[76] Ibid

[77] Ibid

[78] Ibid, 305

[79] Ibid

[80] Ibid

[81] Ibid

[82] Ibid

[83] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 16

[84] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 306

[85] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 22

[86] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 307

[87] Ibid, 308

[88] Ibid

[89] Ibid

[90] Ibid

[91] Ibid

[92] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 12

[93] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 308

[94] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 23

[95] Ibid

[96] Ibid

[97] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 309

[98] Ibid

[99] Ibid, 310

[100] Ibid

[101] Ibid

[102] Ibid

[103] Ibid

[104] Doktrin penciptaan ini adalah titik tolak pemikiran dari Van Til selama berabad-abad yang dinyatakan : Allah adalah Pencipta; dunia merupakan ciptaan-Nya.” [John M. Frame, Cornelius Van Ti: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya (Surabaya : Momentum, 2002), 55]

[105] Richard L. Pratt, Jr., Menaklukkan Segala Pikiran Kepada Kristus (Malang : SAAT, 1995), 14

[106] Kovenan adalah sebuah kontrak atau kesepakatan antara dua pihak yang sederajat atau dalam relasi antara tuan dan para hambanya.  Kovenan antara Allah dan manusia dalam Kitab Suci merupakan jenis kovenan yang kedua yaitu antara tuan dan hamba-Nya.  Allah memilih umat Israel sebagai umat kesayangan-Nya di mana Allah menyatakan anugerah melalui pemilihan bangsa ini kepada seluruh umat manusia. (John M. Frame, Doktrin Pengetahuan Tentang Allah Jilid 1, (Malang : SAAT, 2004), 22

[107] Ibid, 24

[108] Ibid, 32-33

[109] Sinclair B. Ferguson, The Holy Spirit, 242

[110] David Hesselgrave, Mengomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya, 262

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: