jump to navigation

BUNUH DIRI DITINJAU DARI IMAN KRISTEN 08/08/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
add a comment


PENDAHULUAN

Pada hari Senin, 12 Maret 2007 sebuah surat kabar harian memuat headline di halaman utamanya dengan judul “Ibu Ajak Empat Anaknya Bunuh Diri.” Isi beritanya adalah sebagai berikut:

Diduga karena tidak kuat menghadapi tekanan ekonomi, satu anggota keluarga yang tinggal di Jalan Taman Sakura 12, RT 1/10, Kel Lowokwaru, Kec Lowokwaru, Kota Malang, melakukan bunuh diri. Bunuh diri dilakukan oleh seorang ibu beserta empat anaknya.

Kelima korban adalah Ny Junania Mercy, 37; Athena Latonia, 11; Prinsessa Ladova, 9; Hendrison, 7; dan Gabriela Alcein,2.  Diduga kelima korban meninggal dengan cara meminum potasium dan sejenis kapsul. Namun sampai kemarin, polisi belum mengetahui jenis kapsul tersebut. Untuk sementara ini, polisi menyimpulkan Junanialah yang meminumkan potasium kepada empat anaknya tersebut.

Sesudah keempat anaknya meninggal, Junania meminum racun tersebut.  Kesimpulan ini diperoleh saat melihat posisi kelima korban.  Saat ditemukan pertama kali, posisi keempat anak Junania terbaring rapi di atas tempat tidur. Sedangkan Junania tertelungkup di bawah ranjang. Dari situ, polisi menyimpulkan, setelah anak-anaknya meninggal, Junania membaringkan keempat anaknya di atas ranjang. Menurut keterangan Ketua RT Hantoko, kematian istri beserta anak dari Hendri Suwarno, 35, tersebut, baru diketahui pada sekitar pukul 11.30 WIB. Hantoko mengaku mendapatkan laporan dari Cesar, teman Rudy Suwarno, adik korban yang biasa tinggal di rumah tersebut. Hantoko menuturkan, sekitar pukul 11.30 WIB, Cesar datang ke rumahnya, setelah mendapati lima orang keluarga temannya meninggal dunia di satu kamar.  Cesar sendiri datang ke rumah tersebut bersama Rudy setelah semalaman menginap di Kota Batu.

”Begitu berada di dalam rumah, mereka sudah menemui ke lima korban tersebut dalam kondisi tidak bernyawa,” tuturnya. Sementara itu, Kapolresta Malang AKBP Erwin Chahara Rusmana menyatakan, kemungkinan besar mereka meninggal karena bunuh diri. ”Berdasarkan identifikasi di TKP, 90% mengarah pada bunuh diri. Hal itu dapat dilihat dari ditemukannya sejenis kapsul dan potasium di sekitar mayat korban,”ujar Erwin. Polisi memperkirakan kematian korban ini terjadi pada malam hari. Erwin menyimpulkan untuk sementara ini, motif utama aksi nekat tersebut dikarenakan tekanan ekonomi. Erwin menuturkan, anak Junania yang bernama Hendrison mengalami gagal ginjal sehingga harus sering melakukan cuci darah.[1]

Berita di atas adalah salah satu berita tentang bunuh diri yang menggemparkan bukan hanya kota Malang tetapi juga seluruh Indonesia.  Tidak habis-habisnya masyarakat Indonesia membicarakan akan hal ini.  Ada yang ikut prihatin akan kenyataan yang dihadapi oleh keluarga tersebut dan ada pula yang mengecam tindakan sang ibu tersebut.

Walaupun demikian, jika kita cermati bersama, saat ini tindakan bunuh diri menjadi “trend” dan salah satu jalan keluar paling ‘favorit’ bagi orang-orang yang mengalami depresi, putus asa, jalan buntu dan ‘tidak tahu harus berbuat apa-apa’ lagi.  Dengan berbagai cara seperti gantung diri, terjun dari gedung bertingkat, minum racun, menusuk atau menggores tubuh/anggota tubuh dengan senjata tajam, bakar diri,  terjun ke sungai/laut, menjatuhkan diri ke rel kereta api/jalan raya kerap dilakukan bagi mereka yang melakukan bunuh diri.

Menurut data Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A. Prayitno pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Departemen Kesehatan di Jakarta, Senin 8 Oktober 2007, setiap tahun 50 ribu orang Indonesia melakukan bunuh diri akibat tekanan ekonomi, ledakan pengangguran, dan konflik berat di pengungsian. Dengan demikian, diperkirakan setiap hari 1.500 orang Indonesia mengakhiri hidupnya.  Dari jumlah tersebut, 41% mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, 23% menenggak insektisida, dan lainnya overdosis (kematian akibat overdosis obat-obatan terlarang yang mencapai 50 ribu orang per tahun). Prayitno menjelaskan kini 40 juta rakyat Indonesia menyandang status sebagai penganggur. Belum lagi dampak kemiskinan, mahalnya biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya hidup, penggusuran, pemutusan hubungan kerja, kesenjangan kaya-miskin, dan konflik berat di pengungsian. Menurutnya, faktor bunuh diri di Indonesia sudah cukup lengkap.[2]

Mengingat begitu besarnya jumlah orang yang melakukan bunuh diri[3] di Indonesia – tidak menutupi kemungkinan orang Kristen pun melakukan tindakan ini -, maka di dalam tulisan ini penulis akan membahas bagaimana pandangan etika secara umum terhadap bunuh diri dan bagaimana pula pandangan etika Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan terhadap bunuh diri ini.  Dengan demikian, kita dapat mengambil sikap terhadap tindakan bunuh diri ini dari sudut Kekristenan dan juga bagaimana kita dapat memberikan pelayanan bagi mereka yang hendak melakukan bunuh diri.

PENGERTIAN DAN FAKTOR PENYEBAB BUNUH DIRI

Definisi

Kata bunuh diri di dalam bahasa Yunani berasal dari kata “apancho” yang berarti menahan (nafas sampai mati),[4] menyebabkan kematian dirinya sendiri dengan menggantung diri (apanchomai), menggantung dirinya sendiri atau melakukan bunuh diri (Mat. 27:5).[5]

Kata “suicide” (bunuh diri) pertama kali digunakan oleh Walter Charleton (1651) atau Sir Thomas Browne (1642).[6] Selama berabad-abad, pengertian “bunuh diri” ini memiliki arti yang berbeda menurut zaman dan konteksnya.  Kisah bunuh diri yang sangat terkenal pada abad-abad pertama adalah kisah bunuh diri Sokrates, guru dari filsuf Plato.  Socrates dipaksa meminum hemlock (cemara beracun) atas perintah pengadilan Yunani.  Selanjutnya di dalam sejarah gereja mula-mula, bunuh diri menunjukkan sebagai sebuah sikap pengorbanan yang dilakukan oleh para martir.  Tetapi sejak sidang gereja pada tahun 452, pengertian bunuh diri dihubungkan dengan dosa dan kejahatan.[7]

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, bunuh diri adalah “sengaja mematikan diri sendiri.”[8] Jadi, di dalam praktek bunuh diri yang berinisiatif dan yang mengambil tindakan adalah dirinya sendiri.   Demikian juga dengan definisi menurut kamus Wikipedia, di mana bunuh diri dapat didefinisikan sebagai “the act of intentionally terminating one’s own life.”[9] Sedangkan menurut Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary bunuh diri adalah “the act or an instance of taking one’s own life voluntarily and intentionally especially by a person of years of discretion and of sound mind.[10]

Sedangkan menurut J.P. Moreland, bunuh diri adalah:

An act is a suicide if and only if a person intentionally and/or directly causes his or her own death as an ultimate end in itself or as a means to another end (e.g., pain relief), through acting (e.g., talking a pill) or refraining from acting (e.g., refusing to eat) when that act is not coerced and is not done sacrificially for the lives of other persons or in obedience to God.[11]

Dalam definisi tersebut, Moreland menegaskan bahwa bunuh diri adalah tindakan yang diambil dengan inisiatif sendiri untuk mengakhiri hidupnya baik melalui tindakan maupun tidak dan bukan karena terpaksa atau pun karena mengorbankan diri demi orang lain atau karena taat kepada Allah (martir).  Karena di dalam diskusi mengenai bunuh diri ini, ada dua macam bunuh diri yaitu pertama, bunuh diri yang dengan sukarela dilakukan sebagai tanda “pengorbanan diri”.  Bunuh diri semacam ini adalah dikarenakan tugas militer, mempertahankan diri, pengorbanan diri sebagai bukti iman dan karena tradisi atau kepercayaan.  Kedua, kebebasan untuk mengambil nyawa sendiri.[12] Dan di dalam tulisan ini, pengertian kedua yang akan dibahas di mana bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghentikan kehidupannya sendiri demi menghindari penderitaan atau kesusahan jika kehidupan dilanjutkan.”

Faktor Penyebab Bunuh Diri

Orang yang melakukan bunuh diri biasanya disebabkan oleh: pertama, sakit yang telah berlangsung sangat lama, tidak ada harapan sembuh dan telah banyak menghabiskan biaya hidup keluarga; kedua, stress atau tekanan karena ditinggal oleh orang yang dikasihi karena kematian; ketiga, penyakit kejiwaan seperti depresi, skizofrenia, trauma, dsb; keempat, cacat fisik seperti lumpuh, buta; kelima, penyalahgunaan narkotika; keenam, lingkungan yang tidak menyenangkan seperti penganiayaan seks/abuse, kemiskinan, tidak memiliki tempat tinggal, diskriminasi, ketakutan akan pembunuhan atau penyiksaan; ketujuh, mengalami masalah dalam bidang keuangan seperti bangkrut, pengangguran, kehilangan harta karena kebakaran, kalah di dalam pasar saham/valas, perjudian, hutang yang tidak terbayarkan; kedelapan, mengalami masalah dalam keluarga seperti perceraian, keluarga yang tidak harmonis, perlakuan yang tidak adil, tidak mendapatkan perhatian dari orang tua; kesembilan, untuk menghindari rasa malu (misalnya bushido, yaitu jika seorang samurai Jepang gagal di dalam mempertahankan kehormatannya, maka dia mengambil jalan keluar dengan melakukan seppuku/bunuh diri); kesepuluh, merasa bosan dengan kehidupan atau merasa tidak memiliki arti di dalam hidup ini; kesebelas, terorisme yaitu tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan agama (misalnya : kasus Bom Bali) dan nasionalisme yang berlebihan (Irak)[13] dan pengaruh kuasa gelap.

John H. Greist dan James W. Jefferson mencatat beberapa faktor yang membuat seseorang berkecenderungan melakukan bunuh diri.  Faktor-faktor tersebut adalah pertama, usia yaitu bunuh diri meningkat sejalan dengan bertambahnya usia baik pria maupun wanita; kedua, jenis kelamin di mana pria tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan melakukan bunuh diri daripada wanita, tetapi wanita melakukan usaha bunuh diri tiga sampai empat kali lebih banyak daripada pria; ketiga, depresi di mana kira-kira tiga perempat orang yang melakukan bunuh diri, menderita depresi pada waktu mereka melakukannya; keempat, usaha bunuh diri sebelumnya dimana enam puluh persen orang yang bunuh diri telah melakukan usaha bunuh diri sebelumnya; kelima, penyalahgunaan alkohol dan obat bius yang diharapkan dapat melepaskan diri dari depresi tetapi cenderung mempercepat seseorang melakukan bunuh diri; keenam, baru saja kehilangan orang-orang penting, kedudukan dan harta milik; ketujuh, isolasi sosial di mana orang yang hidup sendirian dan tanpa dukungan dari teman-temannya dan kedelapan, rencana yang jelas untuk melakukan bunuh diri.[14]

Bunuh Diri di dalam Alkitab

Di dalam Alkitab ada enam orang yang melakukan bunuh diri yaitu : Samson (Hak. 16:23-31), Raja Saul dan pembawa pedangnya (1Sam. 31:3-5), Ahitofel – penasihat Raja Daud – yang telah menghianati Raja Daud dengan mengikuti Absalom (2Samuel 17:23), Raja Israel Zimri (1Raj. 16:18-19), dan Yudas Iskariot yang menghianati Tuhan Yesus dan kemudian menggantung diti (Matius 27:3-5).  Di dalam Alkitab tidak ada pernyataan baik atau buruk tentang tindakan-tindakan tersebut.  Khusus berkenaan dengan Raja Saul dikatakan bahwa Tuhan yang telah membunuh dia karena tidak berpegang pada Firman Tuhan dan telah meminta petunjuk kepada arwah dan bukan minta petunjuk kepada Tuhan (1Taw. 10:4, 14).[15]

Walaupun demikian, di dalam Alkitab kasus tentang bunuh diri tidak dinyatakan secara tegas dan jelas.  Tidak ada juga nasehat atau pernyataan sikap terhadap orang yang melakukan bunuh diri.  Secara tegas hanya yang berkaitan dengan pembunuhan seperti Hukum Keenam dari Sepuluh Hukum yaitu :”Jangan Membunuh” (Kel. 20:13).  Di dalam Matius 22: 39, orang Kristen tidak hanya diperintahkan untuk mengasihi orang lain tetapi juga dirinya sendiri.  Oleh karena itu, bunuh diri adalah tindakan yang tidak mengasihi dirinya sendiri tetapi justru membenci dirinya sendiri.  Jadi tindakan tersebut menunjukkan ketidaktaatan terhadap Firman Tuhan.[16]

PRO DAN KONTRA TERHADAP BUNUH DIRI

Pro Bunuh Diri

Di  dalam agama-agama orang-orang Eskimo dan suku-suku di Afrika terdapat anjuran untuk melakukan bunuh diri ketika seseorang mengalami kondisi dan situasi yang sulit seperti masalah ekonomi, atau karena mendapatkan malu.  Di dalam agama Sinto di Jepang, jika seseorang melakukan kesalahan dan kehilangan kehormatan, maka ia dianjurkan untuk melakukan upacara “hara-kiri” atau bunuh diri untuk memulihkan kehormatannya.  Di dalam tradisi agama Hindu, seorang janda yang menceburkan diri ke dalam api yang membakar jenasah suaminya yang telah meninggal dipuji karena dipandang sebagai pengorbanan yang mulia.[17]

Menurut David Hume,[18] tindakan bunuh diri tidak melanggar akan kedaulatan Allah atau kepemilikan Allah di dalam  hidupnya.  Bagi Hume, Allah tidak mencampuri semua urusan manusia termasuk di dalam penderitaan manusia.  Oleh karena itu, bunuh diri bukanlah bangkit dari kesombongan manusia tetapi karena ingin mengurangi atau menghilangkan rasa sakit dan penderitaan.  Baginya yang paling penting melalui bunuh diri dapat memberikan kebebasan dari rasa ketidakbahagiaan jika hidup tetap diteruskan.[19]

Pandangan dari kalangan etika liberal[20] menyatakan bahwa tindakan bunuh diri secara moral dapat dibenarkan asalkan tindakan tersebut tidak membawa akibat yang buruk bagi orang lain dan tetap di dalam kemerdekaan secara individu.  Bunuh diri juga dibenarkan karena dapat memberikan pembebasan dari kesusahan baik bagi si pelaku bunuh diri maupun bagi orang lain jika tidak jadi bunuh diri.  Bunuh diri juga dapat dibenarkan jika tindakan tersebut untuk menghindari “ledakan” biaya rumah sakit yang besar ketika seseorang menderita penyakit “terminal.”[21]

Para penganut etika otonom juga memberikan alasan bahwa tindakan bunuh diri sebagai suatu pilihan individu yang sah.  Bagi mereka, bunuh diri juga merupakan hak asasi manusia yang disebut sebagai “right to die”[22] (hak untuk mati)[23] yang berlawanan dengan “right to life.” Menurut mereka, jika seseorang (pasien) sudah sampai akhir hidupnya, ia berhak meminta supaya penderitaannya segera diakhiri.  Dengan demikian orang tersebut akan mengalami “kematian yang baik”, tanpa harus mengalami penderitaan yang tidak perlu.[24]

Joseph Flecher – seorang pencetus etika situasi[25] – menyatakan bahwa bunuh diri secara moral dibenarkan apabila tindakan tersebut diambil secara bebas, untuk mengurangi penderitaan, dan tidak mengganggu akan kesejahteraan orang lain.[26] Yang paling penting adalah tindakan bunuh diri dilakukan di dalam kasih.[27]

Kontra  Bunuh Diri

Di dalam agama-agama suku primitif ada pandangan bahwa roh orang yang melakukan bunuh diri menjadi roh yang jahat yang selalu gelisah dan tidak mendapatkan ketenteraman serta mengganggu orang-orang yang masih hidup.[28]

Plato di dalam Phaedo[29] menunjukkan bahwa tindakan bunuh diri harus dikutuk atau disalahkan dengan keras sebagai kejahatan yang mengerikan terhadap dirinya sendiri.  Seseorang yang ingin melakukan tindakan bunuh diri adalah mempersiapkan pemakaman yang tercela yang dianggap sama dengan melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarganya sendiri.  Bagi Plato, tindakan bunuh diri merupakan tindakan perlawanan terhadap aturan negara dan dewa-dewa.[30] Plato menyatakan bahwa kita ini bukan milik kita sendiri tetapi milik para dewa.[31] Sikap Plato terhadap tindakan bunuh diri juga didukung oleh muridnya yaitu Aristoteles yang menyatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah tindakan yang melawan hukum dan nilai-nilai moral.[32]

Augustine di dalam menanggapi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para wanita yang telah diperkosa oleh para Barbarian yang menyerbu kota Roma, menyatakan bahwa manusia wajib memelihara harta milik Allah yang dipercayakan kepadanya.  Tubuh dan jiwa kita adalah kepunyaan Allah dan orang yang bunuh diri berdosa terhadap Penciptanya.  Bagi Augustine, bunuh diri bukan hanya pelanggaran langsung atas perintah keenam, “Jangan membunuh”, melainkan suatu dosa yang tak terampuni yang merampas kesempatan pertobatan dan penyesalan.[33]

Seperti Augustine, Thomas Aquinas juga mengutuk bunuh diri yang dilakukan oleh wanita (perawan) yang mengalami perkosaan untuk kepentingan melindungi kesucian mereka, dan ia memandang bahwa bunuh diri sama saja dengan pembunuhan. Baginya, bunuh diri adalah tindakan yang selalu terlarang kecuali jika diperintahkan oleh Allah (seperti di kasus Samson).[34]

Selain itu, Aquinas mendasarkan pada tiga alasan untuk menentang tindakan bunuh diri yaitu pertama, tindakan tersebut tidak natural karena berlawanan dengan kecenderungan alam di mana semuanya berkeinginan untuk mempertahankan hidup dan berlawanan dengan kemurahan hati (belas kasihan) karena semua orang harus mengasihi dirinya sendiri; kedua, tindakan bunuh diri merupakan serangan melawan dan sebuah luka bagi sebuah komunitas karena seseorang milik dari sebuah komunitas dan ketiga, sebuah tindakan perampasan terhadap kuasa Allah yang memiliki hak untuk memberikan dan mengambil kembali kehidupan.[35]

Immanuel Kant (1729-1804) menyatakan bahwa seseorang yang mengasihi dirinya sendiri tidak mungkin membenarkan bunuh diri.  Karena orang yang mengasihi dirinya sendiri berjuang untuk melanjutkan akan kehidupannya.[36]

Albert Camus, seorang filsuf Prancis menyatakan: “There is only one serious philosophical problem: that is suicide.”  Bagi Camus, bunuh diri adalah tindakan yang tidak masuk akal.  Baginya, bunuh diri adalah tindakan hidup yang “menggelikan” (absurb) dan bertanya bagaimana mungkin seseorang dapat mengambil tindakan seperti itu.[37]

Dietrich Bonhoeffer menyatakan bahwa bunuh diri adalah tindakan pembenaran diri manusia yang hidupnya gagal dan sia-sia.[38] Selanjutnya Bonhoeffer menyatakan:

God has reserved to Himself the right to determine the end of life, because He alone knows the goal to which it is His will to lead it.  It is for Him alone to justify a life or to cast it away.  Before God self-justification is quite simply sin, and suicide is therefore also sin.  There is no other cogent reason for the wrongfulness of suicide, but only the fact that over men there is a God.  Suicide implies denial of this fact.[39]

Dalam banyak agama, bunuh diri juga dipandang sebagai suatu perbuatan yang tercela dan berdosa kepada Allah-nya. Di dalam tradisi agama Katolik, kehidupan merupakan pemberian dari Sang Pencipta dan oleh karena itu kita harus menggunakannya sebagai pelayanan dan bukan sebagai dominasi.[40] Artinya tindakan bunuh diri dianggap sebagai dosa melawan kedaulatan Allah.

Sedangkan di dalam tradisi agama Yahudi (Yudaisme), tindakan bunuh diri dilarang karena pertama, melawan akan kedaulatan Allah atau kepemilikan Allah dalam hidup kita.  Seorang manusia adalah milik Allah dan tidak memiliki hak untuk menghancurkan kehidupannya melalui bunuh diri.  Kedua, karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-28).[41] Walaupun demikian, di dalam tradisi Yahudi, tindakan bunuh diri dapat dibenarkan jika tindakan tersebut sebagai martir atau tanda pengorbanan diri demi Allah dan bangsanya.[42] Elliot N. Dorff juga menyatakan : “Jewish tradition prohibits suicide except as an ant of martyrdom.”[43] Dalam hal ini,  Eka Darmaputera juga menyatakan :

Sesungguhnya, bunuh diri adalah tindakan melawan kodrat, sekaligus tindakan melecehkan Tuhan.  Mereka yang mati terhormat memenangkan kemuliaan, tapi yang mati karena bunuh diri mewarisi kekelaman.  Begitulah bagi orang Yahudi, bunuh diri adalah dosa.  Walaupun kadang-kadang sekali, bisa saja seseorang dibenarkan merelakan nyawa karena iman, demi keyakinan, dan untuk Allahnya.[44]

TINJAUAN ETIKA TERHADAP BUNUH DIRI

Tinjauan Menurut Sistem Etika

Menurut Norman L. Geisler, sistem-sistem etika pada umumnya dapat dibagi ke dalam dua kategori yaitu teleologikal (berpusat pada tujuan) dan deontologikal (berpusat pada kewajiban).[45]

1.  Etika  Teleologikal

Menurut teori ini – sesuai dengan arti kata “telos” yang berarti tujuan, hasil[46]– apa yang  secara moral baik atau buruk, benar atau salah, wajib atau dilarang ditentukan oleh hasil dari tindakan yang dilaksanakan. Jika perbuatan menghasilkan hal yang baik secara moral, maka tindakan tersebut dapat dibenarkan secara moral. Dalam hal ini, hasil menentukan tindakan mana  yang baik dan yang tidak baik.[47] Yang lebih penting adalah tujuan atau akibat.[48]

Etika teleologikal pada mulanya berawal dari filsafat moral yang bernama hedonisme yang mengajarkan bahwa adalah baik apa yang memuaskan keinginan kita, apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri kita.  Bagi penganut hedonisme, tujuan hidup mereka adalah mencapai akan kenikmatan atau kesenangan.  Inilah jawaban yang dinyatakan oleh Aristippos dari Kyrene (433-355 SM)  ketika menjawab pertanyaan Sokrates: apakah yang menjadi tujuan akhir hidup manusia yang sungguh-sungguh baik?  Aristippos menjawab: yang sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan.[49]

Selanjutnya, filsafat moral hedonisme ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh Epikuros (341-270 SM) yang melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia.[50] Dan pada zaman modern ini, ajaran tersebut dikembangkan oleh Jeremy Bentham, seorang filsuf Inggris yang kemudian dikenal dengan nama etika utilitarianisme.  Menurut Bentham, manusia menurut kodratnya selalu ingin menghindari ketidaksenangan dan mencari kesenangan.  Seorang akan bahagia jika  memiliki kesenangan dan terlepas dari kesusahan.  Oleh karena itu, menurut Bentham, suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk dapat diukur dengan sejauh mana dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang.  Baginya, moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia.  Akhirnya Betham menarik satu prinsip kegunaan (the principle of utility) yang berbunyi: the greatest happiness of the greatest number(kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar).[51]

Tokoh utilitarianisme selanjutnya adalah John Stuart Mill (1806-1873), seorang filsuf Inggris yang ‘memperbaiki’ etika Betham, pamannya itu.  Ia menjelaskan utilitarianisme yaitu pertama, nikmat jangan dibatasi pada nikmat jasmani saja.  Nikmat rohani lebih luhur daripada nikmat jasmani; “It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied.” Kedua, ia membuat jelas bahwa utilitarianisme tidak ada kaitan dengan egoisme di mana kebahagiaan terbesar mencakup semua orang yang terkena dampak dari tindakan kita.  Menurutnya lagi, bahagia tidak berarti bahwa tak ada pengurbanan yang tidak dilakukan hanya demi dirinya sendiri tetapi demi kebahagiaan orang lain.[52]

Menurut pandangan etika utilitarianisme, seseorang yang melakukan bunuh diri harus mempertimbangkan kesejahteraan dari orang-orang lain yang terkait dengannya, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.  Jika tindakan bunuh diri tersebut dapat memaksimalkan kegunaan (utility), maka tindakan tersebut secara moral dapat dibenarkan dan masuk akal.  Pertimbangan-pertimbangan yang dianggap cukup baik untuk melakukan bunuh diri adalah : kondisi dan situasi yang menyakitkan, penyakit yang tidak dapat disembuhkan (terminal), kehilangan kehormatan, jatuh miskin; menjadi cacat atau kehilangan kecantikan fisik, hilangnya kemampuan seksual, kehilangan harapan masa depan, kehilangan orang tercinta, kecewa dalam cinta, dan kelemahan atau penyakit karena usia terus meningkat. Jika seseorang mengalami hal-hal ini, bunuh diri mungkin dibenarkan jika tindakan seperti itu memaksimalkan jumlah kegunaan dibandingkan dengan tindakan alternatif lainnya.  Jika bunuh diri secara moral dapat dibenarkan, orang lain secara moral diwajibkan untuk membantu di dalam melaksanakan keputusan tersebut jika dibutuhkan bantuan orang lain.[53] Pada intinya adalah orang yang melakukan bunuh diri dapat dibenarkan atau diterima secara moral jika dia melakukan demi tujuan yang baik seperti menghilangkan atau mengurangi penderitaan atau kesusahan dirinya sendiri maupun orang lain yang terkait dengan dirinya.  Yang penting tujuan tercapai, bunuh diri tidak menjadi masalah.

Pandangan etika teleologikal tampaknya memberikan jalan keluar bagi mereka yang mengalami penderitaan dan kesusahan.  Dengan mengakhiri hidup mereka sendiri, tampaknya juga masalah telah selesai.  Selain itu, tindakan bunuh diri untuk menghindari kesusahan orang lain kemudian – misalnya akibat biaya rumah sakit yang besar – tampaknya memberikan jalan keluar yang heroik.

Hanya saja kalau kita pikirkan kembali, pandangan utilitarianisme tidaklah memberikan jalan keluar yang terbaik.  Justru orang-orang yang mengambil keputusan untuk bunuh diri dengan alasan untuk mengurangi penderitaan dan kesusahan atau pun demi kesejahteraan orang lain adalah tindakan yang pengecut dan tidak ksatria.  Mereka melakukan bunuh diri karena takut menghadapi masa depan yang tampaknya suram bagi mereka.  Selain itu, mereka juga tidak bisa menerima kenyataan hidup bahwa di dunia ini ada suka dan juga ada duka.  Ada senang dan ada pula penderitaan.  Mereka yang hanya mencari kesenangan dan kenikmatan saja, tidak bisa menerima realita hidup bahwa di dunia ini ada juga yang namanya kesusahan dan penderitaan.  Jika pandangan ini melakukan itu demi kesenangan orang yang menderita kesusahan – supaya tidak mengalami susah lagi -, apa benar bahwa kesenangan atau kenikmatan itu selalu baik jika menghalalkan segala cara demi tujuan mereka?  Bagaimana dengan orang yang mencuri dan merampok yang senang mendapatkan uang tetapi melakukan kejahatan?  Bagaimana dengan orang yang melakukan tindakan sadisme, yang mendapatkan kesenangan dan kenikmatan di atas penderitaan orang lain?  Apakah orang-orang seperti ini dapat dibenarkan secara moral hanya karena mereka memiliki tujuan untuk kesenangan dan kenikmatan?  Tentu saja mereka tidak dibenarkan dan tindakan mereka secara moral salah karena telah melakukan kejahatan.

2.  Etika Deontologikal

Kata “deontological” memiliki akar kata “deon’’ yang berarti sesuatu yang harus dilakukan sebagai hasil sebuah paksaan, tugas atau kewajiban.[54] Menurut David K. Clark dan Robert V. Rakestraw, etika deontologikal adalah sebuah etika tugas atau kewajiban; etika yang mendasarkan diri pada norma-norma yang wajib untuk dilakukan.[55] Etika deontologikal ini  menekankan bahwa benar atau salah sebuah tindakan ditentukan oleh standar atau norma yang yang wajib untuk dilakukan.[56] Seseorang dianggap baik secara moral apabila dia tidak melanggar standar atau aturan yang telah ditetapkan dan seorang dianggap buruk secara moral jika tindakannya bertentangan dengan norma-norma tersebut.[57]

Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman pendukung pandangan etika ini, menyatakan bahwa suatu tindakan dianggap baik adabila didasarkan pada kehendak yang baik.  Seseorang  dapat memiliki kehendak baik jika melakukan sesuatu karena kewajiban.  Jadi Kant berpendapat bahwa perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena wajib dilakukan.[58] Selain itu, Kant juga berpendapat bahwa ada dua ukuran obyektif untuk menyatakan bahwa suatu tindakan itu benar atau salah secara etis.  Pertama, “bertindaklah atas dalil, bahwa apa yang kita lakukan dapat berlaku  sebagai hukum yang bersifat universal,” yaitu apabila yang kita lakukan di manapun dan kapan pun adalah yang seharusnya dilakukan oleh siapa pun.  Kedua, apa yang benar adalah apabila kita memperlakukan manusia di dalam setiap sebagai tujuan, dan bukan sekedar alat[59] atau cara untuk mencapai tujuan.[60]

Salah satu penerapan pandangan etika deontologikal ini adalah absolutisme total. Menurut Geisler, alasan dasar dari absolutisme total adalah bahwa seluruh konflik-konflik moral itu hanya kelihatannya saja konflik tetapi sebenarnya tidak konflik.[61] Ada hukum-hukum moral yang mutlak dan hukum-hukum moral ini tidak pernah konflik satu sama lain.[62] Selain itu, absolutisme total memiliki dasar pikiran lain yaitu providensia Allah di mana Dia selalu membuat “satu alternatif ketiga” di dalam setiap dilema moral yang jelas kelihatan.[63]

Karena etika absolutisme total didasarkan pada karakter Allah yang tidak berubah, maka kewajiban-kewajiban moral yang berasal dari natur-Nya itu juga bersifat mutlak, yang mengikat setiap orang di mana-mana.  Apa yang dapat ditemukan pada karakter moral Allah yang tidak berubah merupakan suatu kemutlakan moral termasuk di dalamnya kekudusan, keadilan, kasih, dan belas kasihan.[64] Dan hukum-hukum tersebut dinyatakan kepada manusia di dalam Firman-Nya yaitu Alkitab.

Tindakan bunuh diri jika ditinjau dari sudut etika ini adalah tindakan yang salah.  Mengapa?  Karena tindakan bunuh diri sudah melanggar akan hukum atau norma yang diberikan Allah kepada manusia yaitu “Jangan Membunuh”.  Seseorang yang melakukan bunuh diri jelas telah melanggar hukum tersebut karena ia telah sengaja membunuh yaitu dirinya sendiri.  Jadi larangan yang seharusnya wajib atau harus dilakukan, dia langgar dan justru melakukan hal yang bertentangan.

Selain itu, di dalam providensia Allah, Allah selalu menyediakan alternatif ketiga atau pilihan ketiga di dalam hikmat-Nya untuk kita mengambil keputusan sesuai dengan kehendak-Nya atau hukum-Nya.  Ketika seseorang diperhadapkan kepada pilihan “maju kena mundur kena,” Allah akan memberikan alternatif yang terbaik menurut kehendak dan waktu-Nya.  Hanya saja dibutuhkan kepasrahan dan iman dari orang tersebut.

Tinjauan Menurut Firman Tuhan

  1. Hidup ini adalah milik Tuhan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia.

Tindakan bunuh diri tidak dapat dibenarkan karena hidup seseorang adalah pemberian dari Tuhan.   Ketika Tuhan Allah menciptakan manusia dari debu dan tanah pada saat itu Dia “menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya” sehingga manusia tersebut menjadi manusia yang hidup (Kej. 2:7).  Nehemia pun mengakui bahwa Tuhan adalah Pencipta dan pemberi hidup segala yang diciptakan-Nya termasuk manusia (Neh. 9:6).  Pengkhotbah 12:7 menyatakan bahwa “debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.” Ayub menyatakan bahwa di dalam tangan Tuhan terletak segala yang hidup (Ayub 12:10) dan nafas dari Tuhan yang membuatnya hidup (Ayub 33:4).  Dalam Yohanes 14:6 pun Tuhan Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah “jalan dan kebenaran dan hidup.”  Hal ini dinyatakan setelah Tuhan Yesus membangkitkan kembali Lazarus yang telah meninggal dunia (Yoh. 11:1-44).  Jelas, bahwa hidup kita adalah pemberian dari Allah dan Allah sendiri yang berhak untuk memberi dan mengambilnya kembali.

Oleh karena hidup ini adalah milik Tuhan yang Dia berikan kepada manusia, maka manusia tidak boleh menolaknya yaitu dengan bunuh diri.  Hidup kita – mati atau hidup – adalah di tangan-Nya.  Tugas kita adalah bertanggung jawab atas kehidupan yang telah ia percayakan kepada kita. Dalam hal ini,  Verkuyl menyatakan :

Dan Tuhan melarang kita menolak hidup kita sendiri, artinja membunuh diri, sebab hidup dan mati bukan terletak dalam tangan kita, melainkan dalam Tangan Tuhan.  Tetapi pada manusia itu Tuhan telah meletakkan tanggungdjawab atas hidupnja sendiri.  Manusia mempunjai kebebasan mengenai hidupnja sendiri, tetapi kebebasan itu disertai suatu tanggungdjawab.  Ia bertanggungdjawab kepada Tuhan atas segala apa jang diperbuatnja terhadap hidupnja.  Manusia dapat menerima karunia jang disebut hidup itu, tetapi iapun dapat menolaknja, hal mana merupakan suatu perbuatan yang amat mengerikan, sebab menolak hidup berarti membunuh diri.[65]

Menurut Hauerwas yang dikutip oleh Moreland menyatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah salah karena hidup adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh sang Pencipta.  Oleh karena hidup ini adalah sebuah pemberian, maka manusia bertanggung jawab kepada Allah untuk hidup.[66]

  1. Bunuh diri melanggar Hukum keenam “Jangan Membunuh

Tindakan bunuh diri adalah tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan karena bunuh diri sendiri telah melanggar perintah Tuhan di dalam Sepuluh Hukum yaitu Hukum Keenam yang berbunyi “Jangan Membunuh” (Kel. 20:13; Ul. 5: 17).  Geisler sendiri menegaskan hal ini “Karena bunuh diri juga merupakan suatu bentuk pembunuhan, maka juga termasuk pelanggaran.”[67] Robertson McQulkin juga menyatakan bahwa bunuh diri salah atau dosa karena itu adalah pelanggaran akan larangan mengambil nyawa manusia.[68]

Di dalam Katekismus Singkat Westminster berkenaan dengan perintah keenam menyatakan:

(P. 68) Apakah yang dituntut dalam perintah keenam?  Perintah keenam menuntut kita untuk melakukan segala usaha yang dibenarkan untuk memelihara kehidupan kita dan kehidupan orang lain. (P. 69)  Apa yang dilarang dalam perintah keenam?  Perintah keenam melarang kita mengambil nyawa kita sendiri (Kis. 16:28) atau pun sesama kita secara tidak adil, atau melakukan perbuatan apa pun yang mempunyai kecenderungan demikian.[69]

Mengapa manusia tidak boleh membunuh dan dibunuh?  Karena sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah segambar dan serupa dengan-Nya, maka kita adalah ciptaan yang sangat berharga di mata-Nya.  Manusia yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya juga menyatakan bahwa manusia adalah wakil Allah di mana terpancar akan karakter dan sifat Allah di dalamnya.  Oleh karena itu, ketika seseorang membunuh ‘gambar Allah’, maka dia melakukan kekerasan terhadap Tuhan sendiri–“as if he had killed God in effigy.”[70] Kejadian 9:6 menyatakan “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”

Mengenai hal ini juga, James F. Childress and John Macquarrie menyatakan “an offense against the proper love of one’s own person as a creature made in God’s image to share his glory, a violation of the Sixth Commandment, and an act of despair which precludes repentance.”[71] Douma dalam hal ini juga menambahkan: “We may not kill our neighbor because he is created in the image of God.  But this applies to us as well.  We may not destroy the image of God that we ourselves are.  With Christian style, we must try to bear up under those troubles that can pressure us to consider suicide as a way out.[72] Oleh karena itu, kita tidak boleh membunuh diri kita sendiri karena kita adalah ciptaan Allah yang agung dan mulia.

  1. Bunuh diri melanggar akan kedaulatan Tuhan

Di dalam Ulangan 32:39 Tuhan Allah menyatakan: ”Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia.  Tidak ada Allah kecuali Aku.  Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan…”.   Hana di dalam doanya mengakui bahwa “TUHAN mematikan dan menghidupkan” (I Sam. 2:6).  Pengkotbah 8:8 menyatakan: ” Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian. Tak ada istirahat dalam peperangan, dan kefasikan tidak melepaskan orang yang melakukannya.” Jelas bahwa Allah-lah yang berdaulat atas kehidupan manusia.  Allah yang menciptakan hidup manusia dan Allah sendirilah yang memiliki hak untuk mengambil nyawa manusia.[73] Menurut Walter C. Kaiser, Allah sendiri adalah pemberi dan pemelihara kehidupan, oleh karena itu hanya Allah saja yang berhak mengambilnya kembali.[74] Menurut James F. Childress and John Macquarrie, dosa melawan Allah sebagai Pencipta dan Penebus, juga merupakan penolakan akan kasih dan kedaulatan-Nya.[75]

Dengan demikian, Firman Tuhan juga menolak akan pandangan bahwa manusia memiliki hak secara individu untuk menentukan nasib hidupnya sendiri termasuk di dalamnya adalah hak untuk mati (the right to die).  Hidup manusia bukanlah milik manusia sendiri (otonom) tetapi jelas sekali bahwa hidup manusia adalah milik Allah dan Allah sendiri yang memiliki hak untuk ‘mencabut’nya.  Selain itu, walaupun manusia memiliki kebebasan, Tuhan juga memberikan kepada manusia tanggung jawab yaitu bagaimana menggunakan kehidupan yang diberikan oleh-Nya dengan baik dan penuh tanggung jawab.[76] Oleh karena itu, Tuhan Allah juga memberikan mandat kepada manusia ketika Allah menciptakannya (Kej. 1:28).

  1. Bunuh diri melanggar hukum kasih.

Di dalam Matius 22:39 Tuhan Yesus memberikan hukum kasih yang berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Paulus pun menyatakan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri sebab tidak pernah seorang yang membenci tubuhnya sendiri, tetapi jusru mengasuhnya dan merawatinya (Ef. 5:28-29).  Hal ini menegaskan bahwa jika kita mengasihi diri kita sendiri, mengapa kita tega ‘menyakiti’ tubuh kita dengan membunuhnya?  Tentu ini menegaskan bahwa orang yang melakukan tindakan bunuh diri tidak mengasihi atau menyayangi akan tubuhnya.

Menurut Josh McDowell dan Norman Geisler menyatakan :

Mengambil nyawa itu salah, bahkan nyawa diri sendiri.  Bunuh diri adalah tindakan kebencian terhadap diri sendiri, tepat sebagaimana pembunuhan adalah tindakan kebencian terhadap orang lain.  Bunuh diri sama salahnya dengan pembunuhan, sebab melanggar perintah mengasihi diri sendiri, tepat sebagaimana pembunuhan melanggar perintah mengasihi orang lain.  Kasih bertentangan dengan kedua tindakan ini.  Bunuh diri adalah tindakan mementingkan diri sendiri mengakhiri kesulitan kita tanpa memperdulikan tindakan membantu orang lain berurusan dengan kesulitan mereka.  Mengambil jalan keluar yang “mudah” dari kesulitan hidup bukanlah jalan keluar yang paling penuh kasih dan bertanggung jawab.  Kasih tidak pernah kehilangan tujuan hidup.  Seseorang yang berfokus pada tindakan melindungi dan mencukupi kebutuhan orang lain tidak mempunyai alasan untuk membenci kehidupannya sendiri.  Mengasihi adalah obat penawar bagi godaan menghancurkan diri sendiri.[77]

Jadi, tindakan bunuh diri bertentangan dengan hukum kasih yang telah diajarkan oleh Yesus kepada kita.  Walaupun demikian, hukum kasih di sini berbeda dengan etika situasi yang juga mendasari tindakannya dengan kasih yang justru menyetujui tindakan bunuh diri dengan alasan “mengasihi” orang yang akan menanggung akibat jika ia tidak melakukan bunuh diri.  Dasar sama tetapi tujuan berbeda.   Etika situasi cenderung untuk diri sendiri sedangkan hukum kasih demi kemuliaan Tuhan.

  1. Bunuh diri  melanggar kewajiban di dalam masyarakat.

Menurut Hauerwas seseorang tidak boleh memiliki keinginan untuk bunuh diri karena kewajibannya terhadap orang lain di dalam masyarakat.  Seseorang tidak boleh berpikir bahwa dia seorang pribadi yang terpisah dari masyarakat.  Keberadaan seseorang tergantung pada interaksi dengan sesama di dalam masyarakat.  Kesediaan mereka untuk hidup dalam menghadapi kesakitan, kebosanan dan penderitaan adalah : pertama,  sebuah pelayanan moral untuk satu dengan lainnya; kedua, tanda bahwa kehidupan dapat dipikul; ketiga, sebuah kesempatan untuk mengajarkan kepada yang lainnya bagaimana untuk mati, bagaimana untuk menghadapi kehidupan, bagaimana hidup baik dan bagaimana seorang bijak memahami hubungan antara kebahagiaan dan kejahatan.  Sebuah tindakan bunuh diri menunjukkan kegagalan sebuah komunitas untuk mempedulikan orang yang bunuh diri ketika orang tersebut membutuhkan pertolongan dan itu menjadi tanda ketiadapedulian terhadap komunitas.[78]

Mengenai hal ini, James F. Childress and John Macquarrie menyatakan “an offense against humankind in that it both deprives society and one’s own family of a member prematurely and also denies them any opportunity of ministering to one’s needs.”[79]

6.  Bunuh diri melanggar iman kita kepada-Nya

Karena umumnya bunuh diri dihubungkan dengan penderitaan dan kesusahan, maka dalam ini orang yang melakukan bunuh diri tidak mempercayai hidupnya pada Tuhan.  Mereka sering kali merasa bahwa sudah tidak ada lagi harapan di dalam dunia ini bagi masa depan mereka.  Di sisi lain, Allah bagi mereka sudah ‘tidak ada lagi’ karena mereka tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhan.  Oleh karena itu, di dalam kedepresian mereka, mereka mengambil keputusan untuk melakukan bunuh diri.  Hanya saja, tampak bahwa mereka yang melakukan tindakan bunuh diri tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kepada pemeliharaan Tuhan yang hidup dan mahakuasa.  Menurut Bonhoeffer, tindakan bunuh diri adalah tindakan yang berdosa di hadapan Tuhan karena menunjukkan hidup yang kurang beriman.[80] R.C. Sproul juga menekankan bahwa “Allah tidak membenarkan kita untuk bunuh diri.  Bunuh diri, dalam ungkapannya yang penuh, melibatkan seorang yang menyerah pada keputusasaan.  Apapun kerumitan bunuh diri yang terlibat dalam penghakiman Allah, kita tahu bahwa bunuh diri tidak diberikan pada kita sebagai pilihan untuk kematian.[81]

C. Ben Mitchell menyatakan jika seseorang menyadari bahwa Tuhan adalah berdaulat dan baik hati, serta tak seorang pun lepas dari penderitaan, maka keinginan untuk melakukan bunuh diri itu akan surut.  Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu dan bekerja di dalam segala sesuatu bagi kemuliaan milik-Nya dan untuk kebaikan kita, maka kita akan dapat bertekun melewati penderitaan kita[82] (Roma 8:28).

KESIMPULAN DAN SIKAP KITA

Kesimpulan

Dari apa yang telah diuraikan di atas, penulis mengambil kesimpulan: pertama, tindakan bunuh diri pada umumnya didorong oleh rasa frustasi dan depresi yang membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar untuk segala macam permasalahan mereka; kedua, tindakan bunuh diri termasuk tindakan ‘pemberontakan’ terhadap kedaulatan Tuhan; jadi bunuh diri adalah dosa; ketiga, tindakan bunuh diri secara etis tidak dapat dibenarkan walaupun dengan alasan menghindari dari penderitaan dan kesusahan dan keempat, tindakan bunuh diri secara etis tidak dapat dibenarkan karena telah melanggar salah satu dari Sepuluh perintah Tuhan yaitu hukum keenam : Jangan Membunuh.

Sikap Kita Terhadap Bunuh Diri

Sikap kita di dalam menghadapin mereka yang mengambil tindakan bunuh diri adalah : pertama, terhadap mereka yang melakukan bunuh diri, kita jangan hanya melakukan pendekatan secara etika – benar atau salah – tetapi juga melakukan pendekatan secara empatik dan psikologis yaitu dengan melihat dan memahami apa yang menjadi pergumulan dan alasannya untuk melakukan bunuh diri; kedua, janganlah kita mengambil sikap ‘menghakimi’ mereka yang hendak dan telah mengambil tindakan bunuh diri, karena hak untuk menghakimi hanya pada Allah saja;[83] ketiga, terhadap mereka yang hendak melakukan bunuh diri, kita harus menjaga dirinya dengan baik, memberikan perhatian dan kasih yang cukup serta berkomunikasi dengan mereka; keempat, ketika kita berada di dalam pergumulan yang berat, bersandar penuh pada Allah yang memelihara kehidupan kita.  Allah tahu apa yang terbaik bagi kita demi kebaikan kita sendiri (Roma 8:28).

DAFTAR PUSTAKA

Augustine, Saint. The City of God. Ed. Vernon J. Bourke; New York: Image Books, 1958

Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia, 1999

________. Perspektif Etika. Yogyakarta: Kanisius, 2001

Blocher, Mark The Right to Die?. Chicago: Moody Press, 1999

Bonhoeffer, Dietrich. Ethics. New York: Touchstone, 1995

Clark, David K. dan Robert V. Rakestraw, “The Nature of Ethics” dalam Reading in Christian

Ethics Volume 1: Theory and Method. Ed. David K. Clark dan Robert V. Rakestraw;

Grand Rapis: Baker, 1994

Darmaputera, Eka. Etika Sederhana Untuk Semua : Perkenalan Pertama. Jakarta : BPK Gunung

Mulia, 1996

________. Sepuluh Perintah Allah Museumkan Saja. Yogyakarta : Gloria Graffa, 2005

Dorff, Elliot N.  Matters of Life and Death. Philadelphia: The Jewish Publication Society, 1998

Douma, J. The Ten Commandments. Phillipsburg: P & R Pub, 1996

Exegetical Dictionary of The New Testament Volume 1. Ed. Horst Balz dan Gerhard Schneider;

Grand Rapids : William B. Eerdmans, 1990

Feinberg, John S.  “Euthanasia An Overview” dalam Suicide – A Christian Response. Ed.

Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998

Feinberg, John S.  dan Paul D. Feinberg, Ethics For A Brave New World. Wheaton: Crossway,

1993

Geisler, Norman L. Etika Kristen : Pilihan dan Isu. Malang: SAAT, 2000

Greist, John H. dan James W. Jefferson, Depresi dan Penyembuhannya. Jakarta: BPK Gunung

Mulia, 1987

Kaiser, Walter C. Toward Old Testament Ethics . Grand Rapids: Zondervan, 1983

Larson, Edward J. dan Darrel W. Amundsen, A Different Death. Downers Grove: InterVarsity

Press, 1998

Louw, Johannes P. dan Eugene A. Nida. Greek-English Lexicon of the New Testament Volume 1.

New York: United Bible Societies, 1989

Magnis Suseno, Frans. Etika Dasar. Yogyakarta: Kanisius, 1987

________. Tiga Belas Model Pendekatan Etika. Yogyakarta: Kanisius, 1998

Maris, Ronald W. “The Evolution of Suicidology dalam Suicidology. Northvale: Jason

Aronson, 1993

McDowell, Josh dan Norman Geisler, Kasih Itu Selalu Benar. Jakarta : Professional, 1996

McQulkin, Robertson. An Introduction To Biblical Ethics. Wheaton: Tyndall House, 1989

Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary. Springfield: Merriam-Webster, 2000

Mitchel, C. Ben. Suicide And The Problem of Evil dalam buku Suicide – A Christian Response

Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998

Moreland, J.P. “The Morality of  Suicide dalam Suicide – A Christian Response. Ed. Timothy J.

Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998

Paris, John J.  dan Michael P. Moreland, “A Chatolic Perspective on Physian-Assisted Suicide

dalam Physician Assisted Suicide. Ed. Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita

Silvers; New York: Routledge, 1998

Pfeffer, Cynthia R. “Suicidal Children” dalam Suicidology. Northvale: Jason Aronson, 1993

Poerwadarminta, W.J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1995

Rakestraw, Robert V. “Ethical Choices : A Case for Non-conflicting Absolutisme” dalam

Reading in Christian Ethics. Ed. David K. Clark dan Robert V. Rakestraw; Grand Rapis:

Baker, 1994

Smith, Linda dan William Raeper. Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Yogyakarta:

Kanisius, 2000

Sproul, R.C. Hai Maut Di manakah Sengatmu? . Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Soubrier, Jean Pierre. “Definitions of Suicide dalam  Suicidology. Northvale: Jason Aronson,

1993

The Westminster Dictionary of Christian Ethics. Ed. James F. Childress and John Macquarrie .

Philadelphia: The Westminster Press, 1986

Uhlmann, Michael M. “Western Thought on Suicide : From Plato to Kant dalam Last Rights? –

Assisted Suicide and Euthanasia Debated. Ed. Michael M. Uhlmann; Grand Rapids:

William B. Eerdmans, 1998

Verkuyl, J. Etika Kristen Kapita Selekta. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966

Williamson, GI. Katekismus Singkat Westminster 2 . Surabaya: Momentum, 2006

Zodhiates, Spiros The Hebrew-Greek Key Study Bible. Chattanoga: AMG, 1996

Zohar, Noam J.  “Jewish Deliberations on Suicide” dalam Physician Assisted Suicide. Ed.

Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita Silvers; New York : Routledge, 1998

Jurnal

Aloysius Soesilo, “Moralitas Bunuh Diri” dalam KRITIS No. 1/Th IX Juli-September 1994, 49

Internet

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/ibu-ajak-empat-anaknya-bunuh-diri-3.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide

http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2007100902314712


[1]http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/ibu-ajak-empat-anaknya-bunuh-diri-3.html

[2]“Data WHO:50 Ribu Orang WNI Bunuh Diri Per Tahun” dalam http://www.lampungpost.com/cetak/ berita.php?id=2007100902314712

[3]Data WHO yang dikeluarkan pada tahun 2005 dinyatakan bahwa negara yang paling tinggi tingkat bunuh dirinya adalah negara Lituania dengan rata-rata 42 orang per 100.000 penduduk di tahun 2003.  (Tentang daftar bunuh diri negara-negara di dunia lihat “Daftar negara menurut tingkat bunuh diri” dalam  http://id.wikipedia.org/wiki/ Daftar_negara_menurut_tingkat_bunuh_diri)

[4]Exegetical Dictionary of The New Testament Volume 1 (Ed. Horst Balz dan Gerhard Schneider; Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1990) 114

[5]Johannes P. Louw dan Eugene A. Nida, “apagcomai”” dalam Greek-English Lexicon of the New Testament Volume 1 (New York: United Bible Societies, 1989) 238

[6]Ronald W. Maris, “The Evolution of Suicidology dalam Suicidology (Northvale: Jason Aronson, 1993) 3

[7]Jean Pierre Soubrier, “Definitions of Suicide” dalam  Suicidology (Northvale: Jason Aronson, 1993) 36

[8]W.J. S., Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995) 169

[9]http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide

[10]Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary (Springfield: Merriam-Webster, 2000) 1174

[11]J.P. Moreland, “The Morality of  Suicide” dalam Suicide – A Christian Response (Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998) 186

[12]Di dalam The Westminster Dictionary of Christian Ethics dikatakan “Discussion on the morality of suicide are often confused by a failure to distinguish between the willing surrender of one’s life and the deliberate taking of it.” (The Westminster Dictionary of Christian Ethics [Ed. James F. Childress and John Macquarrie (Philadelphia: The Westminster Press, 1986] 609)

[13]http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri

[14]John H. Greist dan James W. Jefferson, Depresi dan Penyembuhannya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987) 36-38.  Untuk penyebab bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak, Cynthia R. Pfeffer menberikan beberapa penyebab yaitu : anak-anak yang mengalami masalah-masalah kejiwaan, krisis disiplin di dalam rumah dan sekolah, dari keluarga yang bermasalah contohnya bercerai, mengalami depresi dan stress di dalam lingkungannya, korban kekerasan dan sexual abuse yang dilakukan anggota keluarganya, kemiskinan, hidup yang tidak memiliki harapan, mengalami penolakan, tidak mendapatkan penolakan, dan sebagainya (Cynthia R. Pfeffer, “Suicidal Children dalam buku Suicidology [Northvale: Jason Aronson, 1993] 180-181)

[15]J. Douma, The Ten Commandments (Phillipsburg: P & R Pub, 1996) 224

[16]John S. Feinberg, “Euthanasia An Overview” dalam Suicide – A Christian Response (Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998) 165

[17]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966) 188-189.

[18]David Hume (1711-1776) lahir dan meninggal di Edinburgh.  Hume adalah seorang skeptis yang hebat dan filsafatnya menyatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui baik diri kita sendiri maupun dunia.  Hume mengkritik pengetahuan akan dunia, diri dan Allah.  Dia juga tidak percaya akan mujizat dan baginya mujizat  adalah “pengkhianatan terhadap hukum alam.” (Linda Smith dan William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang [Yogyakarta: Kanisius, 2000] 71-74)

[19]Michael M. Uhlmann, “Western Thought on Suicide : From Plato to Kant” dalam Last Rights? – Assisted Suicide and Euthanasia Debated (Ed. Michael M. Uhlmann; Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1998) 35-37.

[20]Orang-orang yang memiliki pandangan utilititarianisme dan otonom dipandang oleh Moreland sebagai kalangan etika liberal. (J.P. Moreland, The Morality of  Suicide 187-188)

[21]Ibid. 187.

[22]Right to die” digunakan oleh mereka yang mendukung hak untuk menolak pengobatan secara medis bagi mereka yang mengalami sakit ‘terminal’ dan oleh mereka yang mendukung akan bunuh diri yang dianjurkan (assisted suicide) dan euthanasia (Mark Blocher, The Right to Die?, 91)

[23]http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri

[24]K. Bertens, Perspektif Etika (Yogyakarta: Kanisius, 2001) 130

[25]Etika situasi adalah pandangan etika di mana tindakannya berdasarkan kasih dan bukan pada peraturan.  Etika situasional diuraikan melalui enam proposisi yaitu pertama, hanya satu hal yang secara intrinsik baik; yaitu kasih:tidak ada yang lain; kedua, norma yang mengatur keputusan Kristen adalah kasih dan tidak ada yang lain; ketiga, kasih dan keadilan sama karena keadilan adalah kasih yang didistribusikan dan tidak ada yang lain; keempat, kasih menghendaki kebaikan sesama tidak pandang kita menyukai atau tidak; kelima, tujuan yang mengasihi membenarkan cara apapun dan keenam, keputusan-keputusan dibuat secara situasional  (Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu [Malang: SAAT, 2000] 50-60)

[26]Aloysius Soesilo, “Moralitas Bunuh Diri” dalam KRITIS No. 1/Th IX Juli-September 1994, 49.

[27]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 62

[28]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 188

[29]Phaedo adalah karya dari Plato yang ditujukan untuk mengingat akan gurunya yaitu Sokrates.  Phaedo sendiri menceritakan saat-saat terakhir Sokrates dengan membela keabadian jiwa.  Sokrates mengambil hemlock (racun) dan terus berbicara dengan teman-temannya sampai racun itu bereaksi. Sewaktu dia mati, ia bahagia bahwa di dunia berikut ia dapat terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang tidak dapat dibunuh lagi sebab waktu itu ia telah menjadi abadi. (Linda Smith dan William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu 13)

[30]Michael M. Uhlmann, “Western Thought on Suicide: From Plato to Kant “ dalam Last Rights? – Assisted Suicide and Euthanasia Debated 17

[31]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 189

[32]Michael M. Uhlmann, “Western Thought on Suicide” 18-19

[33]Aloysius Soesilo, ‘Moralitas Bunuh Diri’ 47. Augustine dalam The City of God menyatakan: “It is significant that in Holy Scripture no passage can be found enjoining or permitting suicide either in order to hasten our entry into immortality ot to void or avoid temporal evils.  God’s command, ‘Thou shalt not kill,’ is to be taken as forbidding self destruction, especially as it does not add ‘thy neighbor,’ as it does when it forbids false witness,”Thou shalt not bear witness against thy neighbor.’…It only remains for us to apply the commandment, “Thou shalt not kill,’ to man alone, oneself and others.  And, of course, one who kills himself kills a man.” (Saint Augustine, The City of God (Ed. Vernon J. Bourke; New York: Image Books, 1958] 55-56)

[34]Michael M. Uhlmann,”Western Thought on Suicide” 27

[35]Edward J. Larson dan Darrel W. Amundsen, A Different Death (Downers Grove: InterVarsity Press, 1998) 125

[36]Michael M. Uhlmann, Western Thought on Suicide 42

[37]Jean Pierre Soubrier, Definitions of Suicide 35

[38]Dietrich Bonhoeffer, Ethics (New York: Touchstone, 1995) 166

[39]Ibid. 167.

[40]John J. Paris dan Michael P. Moreland, “A Chatolic Perspective on Physian-Assisted Suicide” dalam Physician Assisted Suicide (Ed. Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita Silvers; New York: Routledge, 1998) 326

[41]Noam J. Zohar, “Jewish Deliberations on Suicide” dalam Physician Assisted Suicide (Ed. Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita Silvers; New York: Routledge, 1998) 364.

[42]Kisah yang mengharukan sekaligus heroik adalah Kisah Masada di mana ketika orang Yahudi diserang oleh bangsa Romawi pada tahun 1973 mereka lari dan masuk ke benteng Masada.  Karena tidak ingin dibunuh oleh musuh maka mereka saling membunuh dan terakhir mereka melakukan bunuh diri.  Josephus mencatat ada 960 orang yang melakukan bunuh diri bersama.  Lihat buku Edward J. Larson dan Darrel W. Amundsen, A Different Death (Downers Grove: InterVarsity Press, 1998) 38-50.

[43]Elliot N. Dorff, Matters of Life and Death (Philadelphia: The Jewish Publication Society, 1998) 183.  Menurut Mark Blocher, bunuh diri yang dapat digolongkan kepada tindakan hero dan martir yaitu “(1) they are responses to the needs of others or to divine commands; (2) the means of death are not under the individual’s control; and (3) death is a consequence of the objective to protect others or obey God.”  (Mark Blocher, The Right to Die? [Chicago : Moody Press, 1999] 76)

[44]Eka Darmaputera, Sepuluh Perintah Allah Museumkan Saja (Yogyakarta: Gloria Graffa, 2005) 148

[45]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 26

[46]Kata ‘telos’ dapat berarti: berakhir, penghentian, penyelesaian, tujuan, maksud.  Arti “telos” dapat berarti dari segi (1) waktu yaitu berakhirnya segala sesuatu atau generasi (Mat. 10:22; 24:6; 24:13,14); penyelesaian akan rencana Allah (Yoh. 13:1; 1Kor. 10:11); akhir dari kehidupan (1Kor. 1:8; 2Kor. 1:13; Ibr. 3:6, 14). (2) sebuah hasil, akibat, konsekuensi (Mat. 26:58) (3).  Tujuan, sasaran (I Tim. 1:5) (The Hebrew-Greek Key Study Bible [Ed. Spiros Zodhiates; Chattanoga : AMG, 1996] 1679)

[47]John S. Feinberg dan Paul D. Feinberg, Ethics For A Brave New World (Wheaton: Crossway, 1993) 27.

[48]Eka Darmaputera, Etika Sederhana Untuk Semua : Perkenalan Pertama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 11-12.

[49]K. Bertens, Etika (Jakarta: Gramedia, 1999) 235-236.

[50]Ibid. 237.

[51]Ibid. 247-248.

[52]Frans Magnis-Suseno, Tiga Belas Model Pendekatan Etika (Yogyakarta: Kanisius, 1998) 173-174

[53]J.P. Moreland, The Morality of Suicide 188

[54]Johannes P. Louw dan Eugene A. Nida, “dei” dalam Greek-English Lexicon of the New Testament Volume 1 670-672

[55]David K. Clark dan Robert V. Rakestraw, “The Nature of Ethics” dalam Reading in Christian Ethics Volume 1: Theory and Method (Ed. David K. Clark dan Robert V. Rakestraw; Grand Rapis: Baker, 1994) 20

[56]Robert V. Rakestraw, “Ethical Choices: A Case for Non-conflicting Absolutisme” dalam Reading in Christian Ethics 121

[57]Frans Magnis Suseno, Etika Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1987) 102

[58]K. Bertens, Etika 254-255.

[59]Eka Darmaputera, Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama 12

[60]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 101

[61]Beberapa dasar pikiran utama yang merupakan sikap dari orang yang memegang pandangan etika absolutisme total yaitu pertama, karakter Allah yang tidak berubah merupakan dasar dari hal-hal moral yang mutlak; kedua, Allah telah menyatakan karakter moral-Nya yang tidal berubah di dalam hukum-Nya; ketiga, Allah tidak dapat mempertentangkan diri-Nya; keempat, karena itu, tidak ada dua hukum moral yang mutlak yang benar-benar dapat bertentangan dan kelima, seluruh konflik-konflik moral itu hanya kelihatannya saja konflik, tetapi sebenarnya tidak konflik (ibid. 106).

[62]Ibid. 5.

[63]Ibid. 105.

[64]Ibid. 24-25.

[65]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 188

[66]J.P. Moreland, The Morality of Suicide 189

[67]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 208

[68]Robertson McQulkin, An Introduction To Biblical Ethics (Wheaton: Tyndall House, 1989) 330

[69]GI Williamson, Katekismus Singkat Westminster (Surabaya: Momentum, 2006) 2.89

[70]Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics (Grand Rapids: Zondervan, 1983) 167

[71]The Westminster Dictionary of Christian Ethics 609

[72]J. Douma, The Ten Commandments 224-225.

[73]Norman L. Geisler, Etika Kristen : Pilihan dan Isu 207

[74]Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics 164

[75]The Westminster Dictionary of Christian Ethics 609

[76]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 188.

[77]Josh McDowell dan Norman Geisler, Kasih Itu Selalu Benar (Jakarta: Professional, 1996) 298.

[78]J.P. Moreland, The Morality of Suicide 190

[79]The Westminster Dictionary of Christian Ethics 609

[80]Dietrich Bonhoeffer, Ethics 166

[81]R.C. Sproul, Hai Maut Di manakah Sengatmu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 61

[82]C. Ben Mitchel, Suicide And The Problem of Evil dalam buku Suicide – A Christian Response (Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998) 206

[83]Banyak yang menghakimi bahwa orang yang melakukan tindakan bunuh diri telah melakukan dosa yang paling besar dan ‘pasti’ masuk ke neraka.  Dalam hal ini, Verkuyl menyatakan bahwa pendapat bahwa dosa bunuh diri tidak dapat diampuni adalah terlalu berlebihan.  Ketika seorang anak Tuhan menghadapi pergumulan yang berat dan pada saat itu imannya ‘kurang’ dan merasa tidak ada jalan keluar baginya, mungkin saja dia dapat mengambil tindakan ini. (J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 190). Selain itu, tindakan bunuh diri ini adalah tindakan membunuh yang dapat diampuni.  Hanya saja yang dibunuh adalah dirinya sendiri.

Advertisements

CH’I DAN ROH KUDUS SUATU STUDI PNEUMATOLOGI DALAM KONTEKS AGAMA TAO 26/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
add a comment

Oleh: GI Santobi, M. Div.

PENDAHULUAN

Di kalangan gereja Injili, doktrin Roh Kudus tidaklah dianggap penting atau hal yang utama.  Hal ini tampak dari buku-buku Sistimatika Teologi yang ditulis oleh para sarjana Injili.[1] Mereka lebih cenderung menekankan doktrin Allah dan Kristus daripada Roh Kudus.  Bahkan  Packer menganggap Roh Kudus sebagai “Cinderella” ajaran Kristen saat ini.[2] Hal ini justru berbeda dengan apa yang terjadi di kalangan Pentakosta dan Karismatik.  Mereka dapat dikatakan “sangat menekankan” peran dan karya Roh Kudus di dalam kehidupan gereja dan orang percaya secara pribadi.

Di kalangan gereja ekumenikal atau di dalam World Council of Churches (WCC), pada tahun-tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan minat terhadap Roh Kudus.  Hal ini tampak dari tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh sekolah-sekolah teologi dari kalangan mereka.  Ada dua alasan utama mengapa kalangan ekumenikal “kembali” berminat terhadap doktrin Roh Kudus.  Pertama, masuknya gereja-gereja Ortodoks Timur – di mana Roh Kudus sangat berperan penting – ke dalam organisasi ekumenikal ini (WCC).  Hal ini memberikan pengaruh kepada gereja-gereja lainnya yang mulai membuka akan keterlibatan Roh Kudus di dalam kehidupan rohani orang percaya. Kedua, perkembangan yang luar biasa dari gerakan Pentakosta dan Karismatik ke seluruh dunia membuat orang-orang Kristen lainnya mulai tersadar akan pentingnya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.[3]

Seiring dengan hal tersebut, mulai muncul pemikiran untuk “menafsirkan kembali” doktrin Roh Kudus di dalam konteks di mana orang percaya itu berada.  Karkkainen menekankan akan hal ini :”the challenge given to theology in its reflection on the Holy Spirit is to retrieve concrete, particular aspects of the pneumatological tradition.”[4] Lee juga menyatakan bahwa setiap penyataan teologi adalah kontekstual[5] yang artinya merupakan respon dari isu yang ada dan muncul dari konteks itu sendiri.  Berkenaan dengan ini, gereja-gereja di Asia pada masa sekarang ini tertantang untuk “menciptakan” sebuah teologi yang “berkonteks” Asia terlebih lagi dunia Asia yang pluralistik.[6] Lee sendiri menekankan akan hal ini :

Most Third World people have a pluralistic context where many different religions and cultures coexist in their lives.  The more pluralistic their context is, the more pluralistic interpretations they would make of the Trinity.  What I have attempted here is to provide one of many possible interpretations of the Trinity from the perspective of an Asian context.[7]

Salah satu agama yang muncul dan berkembang di Asia khususnya di Asia Timur adalah agama Tao.  Agama Tao ini merupakan agama yang muncul dari kepercayaan kuno orang China selama berabad-abad yang memiliki inti kepercayaan di dalam hukum keseimbangan Yin Yang.  Hal ini digambarkan secara jelas dari I Ching (Kitab Perubahan) yang dimiliki oleh orang China selama berabad-abad.  Prinsip Yin Yang ini menekankan akan keharmonisan dari alam semesta atau kosmologi.  Lee yang mengutip dari lampiran (the appendix) I Ching menyatakan “There is the Absolute which produced the two forms, yin and yang; and the yin and yang between them produced all things…. One yin and one yang constituted what is called Tao.”[8] Ching juga menyatakan :”Philosophical Taoism is only one of several strands that converged to make up religious Taoim.  The others include ideas from the Yin-Yang school, which understands the natural order under the two complementary yet antithetical aspects of the Tao, and the Five Agents school.”[9]

Dari prinsip Yin Yang ini muncul energi yang merupakan roh atau energi “penggerak” dari semua perubahan yang terjadi di dalam alam semesta ini yang disebut dengan “ch’i”.  Ch’i inilah yang dianggap Roh Kudus dan nafas atau jiwa manusia di dalam pengajaran Kristen karena kata ch’i disamakan dengan kata Ibrani “ruakh” (Perjanjian Lama) dan kata Yunani “pneuma” (Perjanjian Baru) yang dapat diartikan sebagai “roh”, “nafas/jiwa” dan “angin”.

Oleh karena melihat pengertian atau pemahaman ch’i yang demikian, maka ada beberapa penulis/teolog Kristen[10] yang telah menafsirkan dan mengkontekstualisasikan ch’i sebagai Roh Kudus.  Mereka mencoba untuk “mendaratkan” doktrin Roh Kudus sebagai ch’i di dalam konteks Asia Timur khususnya China sehingga orang-orang yang tinggal di negara-negara tersebut atau lebih tepatnya para penganut Tao dapat memiliki kesamaan konsep dan pengertian khususnya tentang doktrin Roh Kudus tersebut yang diyakini oleh orang-orang Kristen.  Dengan demikian, pemahaman yang sama ini dapat menjadi “jembatan” dialog antara orang Kristen dengan para penganut Tao supaya tercipta saling menghargai dan menghormati.  Di sisi lain, pemahaman ini dapat menjadi “jalan masuk” injil Kristus disampaikan.

Di dalam tulisan ini, penulis mencoba meninjau apakah usaha kontekstualisasi tersebut sesuai dengan Firman Tuhan.  Tinjauan ini akan dilakukan dengan membandingkan antara Ch’i dan Roh Kudus yaitu dengan memberikan gambaran tentang Ch’i dan Roh Kudus sendiri menurut Firman Tuhan.  Selanjutnya akan dianalisa apakah tepat konsep ch’i dipakai untuk salah satu oknum Allah Tritunggal, Roh Kudus ini.

DEFINISI, ASAL USUL DAN KONSTEKSTUALISASI CH’I SEBAGAI ROH KUDUS

Definisi  Ch’i

Konsep pemikiran China tentang Chi dikembangkan oleh para filsuf seperti Lao-tzu, Kong Fu Tzu (Konfusius), Men Zi (Mencius) dan lainnya antara abad enam dan empat sebelum Masehi.[11] Menurut Kamus Besar China-Indonesia, ch’i (qi) berarti gas, udara, nafas, bau, hawa/cuaca, sikap, semangat, jiwa, kemarahan, dan hina.[12] Menurut Simpkins, kata ch’i sama dengan kata Yunani Pneuma dan kata Sansekerta Prana yang berarti napas, pernapasan, angin, dan spirit yang vital, jiwa.  Menurutnya, segala sesuatu di alam semesta, baik yang bergerak dan tidak bergerak, merupakan bagian dari samudra luas ch’i.  Segala sesuatu adalah ch’i baik materi padat maupun energi.[13]

Sedangkan menurut Skinner, “Ch’i, roh yang vital, mengisi dunia pemikiran para Taois. Ch’i adalah Roh Kosmis yang menghidupkan dan menginfus semua hasil cipta alam, memberikan energi kepada manusia, kehidupan kepada alam, pergerakan kepada air dan pertumbuhan kepada tanaman….Keberadaan orang adalah karena Ch’i, sedangkan Ch’i berada di dalam diri orang.”[14]

Sedangkan menurut Wikipedia, chi adalah : “Qi, also commonly spelled ch’i (in Wade-Giles romanization) or ki (in Romanized Japanese), is a fundamental concept of traditional Chinese culture.  Qi is believed to be part of every living thing that exist, as a kind of “life force” or “spiritual energy.”  It is frequently translated as “energy flow,” or literally as “air” or “breath.”[15]

Menurut Sarah Rossbach ada dua macam ch’i.  Dia menyatakan : “In Chinese, the character ch’i has two meanings : one cosmic, one human.  Heaven’s ch’i encompasses air, steam, gas, weather, and force.  Man’s ch’i includes breath, aura, manner, and energy.  The two types of ch’i are far from separate.  Man’s ch’i is strongly influenced by the ch’i of both heaven and earth.”[16]

Lee sendiri memberikan pengertian chi sebagai berikut :

The cosmic dimension of spirit is expresses in the idea of ch’i, the vital energy which is the animating power and essence of the material body.  Ch’i (or ki in Korean) is almost identical with ‘spirit,” ruach in Hebrew and pneuma in Greek, both of which are often translated as “wind” or “breath.”  The word “ruach” has its etymological origin in air, which manifest itself in two distinctive forms; that of wind in nature and that of breath in living things.  A similar idea is found in the Sanskrit word prana, which means “breath,” denoting the breath of life.[17]

Dari beberapa definisi di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa ch’i dapat diartikan sebagai nafas, angin, roh atau jiwa.  Ch’i ini juga menunjuk kepada nafas atau jiwa manusia dan Roh Kosmis yang menghidupkan dan memberikan energi di dalam mempertahankan kehidupan di dalam dunia ini.

Aplikasi Ch’i di dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa aplikasi dan praktek dari ch’i di dalam kehidupan sehari-hari adalah:

1.  Ch’i Kung/Tai Chi/Wai Tan Kung

Ch’i Kung adalah seni bangsa China yang membantu manusia untuk bekerja dengan banyak energi yang telah dianugerahkan padanya supaya energi itu dapat ditingkatkan.  “Kung” berarti mengolah, bekerja dengan, atau mengembangkan.  Jadi, Ch’i Kung berarti mengolah ch’i. Ketika mempraktekkan Ch’i Kung ini, seseorang akan sadar akan energi ch’i yang dimilikinya yang mengalir di seluruh tubuhnya.  Kemudian lahirlah kemampuan untuk memperkuat atau menenangkan diri terhadap kehendak.  Ch’i Kung dapat membantu menghilangkan rasa sakit dengan berusaha memulihkan kembali aliran energi.  Jadi, ch’i kung adalah cara untuk meningkatkan dan memancarkan ch’i supaya dengan demikian memiliki dasar untuk kesehatan dan kesejahteraan serta memberikan pengendalian diri yang lebih baik.[18] Hal ini sama juga dengan Tai Chi dan Wai Tan Kung.[19]

2.  Akupunktur

Akupunktur adalah pengobatan Timur yang merupakan metode koreksi atas permasalahan ch’i di dalam tubuh seseorang yang sakit.   Akupunktur ini memakai prinsip-prinsip ajaran Tao dan ch’i menjadi dasar bagi semua perawatannya[20]digabungkan dengan prinsip lima unsur dan Yin Yang untuk memahami tentang tubuh manusia.  Tubuh manusia adalah bagian dari alam semesta dan alam semesta terdiri dari lima unsur yaitu unsur kayu, api, tanah, logam dan air.  Yin Yang sendiri merupakan sistem halus yang berusaha untuk membantu menggambarkan kompleksitas tubuh manusia.[21]

Kata Akupunktur (acupuncture) berasal dari bahasa Latin “acu” yang berarti jarum dan “pungere” yang berarti menusuk.  Para ahli akupunktur menempatkan jarum kecil pada titik-titik acu (acupoints) sepanjang garis meridian[22].  Jarum ditempatkan secara benar untuk menambah, mengurangi, atau mengarahkan kembali aliran ch’i sebagaimana yang dibutuhkan untuk memperbaiki keseimbangan.[23]

  1. Feng shui yaitu dengan mengusahakan keseimbangan yin dan yang untuk menghasilkan ch’i yang baik sehingga dapat memberikan keberuntungan, kesuksesan, kemakmuran dan terhindar dari marabahaya bagi penghuni rumah.
  2. Ilmu Bela Diri seperti Tae Kwon Do, Kempo, Karate, Kung Fu, Judo, Jiujitsu, Aikido yang mengelola tenaga dalam (ch’i) menjadi kekuatan[24] yang luar biasa untuk mengalahkan musuh.

Asal Usul Ch’i

Filsafat Taoisme

Di dalam kepercayaan China, Taoisme[25] terbagi menjadi dua yaitu Filsafat Taoisme (Tao Chia) dan Agama Taoisme (Tao Chiao) yang memiliki ajaran .  Filsafat Taoisme telah menjadi bagian dari filsafat Cina selama berabad-abad yaitu di dalam I Ching (Kitab Perubahan).   Filsafat Taoisme adalah suatu sistem pemikiran China yang memandang Tao (‘the Way”) adalah sumber dan realitas dari manusia dan ciptaan, memiliki karakteristik perubahan, secara spontan, tidak memiliki tujuan dan kembali ke asal.  Filsafat Tao percaya bahwa alam ini dan Tao secara esensi adalah satu.[26] Sedangkan Agama Taoisme adalah salah satu gerakan keagamaan yang menyembah Tao (“the Way”) dan yang melakukan meditasi[27] dengan bertujuan menyatu dengan alam.

Filsafat Taoisme berpedoman bahwa segala sesuatu itu berubah.[28] I-Ching membedakan perubahan menjadi tiga yaitu, pertama, transformasi berputar, di mana satu hal berubah menjadi satu hal yang lain, tetapi akhirnya akan kembali ke bentuknya semula; contohnya perubahan musim.  Kedua, perubahan yang berkembang secara progresif yaitu transformasi yang berganti sedikit dalam suatu waktu. Tiap bentuk baru mengambil bentuk yang sebelumnya, namun ia selalu bergerak maju.  Contohnya usia seseorang.  Ketiga, perubahan yang dimulai dari yang kecil, namun ketika sudah melewati transformasinya, perubahan terjadi berkali lipat dengan hasil yang sangat besar.  Misalnya ketika kita melihat tetangga setiap hari, tampaknya tidak banyak ada perubahan.  Tetapi ketika kita sudah tidak berjumpa beberapa tahun, maka banyak perubahan yang terjadi.  I Ching menekankan bahwa langit dan bumi pada awalnya kecil dan berkembang selama beribu tahun untuk menjadi semesta yang kompleks sebagaimana yang kita saksikan.[29]

Lao-tzu di dalam Kitab Tao Te Ching memberikan makna Tao sebagai sumber dari alam semesta secara metafisik :”Tao produced the One, the One produced the Two, The Two produced the Three, and the Three produced the ten thousand things[30] (pasal 42).  Tao digambarkan sebagai sumber utama, Sang Utama (the One) adalah keberadaan yang mula-mula, atau “the Chaos”.  Sang Dua (the Two) menunjukkan yin (negatif atau feminim) dan yang (positif atau maskulin); Sang Tiga (the Three) adalah yin, yang dan kesatuan mereka.  Tao menentukan semua hal atau segala-galanya bergantung padanya.  Lao-tzu percaya bahwa Tao adalah universal dan bahwa segala-galanya akan dibangun atau ditransformasi secara sempurna menurut Tao.  Oleh karena itu, Tao juga mencakup jalan proses universal dan prinsip tertinggi.  Inilah asal usul (ontology) Lao-tzu secara sederhana.[31]

Tao adalah hakikat yang tertinggi.  Tao adalah sumber, sebelum terjadi penciptaan.  Sebelum hidup adalah kehampaan atau kekosongan, yakni Tao[32].  Hidup atau te mengikuti Tao.  Ruang hampa bukanlah tidak ada apa-apa, melainkan justru merupakan potensi adanya segala sesuatu.  Ruang adalah keterbukaan untuk diisi.  Tao adalah kesatuan tak berubah yang mendasari semua fenomena yang berubah.[33]

Seseorang dapat menemukan kebijaksanaan Tao ketika ia diam, hening, dan luwes, dengan memberikan ruang bagi munculnya Tao.  Hidup lebih dekat dengan alam dengan suatu cara yang sederhana akan menyingkapkan keterkaitan kita dengan Tao.  Jika seseorang peka terhadap pengekspresian Tao dalam dirinya, orang lain, dan dunia di sekitar, maka jalur Taoisme akan terbuka di depannya.[34] Dan cara yang dipakai untuk menemukan Tao adalah meditasi.  Esensi dari meditasi ini adalah pengalaman batiniah, yaitu dengan memusatkan perhatian pada dimensi batin yang paling dalam, melepaskan segala pikiran dan pengaruh luar.[35]

Upaya untuk menemukan Tao dapat pula dilakukan dengan “berbaur” dan “mengikuti” Tao alam yang dapat membawa kembali ke arus alami menuju pemenuhan diri yaitu dengan cara mengamati alam itu sendiri.[36] Selanjutnya belajar hidup selaras dengan alam dan tidak mengambil tindakan yang bertentangan dengan alam.  Ini yang disebut dengan wu wei, yaitu suatu cara tanpa tindakan dengan belajar bagaimana membentuk kekuatan alam dalam gerak untuk membantu menyelesaikan segala hal tanpa banyak usaha.[37]

Yin Yang

Simbol atau filsafat yin yang sangat penting di Asia Timur (China, Jepang, Korea), karena simbol yin yang ini memcerminkan akan pandangan dunia dan praktek kehidupan di Asia Timur.  Kecenderungan penduduk yang tinggal di negara-negara Asia Timur berpikiran secara makrokosmos daripada antroposentris.  Di Barat orang cenderung berpikiran antroposetris menuju ke kosmosentris; di Asia Timur orang cenderung berpikir kosmosentris ke antroposentris[38].  Antropologi adalah bagian dari kosmologi dan manusia dianggap sebagai mikrokosmos di dalam kosmos (alam).  Hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara manusia dan dunia (alam) adalah ciri dari filsafat Asia Timur.   Oleh karena itu, kosmologi menjadi dasar untuk memahami akan keberadaan manusia.  Jika alam beroperasi melalui hubungan yin yang, maka aktifitas manusia sebagai mikrokosmos juga sama dengan prinsip yin dan yang.[39]

Prinsip yin yang adalah menyeimbangkan apa yang ada di dalam dunia ini yang cenderung bersifat berlawanan.  Misalnya saja panas dingin, terang gelap, pria wanita, bersih kotor.  Walaupun demikian, sifat berlawanan ini dapat dipandang sebagai saling memperlengkapi dan bukan untuk saling menghancurkan.  Inilah prinsip yin yang, berlawanan tetapi untuk saling melengkapi.

Prinsip atau filsafat yin yang ini muncul dan berkembang adalah hasil dari pengamatan terhadap alam semesta khususnya terhadap matahari dan bulan.  Dalam I Ching (Kitab Perubahan), tulisan/huruf gambar (the ideogram) “I” terdiri dari matahari dan bulan, yaitu yang dan yin. Jadi, pergerakan matahari dan bulan atau siang dan malam menjadi prinsip dasar untuk menentukan apa yang terjadi di alam semesta.  Yang menunjukkan matahari seperti terang, siang, api, merah, kekeringan, panas, dan seterusnya; sedangkan yin menunjukkan bulan seperti gelap, malam, putih, air, dingin, dan seterusnya.  Yang adalah esensi dari langit, sedangkan yin adalah bumi.  Yang adalah prinsip maskulin, sedangkan yin adalah feminism.  Yang adalah positif dan yin adalah negatif; yang adalah gerakan, yin adalah istirahat; yang adalah kehidupan, yin adalah kematian.  Semua yang ada di dalam dunia ini dapat dikategorikan ke dalam yin dan yang. Jadi yin dan yang adalah prinsip kosmos yang dinyatakan di dalam segala sesuatu.  [40]

Walaupun yin dan yang berlawanan di dalam karakternya, mereka adalah kesatuan.  Untuk memahami hubungan antara yin dan yang dapat melihat dari apa digambarkan di dalam I Ching yaitu yin digambarkan dengan dua garis terpisah (- -), sedangkan yang digambarkan sebagai satu garis (    ).[41] Yin Yang digambarkan sebagai lingkaran yang mencakup dua realita yang digambarkan berada dalam keseimbangan (sama luas) tetapi bertentangan (arah dan warna berbeda), tetapi harmonis (membentuk lingkaran seutuhnya).  Di tengah yin yang gelap ada titik putih dan di tengah yang yang terang ada titik gelap.  Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada yang mutlak karena sekalipun gelap dan terang berada dalam kadar yang seimbang, dalam gelap bisa dijumpai terang dan dalam gelap bisa dijumpai gelap.[42]

Konsep Yin Yang ini dapat digambarkan sebagai berikut :

Keseimbangan yin dan yang dapat dicapai karena hubungan keduanya adalah saling melengkapi.  Walaupun yin dan yang berlawanan tetapi mereka juga saling memenuhi satu dengan yang lainnya.  Contohnya adalah pria dan wanita adalah berlawanan tetapi mereka dalam hubungan saling melengkapi.  Pernikahan menjadi hubungan yang saling memenuhi satu dengan yang lainnya.  Jadi hubungan saling memenuhi adalah keseimbangan atau harmoni antara yin dan yang, di mana keseimbangan ini adalah Sang Ultimat Agung (the Great Ultimate)[43] yaitu Tao.

Ch’i dan Roh Kudus, Sebagai Usaha Kontekstualisasi Konsep Ch’i Terhadap Roh Kudus

Chi sebagai Roh Allah/nafas Allah

Kwek melihat ada empat bagian Firman Tuhan yang berhubungan dengan ch’i sebagai nafas Allah (Roh Allah) yaitu pertama, berkenaan dengan penciptaan di mana Allah memberikan nafas kehidupan (ch’i) kepada manusia (Kej. 2:7); kedua, ketika Allah berbicara kepada Ayub “selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih di dalam lubang hidungku,” (Ayub 27:3) dan “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup” (Ayub 33:4) menunjukkan bahwa nafas yang dihembuskan Allah adalah Roh Allah; ketiga, di mana Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat supaya nafas hidup berhembus dari empat penjuru mata angin dan masuk ke dalam tulang-tulang supaya bisa hidup kembali; nafas hidup (ch’i) yang dihembuskan Allah itu adalah Roh Allah sendiri (Yeh. 37:9, 14); keempat, peristiwa “pengembusan” Roh Kudus (Ch’i) yang dilakukan oleh Yesus ke dalam para murid-Nya (Yoh. 20:22).[44] Jadi Kwek di sini menyimpulkan bahwa nafas yang diberikan kepada manusia adalah Roh Allah/Roh Kudus sendiri.  Ini berarti manusia yang memiliki nafas tersebut adalah Allah juga karena memiliki Roh Allah.

Wang sependapat dengan Kwek yang menyatakan bahwa nafas hidup yang dihembuskan Allah kepada manusia pertama (Adam) adalah Roh Kudus sendiri.  Demikian juga ketika Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada para murid-Nya, Wang melihat bahwa “ini adalah bukti tambahan bahwa “Nafas” (Qi) menggambarkan Roh Kudus”[45].  Dia menyatakan :

Pada saat Adam diciptakan, tiga Anggota Keallahan mengambil bagian…. Tetapi adalah Roh Kudus, Anggota ketiga dari Keallahan, yang “menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya”, dan melemaskan tubuh kaku yang tak-bernyawa.  Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Maha Kuasa membuat aku hidup (Ayub 33:4).  “Nafas Allah” adalah Roh Kudus, dan betapa pentingnya Dia kepada keberadaan seseorang…. Qi itu adalah nafas dari Yang Maha Kuasa – lambang dari Roh Kudus.[46]

Berbeda dengan Lee; ia tidak hanya menekankan ch’i sebagai nafas hidup manusia saja tetapi juga ada kuasa di dalamnya.  Nafas adalah gerakan udara di dalam tubuh manusia membuat manusia itu hidup.  Di dalam Perjanjian Lama, nafas Allah diidentifikasikan dengan kuasa pemberi hidup (Kej. 6:17; Bil. 16:22; Maz. 104:29; Yes. 37:7).  Demikian juga di dalam Allah menciptakan manusia, Allah memberikan nafas-Nya sebagai kuasa pemberi hidup dan manusia menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7).  Di dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus juga menjadi kuasa pemberi hidup di dalam kelahiran Yesus (Mat. 1:18-20; Luk. 1:15, 35).  Jadi kehidupan dan kematian manusia karena nafas kehidupan, roh atau ch’i.[47]

Chi sebagai angin

Selain ch’i sebagai nafas Allah, ch’i juga dapat berarti angin.  Angin digambarkan sebagai presentasi dari kekuatan Allah di alam.  Allah bertindak sebagai angin untuk “menguakkan” (membelah) air laut dan orang-orang Israel lolos dari orang Mesir (Kel. 14:21; 15:8).  “Angin” tidak hanya mengeringkan dan merusak sumber/mata air (Hos. 13:15) tetapi juga mengumpulkan awan untuk memberikan hujan kepada tanaman  (I Raj. 18:45).  Karena Allah adalah Roh yang menunjukkan dirinya sebagai angin demikian juga dengan ch’iCh’i, yang adalah gerakan dari yin dan yang, bertindak melalui proses pendinginan (condensation) dan penyebaran (dispersion) di dalam membuat hujan dan melalui hujan ini, alam dipelihara, ditopang dan kembali berproduksi.  Demikianlah angin, sebagai gambaran Roh Kudus, mendukung proses prokreasi, pemeliharaan, pembaruan dan transformasi.  Seperti angin, Roh Kudus memasuki semua benda/hal dan memberikan kepada mereka energi dan kehidupan.  Ch’i sebagai Roh Kudus, adalah aktifitas yin dan yang, yang mana mengubah dan mentransformasikan segala sesuatu di dalam dunia.[48]

Chi sebagai kekuatan Allah

Dari dua gambaran ch’i di atas yaitu sebagai nafas dan angin menunjukkan adanya kuasa atau kekuatan yang menghidupkan dan menyembuhkan.  Angin adalah simbol dari kekuatan/kuasa kehidupan di dalam alam, sedangkan nafas adalah simbol dari kekuatan/kuasa di dalam kehidupan.  Angin dan nafas adalah kekuatan, karena mereka mewakili dari gerakan yin dan yang. Ch’i adalah esensi dari semua kehidupan dan semua eksistensi, yang meliputi kehidupan sebaik bukan kehidupan.  Tanpa ch’i kehidupan tidak ada.[49]

Konsep ch’i juga menolong kita untuk memahami implikasi kosmologi dari Roh Kudus dan kehadiran-Nya secara inklusif di dalam seluruh keberadaan.  Bumi adalah ‘a living organism’ karena ch’i di dasar dan langit adalah hidup karena ch’i ada di udara.  Gambaran Roh Kudus sebagai ch’i membantu kita dalam menegaskan kembali akan ide imanensi atau imanuel ilahi.[50] Dengan kehadiran Roh Kudus di tengah umat-Nya (imanen atau imanuel), maka Roh Kudus memberikan kekuatan dan kuasa kepada kita untuk memberitakan Injil.  Inilah juga yang diyakini dan dinyatakan oleh Peter Lee :

What is of interest now is the point that the Spirit is energy or dynamic power.  Western theology is not short on arguing that the Spirit is power, as wind (the meaning of the Hebrew word for spirit, ruach, or the Greek pneuma) ia an agent of power.  Power to do what?  To accomplish what God wills, as the Book of Acts so well testifies.  That is fine.  Although it is nothing new, the point is emphasized nevertheless that, in theologizing, we must not lose sight of the Holy Spirit as an enabling or energizing power.[51]

DOKTRIN ROH KUDUS MENURUT FIRMAN TUHAN

Istilah  Roh Kudus di dalam Alkitab

Ruakh

Kata roh di dalam Perjanjian Lama berasal dari kata “ruakh”. Kata ini dipakai sebanyak 387 kali di Perjanjian Lama.  Ide dasar dari kata ruakh ini adalah “Angin yang bergerak”.[52] Kata ‘ruakh’ ini dapat berarti ‘roh’ (Bil. 16:22), ‘angin’ (Kej. 8:1; Yes. 7:2; 41:16), ‘nafas hidup’ (Ayub 9:18; Yeh. 37:1-10).  Kata ‘ruakh’ ini dipakai untuk menunjuk kepada Roh Allah (Kej. 1:2; Bil. 11:17, 25; I Raj. 18:12; II Raj. 2:16).  Ruakh juga dapat menunjuk kepada unsur kehidupan di dalam manusia dan binatang (Kej. 6:17: 7:15, 22; Ayub 27:3; Maz. 104:29; Pengk. 3:21; 12:7).  Ruakh semua manusia adalah di dalam tangan Allah (Ayub 12:10; Yes. 42:5) dan digambarkan cepat berlalu/singkat (Ayub 7:7).  Ruakh dapat pula digunakan untuk menunjuk kepada pikiran rasional; berhubungan dengan perasaan, perhatian dan emosi (Kej. 41:8; Hak. 8:3; Ams. 16:32; Pengk. 10:4; Dan. 2:1).  Ruakh juga dapat menunjuk  suatu keberadaan supernatural, rohani dari Allah (I Sam. 16:23).  Ruakh juga dapat menunjuk angin di dalam arti ‘angin sejuk/sepoi-sepoi’ (Kej. 3:8) atau angin yang sangat kencang/kuat (Kel. 10:19; Ayub 1:19; Yes. 32:2; Yer. 4:11; Hos. 8:7).  [53]

Menurut Ferguson, kata ruakh menunjukkan adanya kehadiran energi dan aktitas.  Kata ruakh di sini menunjukkan adanya gerakan udara yang sering diwujudkan sebagai angin yang sangat kuat atau badai, atau di dalam nafas hidup seseorang.  Oleh karena itu, ide yang dominan untuk kata ruakh adalah kekuatan/power.[54]

Menurut Ferguson, ruakh adalah tindakan kekuatan dan energi supernatural Allah di mana melalui ruakh tersebut Allah dapat menciptakan dan menghancurkan.  Ferguson menyatakan :

The results of the activity of ruach are in keeping its nature.  When the ruach Yahweh comes on individuals they are caught up in the thrust of an ‘alien’ energy and exercise unusual powers : the faint are raised into action; exceptional human abilities are demonstrated; ectasy may be experienced.  Yahweh’s ruach is, as it were, the blast of God, the irresistible power by which he accomplishes his purposes, whether creative or destructive.  By his ruach he creates the host of heaven (Ps. 33:6), gives power to judge-saviours like Othniel and Samson (Jdg. 3:10; 14:6), snatches up prophets, lifts them and places them elsewhere (as, for example, Ezk. 3:12, 14; 11:1; cf. 1 Ki. 18:12).  Those who are the subjects of the activity of the divine ruach act in supernatural ways, with supernatural energy and powers.  God’s ruach, therefore, expresses the irresistible force, the all-powerful energy of God in the created order.[55]

Menurut Karkkainen,  Allah sebagai Roh pemberi kehidupan adalah sumber kehidupan dan kekuatan, kata ruakh dapat menunjukkan sebagai kekuatan kehidupan (the life-force) dari seseorang (Hak. 15:19), dan sekelompok orang (Bil. 16:22).  Kekuatan kehidupan itu adalah tidak ada pada berhala-berhala (Yer. 10:14), tetapi dalam Allah (Maz. 33:6) dan di dalam Mesias (Yes. 11:4).  Allah sendiri yang dapat memberikan kekuatan kehidupan (Yes. 42:5) dan menjaganya (Maz. 31:5).[56]

Nepes

Kata Ibrani ‘nepes’ berasal dari kata ‘nafas’ yang berarti ‘bernafas’.  Kata nepes sendiri dapat berarti nafas (Kej. 1:30; 2:7; Ayub 41:21), kehidupan (Kej. 35:18; 37:21; I Raj. 17:21, 22; Maz. 54:3), ciptaan yang hidup (manusia dan binatang).  Dapat pula berarti jiwa, roh, pikiran, pribadi atau individu.  Imamat 17:11 menggambarkan kekuatan/daya hidup, eksistensi sebagai individu :”Karena nyawa (nepes) makhluk ada di dalam darahnya.”  Kehidupan adalah amat berharga (Kel. 21:30; 30:12; II Raj. 10:24). Nepes seseorang dapat meninggal atau berhenti (Hak. 16:30); dapat dibunuh (Bil. 31:19); dicurahkan dengan darah (Yes. 53:12; Rat. 2:12).  Binatang mempunyai nepes (Kej. 1:21, 24; 2:19; 9:10, 12, 15, 16; Im. 11:10).  Manusia tidak hanya memiliki keberadaan secara fisik saja seperti binatang, manusia juga mempunyai roh (ruakh) dan hati (leb).  Manusia telah diciptakan Allah menurut Gambar dan Rupa-Nya dan menjadi obyek kasih Allah.  Kejadian 2:7 nyata bahwa nepes dapat mempertahankan seluruh kehidupan manusia.[57]

Neshamah

Kata Ibrani neshamah berasal dari kata nasam yang berarti ‘menghembuskan nafas’.  Kata neshamah juga dapat berarti ‘tiupan angin/udara’, bernafas, nafas (Kej. 2:7).  Digunakan untuk menunjukkan ciptaan yang hidup (Maz. 18:16; Yes. 30:33) atau keberadaan sesuatu yang hidup (Maz. 150:6).  Digunakan juga menunjuk pada Roh Kudus, yang memberikan kehidupan dan hikmat (Ayub 33:4).[58]

Pneuma

Kata Yunani pneuma berasal dari kata ‘pneo’ yang berarti “bernafas”.  Kata pneuma dapat berarti : (1) nafas, dari mulut atau hidung (II Tes. 2:8); roh kehidupan (Wahyu 11:11); angin (Yoh. 3:8).  (2) nyawa/roh – (a) yang tinggal di dalam Yesus Kristus (Mat. 27:50); di dalam manusia (Kis. 7:59, Stefanus; Wah. 13:15); (b) jiwa rasional, pikiran. (3) Roh Kudus.  Di dalam Perjanjian Baru, kata pneuma menunjuk kepada “Roh Allah”; “Roh Kristus”; disebut Roh Yesus (Kis. 16:7); Roh Kristus (Rom. 8:9; I Pet. 1:11); Roh Yesus Kristus (Fil. 1:19); Roh Tuhan (II Kor. 3:17).  Roh Kudus adalah perwakilan di mana saja sebagai keberadaan dalam hubungan yang dekat/intim dengan Allah Bapa dan Allah Anak; datang kepada semua orang Kristen dan tinggal dengan mereka, diberikan untuk pengetahuan spiritual mereka, bantuan, konsolidasi, pengudusan, dan sebagai penengah untuk mereka (Yoh. 14:17, 26; 15:26; 16:13; Rom. 8:14,16, 26, 27; 14:17; 15:13, 16; II Kor. 1:22; 5:5; Ef. 3:16; 4:30; 6:18; I Tes. 1:6; II Tes. 2:13; I Pet. 1:22); sebagai pemberi wahyu bagi para nabi dan para rasul (Mat. 22:43; Mark12:36; Kis 10:19; 20:23; 21:11; I Tim. 4:1; I Pet.1:11; II Pet. 1:21; Wah. 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22; 14:13; 19:10; 22: 17);  Roh Kudus mengajar, memberikan pencerahan, membimbing orang Kristen di dalam iman dan kehidupan sehari-hari (Mat. 10:20; Mark. 13:11; Luk. 11:13; 12:12; Yoh. 7:39; Rom. 5:5; I Kor. 123; II Kor. 3:3; Gal. 5;5; Tit. 3:5; Ibr. 6:4; I Pet. 4;14).[59]

Di dalam Perjanjian Baru, kata pneuma menunjuk kepada manusia rohani di mana Roh Kudus tinggal di dalamnya (Rom. 8:16), keseluruhan dari hidup seseorang yang membuka dan berespon kepada Allah (Mat. 5:3; Luk. 1:47), daerah kesadaran manusia terhadap hal-hal yang rohani – hati manusia (Mark. 2:8; 8:12; Yoh. 11:33; 13:21; Kis. 17:16).[60]

Gambaran Roh Kudus  di dalam Alkitab

Di dalam bagian ini, gambaran atau metafora Roh Kudus yang akan diuraikan adalah berhubungan dengan konsep ch’i di atas yaitu sebagai nafas dan angin

Nafas kehidupan.

Nafas adalah lambang kehidupan sehingga ini juga menandakan bahwa Roh Kudus adalah sebagai sumber dan penopang kehidupan.  Ayub 32:8 berkata :”Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian”.  Ayub 33:4 berkata, “Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.”[61]

Kejadian 2:7 menggambarkan bagaimana Tuhan Allah memberikan nafasnya kepada manusia dan manusia itu menjadi mahkluk hidup.  Kata Ibrani yang dipakai adalah neshamah yang hampir sama dengan kata Ibrani ruakh yang dapat berarti “nafas”, “angin” atau “roh.”  Kata neshamah ini hanya digunakan untuk nafas kehidupan (Kej. 6:17; Yez. 37:5).  Tindakan Allah “menghembuskan” nafas kehidupan kepada manusia merupakan hal yang penting berhubungan dengan Yohanes 20:22, di mana Yesus “menghembusi” para murid-Nya dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.”[62]

Angin

Dalam Perjanjian Lama, kata Ibrani yang dipakai adalah ruakh yang berarti angin (Kej. 8;1; Bil. 11;31; Yes. 27:8). Sedangkan di dalam perjanjian baru, kata Yunani yang dipakai adalah pneuma yang dapat berarti angin.  Di dalam menjelaskan tentang kelahiran baru kepada Nikodemus, Yesus membandingkan kelahiran baru oleh Roh Kudus dengan angin : “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.  Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh. 3:8).  Kelahiran baru merupakan karya kedaulatan Allah yang tidak kelihatan oleh mata; sebagaimana angin yang bertiup, demikian pula kelahiran baru oleh Roh Kudus.  Roh Kudus melakukan “sebagaimana yang dikehendaki-Nya (lihat I Kor. 12:11); tidak ada yang mengaturnya sama dengan tidak ada yang mengatur angin.[63]

Angin menggambarkan aksi yang misterius, tak terlihat, tak terduga, dan dasyat.  Dengan angin sebagai lambing, Alkitab menyatakan bahwa Roh Kudus sebagai Pribadi yang mahakuasa, yang aksi-Nya tidak bisa ditahan oleh apa dan siapa pun juga.  Pada hari Pentakosta, turunnya Roh Kudus atas para murid disertai dengan “suatu bunyi seperti tiupan angina keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk” (Kis. 2:2).[64]

Aksi Roh Kudus yang dilambangkan sebagai angin, membawa manusia ke tempat yang dikehendaki-Nya, seperti yang dinyatakan di dalam Yehezkiel 8:3 “Lalu Roh itu mengangkat aku ke antara langit dan bumi dan membawa aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke Yerusalem..”.  Juga dalam Yehezkiel 11:1 “Lalu Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pintu gerbang Timur dari rumah TUHAN,…”.  Di dalam Kisah Para Rasul 8:39 “Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi.”[65]

Kepribadian Roh Kudus

Roh Kudus adalah Allah yang memiliki pribadi.  Seperti Allah (termasuk Allah Roh Kudus) menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, – di mana manusia memiliki kepribadian-, maka Roh Kudus pun memiliki kepribadian atau seorang pribadi.[66]

Akal budi. Roh Kudus memiliki akal budi karena “Roh Kudus menyelidiki segala sesuatu” (I Kor. 2:0).  Roh Kudus meneliti kedalaman dari Allah dan menyatakannya kepada orang percaya.[67]

Pengetahuan/pikiran. Karena Ia mahatahu, maka Ia mengetahui segalanya (Rom. 8:27).  Karena Ia mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan Allah secara sempurna, maka Ia pasti juga adalah Allah, karena hanya Allah yang dapat mengetahui Allah secara sempurna.  Roh Kudus juga memberikan ‘pencerahan’ (penjelasan) di dalam penyataan ilahi, inspirasi dan iluminasi (I Kor. 2:10-11).[68]

Emosi. Roh Kudus memiliki perasaan, kesadaran dan kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap sesuatu.  Efesus 4:30 menyatakan :”janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah.”  Konteksnya adalah menekankan bahwa Roh Kudus didukacitakan pada waktu orang percaya berdosa dengan berdusta (ayat 25), marah (26), mencuri dan malas (28), atau mengucapkan kata-kata yang tidak baik (29). [69]

Kehendak.  Roh Kudus memiliki kehendak yaitu memiliki kuasa untuk berdaulat dalam pemilihan dan keputusan.  Roh Kudus memberikan karunia-karunia-Nya menurut kehendak-Nya.  Di Kisah Para Rasul 16:6, Roh Kudus menggunakan kehendak-Nya dengan melarang Rasul Paulus untuk melayani di Asia dan mengarahkan pelayanannya ke Eropa.[70]

Karya Roh Kudus sebagai Pribadi

Mengajar.  Yesus mengirimkan Roh Kudus kepada para murid-Nya untuk mengajarkan mereka (Yoh. 14;26).  Roh Kudus akan melakukan pengajaran yang sama dengan Kristus.  Roh Kudus juga akan mengingatkan hal-hal yang telah Kristus ajarkan kepada murid-murid-Nya.[71]

Bersaksi. Roh Kudus akan bersaksi tentang Kristus dan pengajaran-Nya; sebagaimana para murid Kristus bersaksi tentang Kristus demikian juga Roh Kudus bersaksi tentang Kristus (Yoh. 15:26-27).[72]

Membimbing. Yesus menyatakan bahwa pada waktu Roh Kudus datang, Ia akan membimbing para murid pada semua kebenaran (Yoh. 16:13).  Roh Kudus akan menjadi seperti seorang pemandu atau pemimpin perjalanan menuju wilayah asing bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan, tetapi dikenal oleh pemandu tersebut.[73]

Meyakinkan. “Meyakinkan” (Yunani elegcho) berarti “meyakinkan seseorang akan sesuatu; menunjukkan sesuatu pada seseorang.”  Roh Kudus sebagai pengacara yang meyakinkan dunia tentang dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh. 16:8).[74]

Melahirbarukan. Seseorang yang mengalami kelahiran baru telah dilahirkan oleh Roh Kudus; ia telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus (Yoh. 3:5-6).  Yesus Kristus memberikan hidup kepada orang percaya (Yoh. 5;21), Roh Kudus juga melahirbarukan manusia (lihat Yeh. 36:25-27; Tit. 3:4).[75]

Menjadi pendoa syafaat. Roh Kudus berdoa untuk orang percaya pada saat mereka lemah; Roh Kudus menyerukan akan keluhan orang percaya dan berdoa atas nama orang percaya (Rom. 8:26).  Allah Bapa mengerti doa syafaat Roh Kudus dan menjawab doa dan bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan hidup orang percaya (Rom. 8:28).[76]

Memerintah. Di dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus memerintahkan Paulus dan Barnabas dikhususkan bagi pekerjaan misi (Kis. 13:2) dan mengutus mereka (Kis. 13:4); Roh Kudus melarang Paulus dan Silas untuk berkhotbah di Asia (Kis. 16:6); Roh Kudus mengarahkan Filipus untuk berbicara pada sida-sida dari Etiopia (Kis. 8:29).[77]

Tindakan-tindakan yang Ditujukan Pada Roh Kudus

Didukakan. Roh Kudus dapat didukakan pada waktu orang percaya berdosa (Ef. 4:30).[78]

Dihujat. Penghujatan biasanya dipkirkan sebagai sesuatu yang melawan Allah Bapa (lihat Wah. 13:6; 16:9).  Kristus juga dihujat (Mat. 27:39; Luk. 23:39); demikian juga Roh Kudus dihujat (Mat. 12:32; Mark. 3:29, 30).  Penghujatan melawan Roh Kudus adalah pada saat karya Kristus disebut berasal dari Setan, padahal pada waktu itu Roh Kudus telah memberikan kesaksian tentang pekerjaan Kristus berasal dari Allah Bapa.[79]

Ditolak. Dalam pembicaraannya melawan ketidakpercayaan orang Yahudi yang akhirnya merajam dia dengan batu sampai mati, Stefanus menuduh mereka sebagai orang yang “keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga; kamu selalu menentang (menolak) Roh Kudus…” (Kis. 7:51).[80]

Didustai. Pada waktu Rasul Petrus menghadapkan Ananias dan Safira berkaitan dengan penipuan mereka, ia menuduh mereka telah mendustai Roh Kudus (Kis. 5:3) dan Ananias dan Safira pun dihukum mati karena mereka telah berdosa yaitu mendustai Roh Kudus.[81]

Ditaati. Roh Kudus memberikan perintah kepada Rasul Petrus untuk mendampingi dua orang pergi ke rumah Kornelius di mana kebenaran akan menjadi terbukti terhadap orang non-Yahudi.  Rasul Petrus taat akan perintah Roh Kudus dan pergi ke rumah Kornelius di Kaisarea.[82]

Dipadamkan. Di dalam I Tesalonika 5:19, Rasul Paulus memberikan nasehat supaya “janganlah memadamkan Roh.”  Konsep ‘memadamkan’ ini didasarkan atas gambaran Roh Kudus sebagai ‘api’.  Seperti api yang tinggal di dalam setiap orang percaya, Roh Kudus harus dinyatakan dalam sikap dan tindakan kita sebagai orang percaya.[83]

Keilahian Roh Kudus

Memiliki Sebutan Ilahi. Roh Kudus disebut juga sebagai “Roh Allah” (I Kor. 2:11; 3:16; Kej. 1:2) dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sejati.[84] Disebut juga sebagai Roh Tuhan Allah (Yes. 61:1); Roh Tuhan (Luk. 4:18); Roh Tuhan kita (I Kor. 6:11); Roh Allah yang hidup (II Kor. 3:3); Roh TUHAN/Yahweh (Hak. 3:10); Roh-Nya (Bil. 11:29); Roh Bapa-mu (Mat. 10:20).[85]

Hidup. Roh Kudus hidup karena Dia memberikan kehidupan (Rom. 8:2) seperti Kristus yang adalah hidup (Yoh. 1:4; 15:6; I Tim. 3:15).[86]

Mahatahu.  Roh manusia mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan manusia dan Roh Kudus mengetahui tentang Allah.  Roh Kudus menyelidiki “hal-hal yang tersembunyi” dari Allah (I Kor. 2:10); “hal-hal yang tersembunyi” (Yunani bathos) digunakan dalam kaitan dengan pengetahuan manusia.  Inilah yang tidak dapat dipahami oleh manusia, tetapi Roh Kudus mengetahui hal-hal yang tidak dapat dipahami dan diselidiki oleh manusia karena Dia adalah Allah (Rom. 11:33).[87]

Mahahadir.  Daud menyatakan bahwa ia tidak dapat lari dari hadapan Roh Allah (Roh Kudus); apabila ia “mendaki ke langit”, Ia ada di sana; apabila ia “menaruh tempat tidur di dunia orang mati”; Roh Kudus pun ada di sana.  Bahkan kalau ia dapat terbang jauh, ia tdak dapat lari dari kehadiran Roh Kudus (Maz. 139:7-10).  Di dalam Yohanes 14:17, Yesus mengajarkan bahwa Roh Kudus akan menyertai dan diam di dalam diri murid-murid-Nya.[88]

Kekal. Di dalam Ibrani 9:14, Roh Kudus disebut sebagai Roh yang Kekal.[89]

Kekudusan. Salah satu aspek penting dari keilahian Roh Kudus adalah kekudusan-Nya, sama seperti Allah yang adalah kudus.  Hal ini terlebih lagi dengan sebuatan-Nya sebagai Roh yang Kudus.[90]

Kasih. Roh Kudus adalah kasih dan menghasilkan kasih di dalam diri anak Allah yaitu sebagai salah satu dari buah-buah Roh Kudus (Gal. 5:22-23).  Apabila Ia tidak memiliki kasih, maka Ia tidak dapat menghasilkan kasih di dalam diri orang percaya. [91] Rasul Paulus juga menekankan untuk bergumul di dalam doa demi kasih Roh (Rom. 15:30).[92]

Kebenaran. Roh Kudus disebut sebagai “Roh Kebenaran” (Yoh. 14:17; 15:26) yang memimpin orang-orang kepada kebenaran melalui Kitab Suci.[93]

Mulia. Rasul Petrus menasehatkan supaya jemaat Tuhan tetap berbahagia walaupun mereka menderita karena mereka memiliki “Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”[94]

Kasih Karunia. Allah memberikan anugerah-Nya untuk orang-orang berdosa.  Tuhan Yesus penuh dengan anugerah (Yoh. 1:14), demikian pula dengan Roh Kudus, karena itu Ia diidentifikasikan sebagai Roh kasih karunia (Ibr. 10:29).[95]

Hikmat. Sebagaimana Allah adalah sumber hikmat (Rom. 11:33), Rasul Paulus juga mengidentifikasikan Roh Kudus sebagai “Roh hikmat dan wahyu” (Ef. 1:17).[96]

Karya Roh Kudus Sebagai Allah

Penciptaan. Di dalam Kejadian 1:2 menunjukkan bahwa Roh Allah terlibat di dalam penciptaan.  Di dalam Mazmur 104:24-26, pemazmur menjabarkan tentang penciptaan dan dalam Mazmur 104:30 pemazmur mengindikasikan bagaimana Allah menciptakan :”Apabila Engkau mengirimkan roh-Mu, mereka tercipta.”  Roh Kudus (nafas-Nya) bukan hanya menciptakan bumi tetapi juga langit (Ayub 26:13).[97]

Kelahiran Kristus Yesus. Keterlibatan Roh Kudus dalam kehamilan Maria memastikan ketidakberdosaan Kristus Yesus sebagai manusia (Mat. 1:20).[98]

Inspirasi Kitab Suci. Roh Kudus memberikan inspirasi (“dorongan”) bagi para penulis Kitab Suci (para nabi dan rasul) untuk menuliskan Firman-Nya  (II Pet. 1:21; lihat juga II Tim. 3;16).[99]

Regenerasi. Roh Kudus memberikan dan menyebabkan kelahiran baru melalui “Firman Allah yang hidup dan yang kekal” (I Pet. 1:23).[100]

Perantara. Roh Kudus adalah perantara khusus umat Tuhan ketika sedang bergumul dan menaikkan keluhan-keluhan umat Allah yang kemudian disampaikan oleh Roh Kudus kepada Allah Bapa (Rom. 8:26).[101]

Pengudusan. Roh Kudus menguduskan orang yang berdosa untuk diselamatkan (II Tes. 2:13).[102]

Penolong orang-orang kudus/percaya. Di dalam Yohanes 14:16, Yesus berjanji kepada murid-murid-Nya untuk memberikan “seorang Penolong yang lain”.  Kata ‘Penolong’ (Yunani parakleton) berasal dari dua kata, “berjalan di samping” dan “dipanggil”, jadi yang dimaksud dengan ‘Penolong’ adalah “seseorang yang dipanggil untuk berjalan di samping untuk menolong.”[103]

TINJAUAN TERHADAP CH’I SEBAGAI ROH KUDUS MENURUT FIRMAN TUHAN

Nafas adalah ciptaan Allah

Para sarjana yang menyatakan bahwa ch’i adalah nafas Allah yang juga kemudian dinyatakan sebagai Roh Allah, jelas tidaklah benar.  Walaupun nafas/roh manusia berasal dari Allah, yaitu dengan cara dihembuskan oleh Allah (Kej. 2:7), tidak berarti bahwa nafas atau roh yang ada di dalam diri manusia adalah Roh Allah.  Jika benar roh yang ada di dalam diri manusia adalah Allah, maka manusia juga adalah Allah.  Dan ini tidaklah benar.

Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26) artinya Allah menciptakan manusia menurut sifat dan karakteristik dari Allah.  Allah menciptakan manusia secara khusus – berbeda dengan ciptaan lainnya yang hanya dengan berfirman -, manusia diciptakan Allah dengan menghembuskan ‘nafas-Nya’ karena Allah rindu manusia dapat berhubungan dengan-Nya secara rohani.  Karena manusia memiliki roh yang berasal dari Allah, maka manusia dapat berhubungan dengan-Nya secara rohani.  Manusia rindu untuk mengenal dan menyembah-Nya.  Walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa, hubungan telah rusak; keinginan untuk mencari dan mengenal Allah tidaklah surut.  Ini dapat kita baca dari Roma 1:20 yang menyatakan bahwa sebenarnya manusia dapat mengenal Allah melalui “kekuatan dan keilahian-Nya” yang nampak dari ciptaan-Nya, hanya saja manusia tidak mau mengakuinya dan menindas pengetahuan tersebut dan menggantinya dengan menyembah ciptaan-Nya.  Baru setelah Kristus datang, hubungan ini dipulihkan dan manusia kembali dapat mengenal Allah dan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24).

Jika dikatakan di dalam nafas Allah itu ada kekuatan yang menghidupkan itu adalah benar.  Manusia yang berasal dari debu tanah dapat hidup karena ada kekuatan dan kuasa dari Allah yang menghidupkan.  Allah adalah sumber kehidupan dan hanya Allah saja yang dapat memberikan kehidupan kepada siapa pun.  Ini dapat kita membaca di dalam kitab Injil-injil bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh. 11:43-44), anak muda di Nain (Luk. 7:11-17), dan anak Yairus (Luk. 8:54-56).

Walaupun demikian bukan berarti kekuatan yang menghidupkan ini adalah Roh Allah.  Ini adalah ciptaan Allah.  Ketika Allah menciptakan manusia yang hidup, itu berarti roh manusia itu pun adalah ciptaan Allah dan bukan Allah sendiri.  Dengan demikian, pemahaman ch’i yang berada di dalam hidup seseorang adalah roh orang tersebut dan bukanlah Roh Kudus.

Roh Kudus dapat tinggal di dalam diri seseorang jika orang tersebut percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.  Dan pada saat itulah kita dimeteraikan oleh Roh Kudus dan Roh Kudus menjadi jaminan kita untuk mendapatkan hidup yang kekal (Ef. 1:13-14).  Roh Kudus yang ada di dalam diri kita bukanlah roh kita ataupun nafas kita.  Dia tetap Roh Kudus yang memimpin dan membimbing kita untuk hidup menyenangkan Allah dengan menghasilkan buah-buah Roh Kudus jika kita mengizinkan-Nya memenuhi hidup kita.

Roh Kudus memiliki pribadi, sedangkan ch’i tidak

Dari apa yang telah diuraikan di atas baik tentang ch’i maupun Roh Kudus, kita dapat melihat adanya perbedaan yang mendasar sekali.  Perbedaan tersebut adalah ch’i digambarkan tidak memiliki pribadi dan bagaimana serta siapakah ch’i tersebut tidaklah diketahui.  Yang ada hanyalah apakah ch’i tersebut.  Memang ch’i dapat berarti ‘roh’, ‘Roh Kosmis’ atau ‘jiwa’; tetapi tidaklah dijelaskan tentang siapakah roh atau jiwa tersebut.

Ch’i lebih dikenal dan dipahami sebagai ‘angin’ atau ‘roh’ yang memberikan kekuatan bagi mereka yang mempercayainya.  Hal ini jelas terlihat dari praktek ch’i yang dilakukan oleh para penganutnya baik dari segi pengobatan, feng shui maupun ilmu bela diri.  Ch’i hanyalah dianggap sebagai kekuatan, energi yang memberikan kekuatan dan keberuntungan bagi mereka yang dapat ‘mengolahnya’ dengan baik.

Selain itu, jika ch’i dapat dikendalikan oleh manusia, tentu ch’i tersebut bukanlah Allah.  Karena Allah yang seharusnya mengendalikan manusia dan bukan manusia yang mengendalikan Allah – jika memang benar ch’i tersebut adalah Roh Allah atau Roh Kudus.

Berbeda dengan pemahaman ch’i, Roh Kudus adalah Allah yang memiliki pribadi.  Roh Kudus adalah Allah yang turut menciptakan manusia yang memiliki pribadi.  Karena Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan-Nya, maka Allah pasti juga memiliki pribadi.  Roh Kudus memiliki kehendak, perasaan, pikiran dan memiliki hikmat untuk memutuskan sesuatu.   Inilah perbedaan yang sangat mendasar sekali dari konsep ch’i yang ada di dalam agama Tao dengan Roh Kudus di dalam pengajaran Kristen.

Roh Kudus adalah Roh Yang Imanen tetapi tidak menyatu dengan alam

Melihat pemahaman yin dan yang di dalam agama Tao atau dalam konteks Asia Timur, maka yang menjadi dasarnya adalah kosmoslogi di mana alam ini adalah makrokosmos dan manusia itu sendiri adalah mikrokosmos.  Manusia akan menemukan Tao jika sudah menyatu dengan alam.  Dari pemahaman ini kita dapat melihat bahwa titik berangkat untuk ‘mengkontekstualisasi’ ch’i sebagai Roh Kudus sudah tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Dalam hal ini nyata sekali bahwa filsafat Tao/yin yang adalah suatu jalan agama/kepercayaan yang mempercayai bahwa “alam itu allah dan allah itu alam.”  Dengan demikian keberadaan Allah sebagai pencipta berpribadi ditolak dan perbedaan Allah-manusia sebagai Pencipta-Ciptaan juga ditolak karena pada hakekatnya “Allah sama dengan manusia dan manusia adalah allah”.  Alkitab dengan sangat jelas sekali menyatakan bahwa adanya perbedaan antara Allah dan manusia.  Allah adalah sang Pencipta dan manusia adalah ciptaan.  Demikian juga dengan alam.  Allah adalah pencipta dari alam semesta ini.  Jelas bahwa adanya perbedaan dan keterpisahan antara Allah dan ciptaan-Nya[104].  Dalam hal ini Pratt menyatakan :

Apabila kita coba mengamati Kejadian 1:1, maka kita dapat melihat bahwa aktivitas penciptaan terdiri dari dua pembagian.  Di satu pihak kita melihat seseorang yang menciptakan, dan di pihak lain kita melihat ciptaan yang Dia ciptakan.  Akibatnya kita dapat melihat garis pemisah atau perbedaan yang tercipta antara Allah sebagai pencipta dengan ciptaan Allah.  Kita akan sebut ini sebagai “perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan.”[105]

Konsep imanen yang di dalam filsafat Tao berbeda dengan pengajaran Kristen.  Di dalam pemahaman ketuhanan sebagai sebuah konsep kovenan[106], Allah adalah kepala kovenan yang terlibat secara mendalam dengan umat-Nya (ciptaan-Nya).  Hanya saja di dalam sejarah umat manusia, terjadi kesalahan pemahaman akan konsep imanensi Allah.  Konsep imanensi Allah yang diartikan, Allah tidak dapat dibedakan dari dunia.  Ketika Allah memasuki dunia, maka Dia menjadi sangat “duniawi” sehingga tidak dapat ditemukan[107]dan dikenal sebagai Allah yang benar.  Allah begitu dekat dengan dunia sehingga Dia tidak dapat dipisahkan dari dunia (imanen), maka kita tidak mengenal Allah dengan benar.  Atau kita dapat “mengenal”-Nya yaitu melalui akal kita semata atau melalui intuisi kita.  Tetapi Allah yang dikenal melalui metode ini bukanlah Allah yang menyatakan diri melalui Kitab Suci sehingga Allah yang demikian adalah Allah ciptaan manusia yang tunduk kepada kendali, pengetahuan dan kriteria manusia sendiri.[108]

Filsafat Tao yang merupakan paham pantheisme merupakan salah satu paham non-Kristen yang salah memahami akan konsep imanensi Allah.  Allah yang begitu dekat dan sangat dekat sehingga akhirnya tidak ada lagi perbedaan antara Allah dengan ciptaan-Nya.  Allah menjadi sama dengan ciptaan (alam) dan alam adalah Allah itu sendiri.  Mereka tahu bahwa Allah itu ada tetapi ketika pemahaman mereka memakai “intuisi” – yaitu konsep pemahaman orang Cina Kuno terhadap alam sekitarnya -, tetapi menghasilkan pemahaman akan Allah yang tidak benar karena bukan berasal dari Kitab Suci sebagai sumber kebenaran dan pengetahuan akan Allah yang benar.

Oleh karena itu, tepat sekali yang dikatakan oleh Ferguson :

‘Spirit’ came to be thought of in immanent but non-personal terms.  A kind of Unitarian immanence theology was the result : the Spirit is God identifying himself with the world.  The panentheism characteristic of later process theology is one expression of this : in God as Spirit we live and move and have our being.  He is not far from any of us; his experience and ours are inextricably linked and mutually interdependent.[109]

Apakah chi tepat sebagai usaha kontekstualisasi Roh Kudus?

Pertanyaan di atas patut kita ajukan di tengah pergumulan teologi di dalam konteks masing-masing.  Kontekstualisasi sangat perlu dan penting yaitu untuk menyatakan kebenaran Firman Tuhan sesuai dengan konteksnya.  Ha ini bertujuan supaya kebenaran Firman Tuhan tersebut dapat dipahami lebih baik, menjadi milik konteks tersebut dan bukan hanya milik konteks Barat di mana kekristenan tumbuh dan berkembang ataupun konteks ‘lampau’ di mana Alkitab itu dicatat.

Walaupun demikian, yang harus kita pikirkan di dalam upaya kontekstualisasi ini adalah istilah-istilah yang dipakai dan pemahaman yang diberikan terhadapnya serta pandangan dunia di belakangnya.  Di dalam upaya kontekstualisasi kita dapat memakai istilah yang berasal dari konteks tersebut – dalam hal ini adalah istilah ch’i.  Hanya saja perlu kita pertimbangkan adalah apakah ada konsep-konsep di balik ch’i tersebut yang menjadi ‘gangguan’ di dalam kita menyampaikan pengajaran Roh Kudus kepada para penganut Tao atau pun di Asia Timur yang telah memiliki konsep yang berbeda dengan konsep Roh Kudus yang berasal dari Firman Tuhan?

Oleh karena itu, di dalam pemakaian istilah-istilah, kita harus memberikan definisi yang telah ‘dibaharui’ sesuai dengan Firman Tuhan.  Pembaruan definisi istilah ini tidaklah langsung mengubah semuanya, tetap kita harus membangun definisi yang diperbarui tersebut di atas budaya dan pengenalan mereka sebelumnya.  Hanya saja kita harus mencari ‘jembatan’ di mana kita dapat menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan secara benar.

Misalnya saja ch’i yang dipahami sebagai nafas, jiwa, roh atau pun Roh Kosmis, ini sudah menjadi dasar untuk kita memberikan definisi yang diperbarui yaitu dengan ‘melengkapinya’ dengan ‘kepribadian’ dari Roh Kudus dan bukan secara mentah-mentah menggantinya.  Jika secara ‘mentah-mentah’ kita menggantinya, kita akan terjebak di dalam pemahaman yang salah.  Roh Kudus hanyalah dipahami sebagai energi atau pun kuasa; seperti konsep ch’i yang telah dipraktekkan sekarang ini.

Dalam hal ini, Hesselgrave menyatakan :

Jika isi berita misionari akan dikontekstualisasikan, kita harus memberikan perhatian pada definisi-definisi.  Akan segera nampak bahwa konsep-konsep fundamental Kristen dapat dengan mudah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Tionghoa – konsep-konsep tentang Allah, surga, hukum, tugas, hak, roh-roh, jiwa, pengorbanan, dan seterusnya.  Tetapi, komunikasi misionari dapat diruntuhkan demikian juga dibangun di atas dasar itu.  Misalnya, ambillah istilah Tao.  Terjemahan bahasa Tionghoa dari pernyataan Kristus di dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan” adalah “Akulah Tao.”  Sekarang pikirkan kembali tentang apa yang sudah dikatakan tentang Tao di dalam konteks pandangan dunia Tionghoa.  Konsep apa yang dapat menjadi jembatan yang lebih baik ke pemahaman tradisional Tionghoa?  Dan apa yang dapat dipenuhi dengan lebih banyak potensi untuk perumusan kembali dan kesalahpahaman terlepas dari definisi dan cukup penjelasan?[110]

Oleh karena itu, penulis setuju jika ada usaha kontekstualisasi ch’i sebagai Roh Kudus.  Hanya saja penulis melihat penting untuk melakukan ‘perumusan kembali’ terhadap definisi-definisi yang berkaitan dengan ch’i tersebut.  Dengan demikian, berita yang hendak disampaikan yaitu Roh Kudus dapat dipahami dengan benar sesuai dengan Firman Tuhan.

KESIMPULAN DAN APLIKASI

Kesimpulan

Pertama, usaha ber’pneumatologi’ di dalam konteks Asia adalah usaha yang benar dan harus dilakukan supaya teologi yang dibangun tidak lagi ‘berbau’ Barat tetapi sudah ‘berbau’ Asia.

Kedua, usaha ber’pneumatologi’ dalam konteks Asia sangat penting mengingat karakteristik Asia yang memiliki keanekaragaman atau pluralistik di dalamnya; adanya bermacam-macam budaya, agama/kepercayaan, kebiasaan, tradisi, suku bangsa dan cara berpikir.  Untuk itu, Kekristenan yang berada di tengah-tengah konteks seperti ini harus benar-benar ‘menyelam’ ke dalamnya sehingga Kekristenan pun menjadi milik Asia dan bukan Barat saja.  Hanya saja harus ditekankan akan keunikan dari doktrin Kristen terhadap agama-agama lainnya.

Ketiga, di dalam usaha ‘berpneumatologi’, kita harus berhati-hati di dalam penggunaan istilah-istilah karena hal ini berkaitan dengan pandangan dunia yang ada dibalik istilah tersebut.  Istilah-istilah yang dipakai hendaknya ‘dirumuskan kembali’ sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

Keempat, terjadi perbedaan yang mendasar antara ch’i di dalam agama atau filsafat Tao dengan Roh Kudus di dalam pengajaran Firman Tuhan.  Ch’i tidak berpribadi, tetapi Roh Kudus adalah Allah yang memiliki pribadi.

Kelima, di dalam pemahaman ch’i sebagai nafas manusia, ch’i bukanlah Roh Allah tetapi ciptaan Allah; satu ‘paket’ dengan penciptaan manusia.

Kelima, jika ch’i dapat dikendalikan dan diolah oleh manusia, maka ch’i bukanlah Allah karena Allah tidak dapat dikendalikan oleh manusia.  Yang benar adalah Allah yang berdaulat dan berkuasa penuh atas manusia sebagai ciptaan-Nya.

Aplikasi

Sebagai aplikasinya, kita harus berhati-hati di dalam menanggapi pengajaran-pengajaran seperti ini.  Terlebih lagi di dalam aplikasi di dalam kehidupan sehari hari.  Jika kita menerima ch’i sebagai Roh Kudus dengan salah, maka tidak masalah jika kita melakukan praktek-praktek ch’i tersebut.  Yang penting bagi kita adalah menyadari bahwa Roh Kudus berpribadi dan dekat dengan kita sebagai umat-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Ching, Julia. Chinese Religions. Maryknoll : Orbis Books, 1993

Demarest, Bruce and Gordon Lewis, Integrative Theology Volume One. Grand Rapids :

Academie Books, 1987

Dunn, James D.G. The Christ & The Spirit Volume 2 : Pneumatology. Grand Rapids : William

B. Eerdmans, 1998

Enns, Paul. Buku Pegangan Teologi. Malang : SAAT, 2003

Ferguson, Sinclair B. The Holy Spirit. Downers Grove : InterVarsity Press, 1996

Frame, John M.  Doktrin Pengetahuan Tentang Allah Jilid 1. Malang : SAAT, 2004

_____________ Cornelius Van Til : Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya. Surabaya :

Momentum, 2002.

Gromacki, Robert . The Holy Spirit. Nashville : Word Pub., 1999

Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru. Bandung : Kalam Hidup, 1990

_______, Hongsui – Antara Tahyul dan Iman Kristiani. Bandung : Yabina, 1996

_______, Tenaga Dalam dan Penyembuhan Holistik – Tinjauan Iman Kristen. Bandung :

Yabina, 1999

Hesselgrave, David. Mengomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya . Malang : SAAT, 2005

Kamus Besar China – Indonesia. Beijing : Pustaka Bahasa Asing, 1995

Karkkainen, Veli-Matti. Pneumatology. Grand Rapids : Baker Book Academic, 2002

Kwek, J.S. Mitologi China & Kisah Alkitab. Yogyakarta : ANDI, 2006

Lee, Jung Young. di dalam buku The Trinity in Asian Perspective. Nashville : Abingdon Press,

1996.

Lee, Peter K.H. Dancing, Ch’i, and the Holy Spirit di dalam buku Frontiers in Asian Christian

Theology. Ed. R.S. Sugirtharajah; Maryknoll : Orbis Books, 1994

Packer. J.I. Knowing God. Downers Grove : InterVarsity, 1993

Pang, Choong Chee. ‘Taoism’ dalam buku A Dictionary of Asian Christianity. Ed. Scott W.

Sunquist; Grand Rapids : William B. Eerdmans, 2001

Payne, J. Barton. “Ruah” di dalam Theological Wordbook of the Old Testament. Ed. R. Laird

Harris, Gleason L.Archer, Jr, Bruce K. Waltke; Chicago : Moody Press, 1980

Rossbach, Sarah. Feng Shui. London : Rider, 1984

Simpkins, C. Alexander dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah.

Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, 2004

_______________________________________, Simple Taoisme – Tuntunan Hidup Dalam

Keseimbangan. Jakarta : Bhuana Ilmu Populer, 2000

Skinner, Stephen. Feng Shui. Semarang : Dahara Prize, 2002

Sudharma, Erick. Mengenal Sang Penghibur. Bandung : Mitra Pustaka, 2005

The Hebrew-Greek Key Study Bible. Ed. Spiros Zodhiates; Chattanooga : AMG, 1996

Wang, Samuel dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala. Glendale : Pan

Asean Foundation, 2003

Wing, R.L. Tao Kekuatan – Tao Te Ching. Jakarta : Elex Media Komputindo, 1994

Yun, D.C. Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions. Ed. Keith Crim;

Nashville : Abingdon, 1981

Jurnal

Mah, Yeow-Beng. “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004

internet

http://en.wikipedia.org/wiki/Qi


[1] Lihat buku Wayne Grudem, Bible Doctrine (Grand Rapids : Zondervan, 1999); Alister McGrath, Christian Theology – An Introduction (Oxford : Blackwell, 1997); Louis Berkhof di dalam Teologi Sistematikanya hanya ada dokrin Allah, Manusia, Kristus, Keselamatan, Gereja dan Akhir Zaman.  Doktrin Roh Kudus kalau pun ada hanya mendapatkan bagian yang sedikit sekali.

[2] J.I. Packer menyatakan :”It is startling to see how differently the biblical teaching about the second and third persons of the Trinity respectively is treated.  The person and work of Christ have been, and remain, subjects of constant debate within the chuch; yet the person and work of the Holy Spirit are largely ignored.  The doctrine of the Holy Spirit is the Cinderella of Christian doctrines.  Comparatively few seem to be interested in it.” [Knowing God (Downers Grove : InterVarsity, 1993), 68.

[3] Veli-Matti Karkkainen, Pneumatology (Grand Rapids : Baker Book Academic, 2002), 11-12

[4] Ibid, 14

[5] Kontekstualisasi adalah “usaha untuk mengomunikasikan karya-karya, perkataan, dan kehendak Allah dalam cara yang setia kepada penyataan Allah, khususnya pada waktu hal ini dikeluarkan di dalam ajaran-ajaran Kitab Suci, dan yang penuh arti bagi responden-responden di dalam konteks kultural dan eksistensial mereka masing-masing.  Kontekstualisasi itu bersifat verbal maupun non verbal dan ada hubungannya dengan berteologi; penerjemahan, penafsiran dan penerapan Alkitab; gaya hidup inkarnasional; penginjilan; pengajaran Kristen; penanaman dan pertumbuhan gereja; organisasi gereja; gaya penyembahan – sungguh dengan semua aktivitas-aktivitas yang termasuk dalam melaksanakan Amanat Agung.” [David Hesselgrave, Mengomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya (Malang : SAAT, 2005), 138-139].

[6] Asia adalah benua yang luar biasa yang terdiri dari negara-negara yang berbeda secara budaya dan suku bangsa serta beberapa agama-agama yang berbeda seperti Hindu, Budha, Konfusius, Tao, Sinto, Shaman, Kristen, Islam dan Yudaisme.  Bahkan agama-agama tersebut lahir dan berkembang di dalam konteks Asia sendiri. [Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, (Nashville : Abingdon Press, 1996, 17]

[7] Ibid

[8] Ibid, 24

[9] Julia Ching, Chinese Religions (Maryknoll : Orbis Books, 1993), 102

[10] Jung Young Lee di dalam buku The Trinity in Asian Perspective;  J.S. Kwek, Mitologi China & Kisah Alkitab (Yogyakarta : ANDI, 2006);  Peter K.H. Lee, Dancing, Ch’i, and the Holy Spirit di dalam buku Frontiers in Asian Christian Theology (Ed. R.S. Sugirtharajah; Maryknoll : Orbis Books, 1994); Samuel Wang dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala (Glendale : Pan Asean Foundation, 2003)

[11] Yeow-Beng Mah, “Living in Harmony with One’s Environment : A Christian Response to Feng Shui” dalam The Asia Journal of Theology Volume 18 No. 2, Oktober 2004, 344

[12] Kamus Besar China – Indonesia (Beijing : Pustaka Bahasa Asing, 1995), 673

[13] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah (Yogyakarta : Ar-ruzsz Media Yogyakarta, 2004), 106

[14] Stephen Skinner, Feng Shui (Semarang : Dahara Prize, 2002), 39

[15] http://en.wikipedia.org/wiki/Qi

[16] Sarah Rossbach, Feng Shui (London : Rider, 1984), 23

[17] Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, 96

[18] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao, 109-111

[19] Herlianto, Humanisme dan Gerakan Zaman Baru (Bandung : Kalam Hidup, 1990), 70

[20] Ibid, 131-132

[21] Ibid, 135-136

[22] Meridian adalah jaringan yang menghubungkan bersama semua substansi dan organ, di dalam maupun di luar, dengan mengedarkan chi dan darah.   Meridian tidak terlihat seperti pembuluh darah atau arteri tetapi menyerupai aliran energi. (Ibid, 136-137)

[23] Ibid, 153

[24] Herlianto, Tenaga Dalam dan Penyembuhan Holistik – Tinjauan Iman Kristen (Bandung : Yabina, 1999), 56

[25] Taoisme didirikan oleh Lao-tzu (lahir 604 SM), seorang yang bekerja sebagai juru arsip di perpustakaan kerajaan.  Setelah beberapa tahun bekerja, Lao-tzu merasa kecewa dengan merajalelanya korupsi di sekelilingnya.  Dia memutuskan pergi dan meninggalkan pekerjaannya.  Sebelum melewati pintu gerbang Barat-laut, seorang penjaga meminta Lao-tzu untuk menuliskan ajaran-ajarannya.  Lao-tzu kemudian menuliskan ajaran-ajarannya yang berbentuk syair – yang kemudian diberi nama Tao Te Ching[25].  Penjaga gerbang tersebut kemudian tersentuh hatinya dan mengikuti Lao-tzu ke mana pun dia pergi.  Lao-tzu menghilang dan tidak pernah ditemukan. [C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah, 17-18]

[26] D.C. Yun, Philosophical Taoisme dalam Dictionary of Living Religions (Ed. Keith Crim; Nashville : Abingdon, 1981), 738

[27] Ibid, 742

[28] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao dalam Sepuluh Langkah, 29

[29] Ibid, 32-33

[30] Terjemahan lainnya :”The Tao gives birth to One; One gives to Two; Two gives birth to Three; Three gives birth to the myriad things.” (Julia Ching, Chinese Religions, 114). “Tao itu ada sebagai satu.  Satu itu ada sebagai dua.  Dua itu ada sebagai tiga.  Dan tiga itu menciptakan segalanya.”.  [Samuel Wang dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala, 72]

[31] Choong Chee Pang, ‘Taoism’ dalam buku A Dictionary of Asian Christianity (Ed. Scott W. Sunquist; Grand Rapids : William B. Eerdmans, 2001), 820.  Julia Ching berpendapat bahwa pasal 42 dari Tao Te Ching ini menunjukkan adanya Allah yang disembah oleh para penganut Tao yang dikenal sebagai ‘Three Pure Ones’ (San-ch’ing/Sanqing), yang adalah Tuhan dari Tiga Prinsip Kehidupan (Three Life-principles) atau ‘nafas’ (ch’i). Nama-nama mereka adalah ‘the Primal Celestial One (Yuan-shih t’ien-tsun/Yuanshi tianzun), ‘the Precious Celestial One’ (Ling-pao t’ien-tsun/Lingbao tianzun), dan ‘the Way-and-Its-Power Celestial One (Tao-te t’ien-tsun/Daode tianzun).  Ching juga memperbandingkan ‘Tiga Tuhan” Tao ini dengan Allah Tritunggal (Kristen) yaitu ‘the Primal Celestial One, yang mengendalikan masa lampau, lebih menyerupai Allah Bapa; ‘the Precious Celestial One’, yang mengendalikan masa sekarang, telah dibandingkan dengan Allah Anak; dan ‘the Way-and-Its-Power Celestial One, yang mengendalikan masa akan datang, dibandingkan dengan Allah Roh Kudus. (Julia Ching, Chinese Religions, 114).

[32] Inti Tao :”Dilihat tapi tidak terlihat : Namanya adalah tak berbentuk. Didengar tapi tidak terdengar : Namanya aalah tanpa suara.  Dijangkau tapi tidak teraih : Namanya adalah tak tersentuh.” [R.L. Wing, Tao Kekuatan – Tao Te Ching (Jakarta : Elex Media Komputindo, 1994), 28

[33] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Simple Taoisme– Tuntunan Hidup Dalam Keseimbangan (Jakarta : Bhuana Ilmu Populer, 2000), 62-63

[34] Ibid, 64-65

[35] C. Alexander Simpkins dan Annellen Simpkins, Belajar Tao, 40-41

[36] Ibid, 46

[37] Ibid, 66-67

[38] Lee menyatakan :”In the West, anthropology seems more important than cosmology.  It focuses on the person as the center of the world.  Descartes’s dictum,”I think, therefore I am” seems to represent the Western way of thinking.  In East Asia we can say,”I am a part of the cosmos; therefore, I think and feel who I am.”  In East Asia, the search for “who I am” seems to begin with an individual’s perception of the cosmos.  It seems that to know the world is to know human nature, for a human being is a part of the world.” (Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, 22)

[39] Ibid, 18

[40] Ibid, 25

[41] Ibid, 26

[42] Herlianto, Hongsui – Antara Tahyul dan Iman Kristiani (Bandung : Yabina, 1996), 12

[43] Ibid, 31

[44] J.S. Kwek, Mitologi China & Kisah Alkitab (Yogyakarta : ANDI, 2006), 64-65

[45] Ibid, 76

[46] Samuel Wang dan Ethel R. Nelson, Allah dan Peradaban Tiongkok Purbakala, 75-75

[47] Jung Young Lee, The Trinity in Asian Perspective, 97

[48] Ibid, 96-97

[49] Ibid, 96

[50] Ibid, 97-98

[51] Peter K.H. Lee, Dancing, Ch’i, and the Holy Spirit di dalam buku Frontiers in Asian Christian Theology (Ed. R.S. Sugirtharajah; Maryknoll : Orbis Books, 1994), 73

[52] J. Barton Payne, “Ruah” di dalam Theological Wordbook of the Old Testament (Ed. R. Laird Harris, Gleason L.Archer, Jr, Bruce K. Waltke; Chicago : Moody Press, 1980), 2131

[53] The Hebrew-Greek Key Study Bible (Ed. Spiros Zodhiates; Chattanooga : AMG, 1996), 1550

[54] Sinclair B. Ferguson, The Holy Spirit (Downers Grove : InterVarsity Press, 1996), 17

[55] Ibid, 17-18

[56] Veli-Matti Karkkainen, Pneumatology, 26

[57] The Hebrew-Greek Key Study Bible, 1534

[58] Ibid, 1536

[59] Ibid, 1664

[60] James D.G. Dunn, The Christ & The Spirit Volume 2 : Pneumatology (Grand Rapids : William B. Eerdmans, 1998), 3

[61] Erick Sudharma, Mengenal Sang Penghibur (Bandung : Mitra Pustaka, 2005), 35

[62] Veli-Matti Karkkainen, Pneumatologi (Grand Rapids : Baker Academie, 2002), 23-24

[63] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi (Malang : SAAT, 2003), 315

[64] Erick Sudharma, Mengenal Sang Penghibur, 36

[65] Ibid

[66] Bruce Demarest and Gordon Lewis, Integrative Theology Volume One (Grand Rapids : Academie Books, 1987), 195

[67] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 302

[68] Robert Gromacki, The Holy Spirit (Nashville : Word Pub., 1999), 6

[69] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 302

[70] Ibid, 303

[71] Ibid

[72] Ibid

[73] Ibid, 303-304

[74] Ibid, 304

[75] Ibid

[76] Ibid

[77] Ibid

[78] Ibid, 305

[79] Ibid

[80] Ibid

[81] Ibid

[82] Ibid

[83] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 16

[84] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 306

[85] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 22

[86] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 307

[87] Ibid, 308

[88] Ibid

[89] Ibid

[90] Ibid

[91] Ibid

[92] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 12

[93] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 308

[94] Robert Gromacki, The Holy Spirit, 23

[95] Ibid

[96] Ibid

[97] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, 309

[98] Ibid

[99] Ibid, 310

[100] Ibid

[101] Ibid

[102] Ibid

[103] Ibid

[104] Doktrin penciptaan ini adalah titik tolak pemikiran dari Van Til selama berabad-abad yang dinyatakan : Allah adalah Pencipta; dunia merupakan ciptaan-Nya.” [John M. Frame, Cornelius Van Ti: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya (Surabaya : Momentum, 2002), 55]

[105] Richard L. Pratt, Jr., Menaklukkan Segala Pikiran Kepada Kristus (Malang : SAAT, 1995), 14

[106] Kovenan adalah sebuah kontrak atau kesepakatan antara dua pihak yang sederajat atau dalam relasi antara tuan dan para hambanya.  Kovenan antara Allah dan manusia dalam Kitab Suci merupakan jenis kovenan yang kedua yaitu antara tuan dan hamba-Nya.  Allah memilih umat Israel sebagai umat kesayangan-Nya di mana Allah menyatakan anugerah melalui pemilihan bangsa ini kepada seluruh umat manusia. (John M. Frame, Doktrin Pengetahuan Tentang Allah Jilid 1, (Malang : SAAT, 2004), 22

[107] Ibid, 24

[108] Ibid, 32-33

[109] Sinclair B. Ferguson, The Holy Spirit, 242

[110] David Hesselgrave, Mengomunikasikan Kristus secara Lintas Budaya, 262

Hidup Dalam Kasih 25/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
add a comment

Oleh: G.I. Santobi., M. Div.

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus Yesus,

Seringkali, ketika kita mendengar atau membicarakan tentang kasih, maka yang terlintas di benak kita adalah hal-hal yang indah-indah.  Kita pasti senang kalau ada orang yang mengasihi kita.  Apalagi gambaran kasih yang muncul di permukaan adalah kasih yang menyenangkan.  Coba kita perhatikan jika hari valentine tiba, banyak coklat dan bunga berbagai ukuran dan bentuk telah tersedia sebagai kado yang diberikan kepada orang yang kita kasihi.  Banyak orang juga menyempatkan diri untuk mencari waktu khusus hanya berdua saja supaya dapat menikmati kebersamaan.

Hanya saja, mengapa pula banyak orang yang menderita walaupun dia tahu bahwa ia dikasihi atau mengasihi?  Maksud saya adalah mengapa misalnya tetap ada duka dan kepahitan, ada kesusahan dan penderitaan di mana seharusnya kasih itu ditaburkan dan menuai keindahan dan kebahagiaan?  Misalnya saja di keluarga.  Mengapa harus ada air mata yang keluar atau teriak-teriak ketika konflik terjadi?  Mengapa harus pukulan-pukulan yang diberikan hanya untuk memberikan pelajaran?  Di manakah yang salah?  Apalagi kalau kita bicara tentang kasih di dalam gereja; mengapa harus ada pertikaian dan perpecahan; mengapa harus ada kedengkian dan iri benci?  Apakah yang salah?  Bukankah seharusnya gereja menjadi tempat di mana kasih tumbuh subur dan menghasilkan buah?

Saudaraku yang terkasih, hari ini kita akan belajar tentang Hidup Dalam Kasih, khususnya dari nasehat Paulus kepada jemaat di Korintus.  Kita tahu bahwa jemaat ini diberkati Tuhan dengan berbagai macam pengetahuan dan karunia, berbagai macam talenta dan kemampuan; mereka adalah jemaat yang luar biasa.  Tetapi yang mengherankan adalah mereka ternyata juga jemaat yang memiliki masalah yang luar biasa banyaknya.  Mereka ternyata jemaat yang masih hidup dalam pertikaian dan perselisihan.  Karena itu, di dalam bagian ini, Paulus memberikan pengajaran tentang kasih di tengah-tengah pengajaranya tentang karunia-karunia rohani; tentang karunia-karunia supranatural yang menjadi kebanggaan jemaat Korintus.  Tetapi bagi paulus, semua karunia itu adalah sia-sia tanpa kasih.  Karena itu, Paulus rindu mereka tidak hanya hidup melayani dengan begitu banyak karunia tetapi juga mereka harus hidup dalam kasih.  Untuk hidup sebagai satu tubuh, maka kasih tidak boleh ditinggalkan.  Di dalam kasih, tubuh di mana Kristus sebagai kepala, dibangun dan di dalamnya orang percaya berakar dan berdasar.  Kasih bisa dikatakan sebagai ikatan kesempurnaan dan bahkan pembentuk kesatuan jemaat (Kol. 2:2).

Karena itu, pada bagian ini Paulus mencoba menghubungkan berbagai karunia di dalam tubuh Kristus dengan kasih.  Dengan demikian jemaat dalam memiliki kehidupan di dalam kasih.

Untuk memiliki kehidupan dalam kasih, saya melihat ada tiga unsur penting. 1. Kasih menjadi Motivasi.

Maksudnya adalah di dalam kita berjemaat sebagai satu tubuh Kristus, motivasi yang paling mendasar dan utama adalam kasih.  Tanpa kasih, apa pun yang dilakukan adalah sia-sia; karena semua yang dilakukan hanya demi kepentingan diri sendiri saja.

Hal ini jelas dari apa yang dikatakan oleh rasul Paulus di dalam ayat 1 sampai 3.  Walaupun seseorang memiliki karunia berbahasa lidah atau mampu berbicara dalam semua bahasa atau bahasa malaikat, semua sia-sia tanpa motivasi kasih.  Walaupun seseorang memiliki karunia bernubuat dan mengetahui segala rahasia, tetapi tanpa kasih, maka semua itu sia-sia.  Walaupun seseorang memiliki iman yang paling tinggi—mampu memindahkan gunung—tanpa kasih, semua itu tidak berguna.  Bahkan sekalipun seseorang memiliki tingkat kasih yang paling tinggi, yaitu pengorbanan diri, tetapi jika ia tidak memiliki motivasi kasih dari apa yang ia lakukan, maka semua hanya sia-sia saja.  Tidak ada yang spesial dan khusus dari apa yang ia lakukan.  Karena semua yang ia lakukan hanya untuk diri sendiri dan hanya untuk kemuliaannya saja.

Jadi, dalam bagian ini, Paulus hendak menyatakan bahwa walaupun memiliki karunia-karunia yang hebat dan luar biasa seperti karunia bahasa lidah, bernubuat, iman dan kemurahan yang luar biasa, tanpa kasih, tanpa motivasi kasih, maka semua itu sia-sia saja.  Artinya jelas bahwa Paulus menasehati jemaat di Korintus ini untuk menekankan bahwa di dalam kita melayani Tuhan dengan berbagai macam karunia harus dan berdasar serta bermotivasi kasih dan bukan hanya untuk diri sendiri, kemuliaan diri sendiri dan untuk persaingan yang paling hebat, paling rohani dan tanpa mulia dari jemaat yang lain.  Jika itu terjadi, hanya menunjukkan kesombongan dan keangkuhan saja dan bukan menunjukkan seorang anak Tuhan yang rendah hati dan mengasihi Allah dan sesama.

Ada seorang anak perempuan kecil sedang berjalan-jalan dengan kakeknya.  Mereka tiba di depan pagar kebun yang diselimuti dengan bunga-bunga  mawar merah.  Sambil menarik nafas dalam-dalam, anak perempuan kecil itu berkata, “Kakek, bisakah kakek mencium harumnya bunga-bunga mawar itu?  Bunga-bunga itu bagus sekali.”

Kemudian keduanya mendengar suara seorang nenek tua yang sedang duduk di beranda atau teras.  “Ambillah sebanyak yang kamu inginkan, “ katanya.  Maka kedua orang itu, kakek dan cucunya, masing-masing memetik satu tangaki mawar dan mengucapkan terima kasih kepada nenek tua itu dan memuji keindahan bunga-bunga mawarnya.

Nyonya tua itu berkata, “Saya menanamnya dengan tujuan untuk membuat orang lain senang.  Saya sendiri tidak bisa melihat bunga-bunga itu, karena saya buta.”

Saudaraku yang terkasih, kita juga belajar bahwa dalam kehidupan kita pun harus berlaku demikian.  Kita rindu apa yang kita lakukan adalah untuk menyenangkan orang lain, berbuat untuk orang lain walaupun kita sadar bahwa seringkali kita tidak dapat menikmati apa yang kita miliki.  Tetapi dari ilustrasi ini kita belajar bahwa hidup dalam kasih adalah hidup yang memikirkan orang lain, hidup yang memiliki motivasi yang murni yaitu kasih itu sendiri.  Tanpa motivasi atau dasar kasih terhadap Tuhan dan sesama, maka apa pun yang kita lakukan adalah sia-sia dan tidak berguna; hanya untuk demi kepentingan dan kemuliaan kita saja.  Di rumah atau di keluarga, mari kita bekerja dan melayani dengan motivasi kita mengasihi keluarga kita.  Di gereja, kita melayani dan bersekutu dengan motivasi bahwa kita mengasihi saudara-saudara seiman kita.  Mari, kita bermasyarakat, kita menjadikan diri kita berkat bagi orang lain dengan motivasi kita mengasihi mereka.

2. Aksi atau demonstrasi

Di dalam kehidupan sebagai jemaat, kasih tidak cukup hanya sekedar motivasi tetapi juga harus ada aksi atau demonstrasi.  Inilah gambaran kasih yang sejati yaitu kasih yang benar-benar nyata di dalam perbuatan dan bukan hanya sekedar perkataan saja.  Bagi Paulus, hidup sebagai satu tubuh Kristus harus mempraktikkan kasih dan bukannya saling menyakiti dan saling menghina.  Sebagai satu tubuh Kristus, jemaat Tuhan tidak boleh saling iri dan mendengki, saling benci dan emosi, dan menunjukkan kesombongan.  Umat Tuhan harus memiliki kasih yang nyata dengan tabah di dalam menghadapi kesusahan, kepahitan dan perlakuan yang tidak baik dari orang lain, harus saling percaya dan bergandengan tangan di dalam menghadapi berbagai pencobaan dan pergumulan.  Dengan kasih yang nyata, jemaat akan bertumbuh bukan hanya sekedar kuantitas saja tetapi juga dalam kualitas.  Jadi, Paulus sangat, sangat menekankan bahwa di dalam jemaat Tuhan sangat dibutuhkan kasih yang nyata dan bukan hanya sekedar slogan atau perkataan saja.

Hal yang sama juga ditekankan oleh Rasul Yohanes yang menyatakan, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yoh. 3:18). Tuhan Yesus menyatakan bahwa “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal” (Yoh. 3:16).  Kasih tidak hanya sekedar slogan atau janji saja tetapi juga menyangkut aksi. Allah tidak hanya sekedar mengasihi tetapi Ia juga telah membuktikan kasih-Nya dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib.  Apakah mudah saudaraku, Allah melakukan ini?  Apakah kita dapat melakukan hal yang sama seperti yang allah lakukan yaitu memberikan anak kita untuk menggantikan orang yang telah menyakiti kita ketika ia akan menerima hukuman?  Tidak mudah bahkan sangat sulit.  Tapi Allah mengasihi manusia dan juga telah membuktikan kasih itu.

Saudaraku, saya ingat sebuah gambar.  Di dalam gambar itu, ada seekor binatang yang sedang menggigil karena kedinginan dan kehujanan.  Kemudian datanglah seekor binatang lainnya yang memakai baju hangat dan payung.  Binatang yang kedua ini kemudian menanyakan apakah ia kedinginan atau tidak.  Tentu saja, ia menjawabnya dengan menyatakan iya.  Hanya saja, setelah bertanya tersebut, binatang yang kedua, berkata untuk mencari baju hangat dan payung.  Tetapi ia sendiri tidak pernah mau memberikan baju hangatnya atau payungnya untuk diberikan kepada binatang yang pertama tersebut.

Saudaraku, kalau kita ditanya apakah kita mengasihi orang-orang di dalam tubuh Kristus?  Tentu kita akan menjawab ya.  Tetapi berapa banyak dari kita yang mau dan rela memberikan apa yang kita punya dan juga rela berkorban untuk kebaikan saudara-saudaranya?  Berapa banyak dari kita yang tergerak mau membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesusahan?  Kasih dapat menjadikan yang berbeda dapat mendapatkan perlakuan yang sama.  Kasih dapat menjadikan yang lemah dan miskin, menjadi orang yang istimewa.  Kasih dapat menjadikan yang terhilang menjadi orang yang diselamatkan.  Mari kita terapkan, kita nyatakan kasih itu dalam keluarga kita, dalam gereja, dalam pekerjaan kita dan di mana pun kita berada.

3. Relasi

Unsur ketiga hidup dalam kasih adalah relasi.  Kasih tanpa relasi adalah seperti seekor kura-kura yang tidak pernah mengeluarkan kepalanya dari rumah yang ia bawa ke mana-mana.  Kasih yang hidup adalah kasih yang berhubungan dengan pihak lain; bukan hanya dirinya sendiri.  Kasih tidak hanya berbicara tentang saya tetapi juga orang lain.  Kasih juga bukan hanya untuk kepentingan orang lain tetapi juga demi kepentingan orang lain.

Memang kasih yang terbuka sangat rentan dan mudah terluka.  Tetapi kasih tanpa penderitaan bukanlah kasih yang dewasa dan hidup.  Bagi Paulus, kasih tanpa relasi seperti kasih yang kanak-kanak dan bukan kasih yang dewasa.

Kasih itu harus terwujud dan nyata di tengah-tengah relasi kita dengan Allah dan sesama baik orang percaya maupun yang tidak percaya.  Kita berulangkali ditekankan untuk mengasihi Tuhan kita dengan segenap hati, jiwa, raga dan akal budi kita.  Ketika kita berelasi dengan Allah, maka kasih kita pun harus nyata yaitu dengan mengasihi dan berusaha menyenangkan akan Allah.  Kasih tanpa relasi dengan Allah merupakan kasih yang dingin dan mati, karena kasih yang sejati berasal dari Allah dan Allah sendiri adalah kasih.  Artinya orang dapat mengasihi dengan kasih yang sejati harus memiliki relasi dengan Allah sebagai sumber dari kasih itu.

Kasih juga memerlukan tempat di antara kita dan sesama untuk mewujudkannya.  Tanpa relasi dengan sesama, kasih kita adalah kasih yang kanak-kanak, yang hanya mementingkan dan memanjakan diri sendiri saja.  Dengan kasih yang terwujud di dalam relasi dengan sesama, kita belajar untuk memiliki kasih yang dewasa dan tahan lama.  Tentu saja, ketika kita berelasi dengan orang lain, kasih akan menghadapi ujian.  Terkadang konflik-konflik yang dapat membuat kasih dingin dan membeku.  Tetapi kasih yang dapat melewati konflik-konflik akan menjadi kasih yang hangat dan memberikan kedamaian di hati.  Kasih yang telah teruji melalui penderitaan, akan tahan lama dan bertahan sampai akhir bahkan akan terus ketika kita bersama dengan Tuhan di surga.

J. Knox Chamblin menyatakan demikian, “Kasihilah segala sesuatu, dan hatimu pasti akan diremukkan dan mungkin saja hancur.  Bila Anda ingin memastikan kasih itu tetap terjaga secara utuh, jangan berikan hati Anda kepada siapa pun, tidak juga kepada hewan.  Bungkuslah hatimu hati-hati dengan hobi-hobi dan kemewahan-kemewahan kecil; hindarilah semua keterlibatan; kuncilah hatimu dalam peti mati atau keranda keegoisanmu.  Tetapi dalam keranda itu—aman, gelap, tak bergerak, tanpa udara—hati itu akan berubah; tidak akan hancur, akan menjadi tahan banting, tak tertembus dan tak tertebus.  Alternatif bagi tragedi, atau setidaknya bagi resiko dari tragedi itu, adalah kebinasaan.  Satu-satunya tempat di luar Sorga di mana Anda bisa benar-benar selamat dari semua bahaya dan segala gejolak kasih adalah Neraka.”

Seorang ibu yang selalu mendapatkan kepala ikan ketika mereka makan bersama-sama.  Suatu ketika seorang ibu mendapatkan sebuah kepala ikan sebagai hadiah ultahnya.  Suaminya berpikir bahwa istrinya memang sangat suka kepala ikan.  Tetapi sebenarnya, istrinya berkorban demi suami dan anak-anaknya supaya mereka dapat makan bagian yang terbaik dari ikan tersebut. Sedangkan sisanya, termasuk kepala ikan, ia yang makan.

Saudaraku, ketika kita bertekad untuk hidup dalam kasih, maka jangan kita membayangkan bahwa kita akan hidup senang dan tanpa kesusahan.  Justru ketika kita membuka diri untuk mengasihi dan dikasihi, maka kita harus mau terbuka untuk disakiti dan menyakiti.  Hal ini kita hadapi sebagai proses pendewasaan kasih yang kita miliki.

APAKAH DISIPLIN GEREJA PADA MASA KINI TIDAK DIBUTUHKAN LAGI? 24/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
add a comment

PENDAHULUAN

Pada masa kini, praktek disiplin gereja tampaknya sudah memasuki tahap “tumpul,” tidak lagi  tajam di dalam mengawasi, menegur dan membimbing anggota gereja yang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan.  Gereja yang berusaha keras di dalam mempertahankan penyampaian Firman Tuhan dengan setia sering kali lemah di dalam penegakan akan disiplin gereja.  Gereja yang demikian umumnya memberikan alasan bahwa disiplin gereja dapat berakibat buruk bagi orang yang melakukan kesalahan, mereka dapat tersinggung dan dapat meninggalkan gereja.  Selain itu, disiplin gereja dianggap sebagai sikap “menghakimi” yang dianggap juga sebagai sikap yang tidak dapat dibenarkan (Mat. 7:1).  Ada juga sebagian kalangan yang menyatakan bahwa tidak ada alasan yang kuat atau mendasar untuk menghukum atau mendisiplin seseorang hanya karena melakukan dosa yang sepele, terlebih lagi orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang terpandang, kaya dan berkuasa.  Tidak rela untuk menghukum mereka karena takut mereka “lari” ke gereja lain.

Dalam masalah disiplin gereja inilah, seorang pemimpin gereja berperan sangat penting.  Dia haruslah seorang yang memiliki integritas dan karakter yang baik.  Di sisi yang lain, pemimpin haruslah yang memiliki keberanian untuk bersikap di dalam menghadapi dosa-dosa yang ada di tengah-tengah umat Allah.  Pemimpinlah yang harus menjadi “imam” di dalam kehidupan umat-Nya yaitu menjadi perantara untuk menegur dosa-dosa umat-Nya dan menaikkan doa-doa pengakuan dosa di hadapan Tuhan bagi jemaat-Nya.  Oleh karena pentingnya tema ini khususnya berhubungan dengan disiplin gereja, maka penulis tertarik untuk membahasnya.

Arti Kata Disiplin Dalam Alkitab

Kata disiplin dalam bahasa Ibrani berasal dari kata “musar” yang berarti hukuman, koreksi, disiplin dan pengajaran.  Kata ini menggambarkan bagaimana pernyataan dan pemeliharaan-Nya di dalam kehidupan umat pilihan-Nya yaitu Israel.  Sebagai respon dari kasih-Nya dan pemeliharaan-Nya, Allah mengharapkan  akan kepercayaan dan ketaatan, yang mencerminkan akan kekudusan-Nya.  Tetapi oleh karena umat-Nya melawan Allah, maka Allah memberikan hukuman untuk mendisiplin mereka supaya umat-Nya tetap percaya dan setia kepada Firman-Nya (Ul. 4:36; 8:5; Hos. 7:12; 10:10).

Sedangkan kata disiplin dalam bahasa Yunani berasal dari kata “paideia” yang berarti latihan, pengajaran dan disiplin.  Kata “paideia” menunjuk kepada pengajaran kepada anak-anak (Ef. 6:4; 2Tim. 3:16).  Ini juga dapat membawa implikasi kepada hukuman atau disiplin, karena pengajaran yang efektif sering kali mencakup disiplin dan koreksi (Ibr. 12:5, 7-9, 11).

Dalam Perjanjian Baru disiplin dihubungkan dengan didikan Tuhan sebagai tindakan yang menyatakan kasih Allah untuk memelihara umat-Nya penghakiman akhir (Ibr. 12:5-6).  Disiplin Allah merupakan tanda kasih-Nya seperti seorang ayah sayang kepada anaknya (Ibr. 12:7-11).  Allah sebagai seorang ayah yang menghukum anak-anak-Nya karena Dia mengasihi, untuk menjaga kita dalam keberadaan kita sebagai anak-anak-Nya dan menyebabkan anak-anak-Nya berbalik dan berjalan pulang. Disiplin atau koreksi ini dapat dilakukan melalui perkataan, peringatan atau teguran (2Tim. 2:25) atau melalui penderitaan karena kejahatan dan bencana (1Kor 11:32; 2Kor. 6:9).

Jadi, disiplin gereja dapat diartikan tindakan yang dilakukan untuk memanggil atau membawa kembali mereka yang telah berdosa atau jauh dari Allah untuk kembali kepada-Nya dan mentaati Firman-Nya.  Dengan demikian, melalui disiplin gereja tersebut anak-anak Tuhan akan semakin bertumbuh dan menjadi serupa dengan-Nya.

Disiplin Gereja Sebagai Kebutuhan

  1. Disiplin Gereja adalah mandat dari Tuhan sebagai Kepala Gereja.

Menurut John Calvin—di dalam bukunya yang berjudul: Institutes of the Christian Religion—selain gereja memiliki kuasa untuk pengajaran dan membuat peraturan, gereja juga memiliki kuasa untuk menjalankan disiplin (peradilan/jurisdiction).  Kuasa untuk mengadakan disiplin gereja berdasarkan atas kuasa yang Kristus berikan kepada gereja (Mat. 18:15-18 dan 16:19) yaitu kuasa untuk menegur seseorang yang berdosa dan mengucilkannya setelah dilakukan penyelidikan dan prosedur yang tepat.  Selain itu juga, Kristus memberikan kuasa Roh Kudus untuk mengampuni seperti yang dinyatakan di dalam Yohanes 20:23: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Untuk tujuan itu, gereja telah menetapkan majelis jemaat (konsistori) untuk mengawasi kesusilaan, memeriksa kesalahan-kesalahan dan menyelenggarakan jabatan kunci.

Di dalam Matius 18:15-17, Kristus sendiri telah memerintahkan gereja untuk menghadapi dosanya sendiri dan memberikan prinsip bagaimana gereja dapat menangani permasalahan dosa dengan baik dan hal ini lebih daripada hanya sekedar langkah-langkah panduan belaka.  Gereja harus melakukan disiplin bagi anggota-anggotanya.  Paulus pun di dalam 1 Korintus 5:1-13 menegaskan bahwa disiplin gereja bukan hanya sekedar pilihan untuk dilakukan, tetapi itu sudah menjadi mandat untuk dilakukan.  Gereja memiliki otoritas untuk mengusir “orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1Kor. 5:13).

  1. Disiplin Gereja Diperlukan untuk Menjaga Kekudusan Umat Tuhan.

Tujuan disiplin gereja menurut Calvin adalah pertama, untuk mempertahankan kesucian gereja sebagai persekutuan yang merayakan Perjamuan Kudus, supaya nama Tuhan tetap dipermuliakan dan tidak dicemarkan; kedua, untuk melindungi orang-orang yang baik yang ada di dalam gereja supaya mereka tidak dirusak oleh pergaulan dengan orang-orang yang jahat.  Ketiga, untuk mendorong orang-orang jahat tersebut – melalui teguran dan hukuman – sehingga mereka merasa malu, menyesali kejahatan mereka dan bertobat.

Disiplin gereja perlu dilaksanakan di dalam gereja karena Allah mengharapkan kekudusan dari umat-Nya.  Orang-orang Kristen sebagai umat-Nya tidak akan pernah lepas dari sifat Allah itu sendiri yaitu kudus.  Oleh karena itu, karena Allah adalah Allah yang kudus, maka umat-Nya pun harus hidup kudus (Im. 11:44; 1Pet. 1:14-16; 2:9-10).  Berkenaan dengan hidup kekudusan, Paulus mengajarkan bahwa umat Tuhan haruslah memisahkan diri dari kehidupan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan (2Kor. 6:14-7:1).  Terlebih lagi kehidupan orang Kristen pada masa kini penuh dengan tantangan dan masalah.  Masalah seks, alkohol dan uang adalah hal-hal yang juga menjadi masalah di dalam kehidupan orang beriman.  Sekarang, tampak sekali tidak adanya perbedaan antara kehidupan orang Kristen dan non Kristen.  Oleh karena itu, gereja harus berusaha menyadarkan orang-orang Kristen untuk hidup terpisah dari hal-hal yang tidak benar dan tidak hidup munafik.

  1. Disiplin Gereja Diperlukan Supaya Umat Tuhan Memuliakan-Nya.

Tujuan dari disiplin gereja adalah memuliakan Allah melalui ketaatan kepada Firman-Nya.  Melalui ketaatan kepada Firman-Nya, maka hal ini sudah menyukakan hati Tuhan dan menjadi saksi kemuliaan-Nya di hadapan orang lain.

  1. Disiplin Gereja Diperlukan Supaya Umat Tuhan Berfungsi Sebagai Satu Tubuh Kristus

Orang-orang Kristen adalah satu tubuh di dalam Kristus.  Di dalam 1 Korintus 12:27 dengan jelas dikatakan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” Oleh karena itu penting sekali kita menyadari bahwa “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita” (1Kor. 12:26).  Dosa salah seorang anggota jemaat haruslah menjadi keprihatinan bagi semua anggota jemaat.  Keprihatinan inilah yang harusnya mendorong bagi anggota jemaat yang lain untuk menegur “mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” (1Tes. 5:14).  Paulus pun memberikan nasehat kepada jemaat di Kolose: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kol. 3:16).  Menurut Calvin, disiplin gereja merupakan urat-urat yang saling menghubungkan anggota-anggotanya dan menjamin bahwa anggota-anggotanya tetap pada tempat yang selayaknya. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita sebagai sesama anggota tubuh Kristus untuk merangkul dan membangkitkan kembali mereka yang jatuh dan tenggelam dalam dosa dan bukan justru menghakimi dan menghindarinya.

Pelaksanaan Disiplin Gereja  Dengan Kasih

Dalam Matius 18:15-20, Tuhan Yesus telah memberikan beberapa langkah di dalam melaksanakan “disiplin gereja.”  Langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali (15).

Permasalahan disiplin gereja dimulai ketika saudara seiman kita melakukan hal yang tidak benar atau tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.  Dikatakan “jika saudaramu berbuat dosa,” menunjukkan bahwa sebagai orang Kristen, saudara seiman kita tetaplah manusia biasa dan dapat berbuat dosa.  Hal ini mengajarkan bahwa ketika saudara seiman atau satu gereja dengan kita jatuh dalam dosa, sebagai seorang pemimpin janganlah kita cepat menghakimi atau menghina dia sebagai seorang yang lemah dan tidak mampu menang melawan dosa.  Bukan juga menyebarkan keburukannya tersebut tetapi dikatakan “tegorlah dia di bawah empat mata.”  Terjemahan di dalam bahasa Inggris, kata tegorlah terdiri dari dua frase yaitu “go” dan “show him his fault” (New International Version/NIV). Sebagai seorang pemimpin langkah pertama-tama sekali ketika menyaksikan saudara seiman kita mengalami kejatuhan dalam dosa, pergilah mencarinya.  Umumnya jika seorang kedapatan jatuh dalam dosa, langkah yang biasa diambil oleh kebanyakan orang adalah menghindarinya dan jangan sampai kita ikut terlibat di dalam permasalahannya.  Tetapi Yesus menegaskan bahwa ketika saudara kita jatuh dalam dosa, kita harus pergi mencarinya.  Setelah kita mendapatinya, kita harus dapat menunjukkan kesalahan yang telah ia lakukan sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.  Teguran yang kita sampaikan harus dengan sikap yang baik dan lemah lembut seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Galatia 6:1 yang berbunyi: “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”  Teguran pertama terhadap saudara kita harus bersifat pribadi dan hanya berdua saja.  Hal ini dilakukan untuk menghindari “gossip” atau “perbicaraan di luar” yang tidak membuat nyaman baik saudara kita tersebut dan juga situasi dan kondisi di dalam gereja.  Harapan dari teguran yang kita lakukan tersebut adalah pertobatan dari saudara kita yang berbuat dosa tersebut seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus: “jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”  Jika dia bertobat, maka akan ada rekonsiliasi dan pemulihan terhadapnya dan juga orang-orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

  1. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan (16).

Bagaimana jika saudara kita tersebut menolak teguran yang kita sampaikan?  Tuhan Yesus mengajarkan: “bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.”  Siapakah dua atau tiga orang saksi tersebut?  Sebagai seorang pemimpin gereja, kita harus berhati-hati di dalam memilih “rekan-rekan” kita di dalam melakukan tugas ini.  Orang-orang yang kita pilih lebih baik adalah para deaken atau penilik jemaat yang memang memilih tugas dan tanggung jawab terhadap jemaat serta yang memilih karunia di dalam menasehati atau mengajar.  Dengan menyertakan dua atau tiga orang saksi tersebut, maka perkara yang dibicarakan tersebut akan semakin diteguhkan yaitu bahwa memang benar apa yang dilakukan oleh saudara kita tersebut adalah salah atau melanggar Firman Tuhan.  Memang di dalam melakukan hal ini, tentu kita tidak hanya sekali lalu cepat mengambil kesimpulan.  Tetapi kita harus belajar bersabar dan dengan lemah lembut membawa saudara kita tersebut kembali kepada kehidupan yang benar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

  1. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (17a).

Bagaimana jika dia kembali tidak mau mendengarkan teguran atau nasehat yang telah disampaikan oleh kita bersama-sama dengan dua atau tiga orang saksi?  Jika ia tetap tidak mau mendengarkan, maka Tuhan Yesus mengajarkan untuk membawa perkaranya kepada jemaat atau komunitas di mana dia berjemaat dan melayani.  Praktek ini tidaklah mudah dilakukan.  Tidak mudah membawa kesalahan seseorang di hadapan jemaat dan mengumumkan akan kesalahannya tersebut di hadapan jemaat.  Walaupun demikian, langkah ini adalah langkah yang terbaik.  Di satu sisi, hal ini mengajarkan jemaat untuk dewasa di dalam menyikapi jika salah satu dari mereka berbuat dosa.  Mereka diajarkan bahwa setiap orang dapat berbuat dosa dan memerlukan dukungan dari semua anggota jemaat; bukan untuk digosipkan atau dibicarakan tanpa jelas permasalahannya.  Di sisi yang lain, jemaat adalah kumpulan dari berbagai macam orang dengan berbagai macam karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.  Oleh karena itu, pertimbangan dari jemaat adalah pertimbangan yang terbaik asal dilakukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan bukan hanya berdasarkan perasaan atau emosi semata.  Pertimbangan perkara tersebut di bawah kepada jemaat bukan dengan tujuan untuk “lebih memojokkan” sang pelaku, tetapi kembali untuk meneguhkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh sang “pelaku” adalah tidak benar dan perlu pertobatan.  Hanya saja, sebagai pemimpin gereja kita perlu berhati-hati jangan sampai perkara ini menimbulkan konflik yang lebih melebar dan mengancam akan keutuhan gereja sebagai satu tubuh Kristus.

  1. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai (17b).

Langkah terakhir yang Tuhan Yesus ajarkan jika saudara kita tersebut tidak mau menyadari kesalahannya dan bertobat di hadapan Tuhan, maka dia harus dipandang sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau sebagai seorang pemungut cukai.  Tampaknya ini adalah langkah yang kejam dan tidak manusiawi.  Sepertinya Tuhan Yesus hendak melemparkan begitu saja orang yang berdosa terhadap-Nya.  Akan lebih “seram lagi” jika kita membaca apa yang disampaikan oleh rasul Paulus terhadap orang-orang yang tidak mau bertobat.  Terhadap orang-orang seperti itu, rasul Paulus dengan tegas menyatakan: “jauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:2), “serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis” (1Kor. 5:5), “buanglah ragi yang lama itu” (1Kor. 5:7), “usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1Kor. 5:13) dan “kuserahkan kepada Iblis” (1Tim 1:20).  Hanya saja kalau kita cermati dengan baik apa yang dimaksud dengan “seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai,” maka kita akan memiliki pandangan yang berbeda.  Kita tahu bahwa Kristus Yesus datang ke dalam dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.  Jika kita memperhatikan bagian Firman Tuhan sebelum dan sesudah Matius 18:15-20, maka kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus.  Di dalam Matius 18:12-14, Yesus menceritakan tentang perumpamaan domba yang hilang dan diakhiri dengan perkataan-Nya: “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang” (18:14).  Sedangkan di dalam Matius 18:21-35, Tuhan Yesus mengajarkan tentang pengampunan di mana ditegaskan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita.  Dengan demikian kita bisa memahami bahwa orang-orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai adalah orang yang terhilang dan yang membutuhkan pengampunan dari kita.  Mereka membutuhkan perhatian yang lebih lagi dari kita supaya mereka diselamatkan.  Jadi maksud Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang-orang yang tidak bertobat adalah sebagai orang-orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, bukanlah supaya kita “menendang” mereka keluar dari komunitas kita sebagai satu tubuh Kristus. Tetapi bagaimana dengan kasih yang lebih nyata lagi kita harus mau merangkul dan mengasihi mereka supaya mereka diselamatkan.  Demikian juga dengan Rasul Paulus.  Di dalam 2 Korintus 2:5-8, Paulus menyatakan demikian: “Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–, hati beberapa orang di antara kamu.  Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat.  Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.”  Dari sini kita dapat belajar bahwa Paulus pun rindu orang-orang yang telah ditegor karena dosanya, harus tetap diperhatikan dan dikasihi.  Bukti nyata sebagai satu tubuh Kristus—yang mau saling membangun dan membantu satu sama lain—adalah kita mau mengampuni dan menghiburnya supaya jangan dia tenggelam di dalam kesedihannya sebagai orang-orang yang dianggap sebagai “pesakitan” karena pelanggarannya.  Oleh karena itu, kita harus menghindari sikap yang umum terjadi yaitu kita cenderung menghakimi mereka yang telah berdosa.  Bahkan mereka yang sudah bertobat dan kembali ke tengah-tengah jemaat pun terkadang masih “dihakimi” oleh sebagian jemaat melalui sikap dan perkataan yang terkadang menyakiti orang tersebut.  Tidak heran “lebih baik” dan “lebih nyaman” bagi dirinya untuk pindah ke gereja lain yang tidak tahu masalahnya tersebut.  Di sinilah seorang pemimpin rohani harus berperan dengan baik yaitu bagaimana “memuluskan” rekonsiliasi atau pemulihan bagi saudara kita yang telah bertobat untuk dapat diterima dengan baik di tengah-tengah jemaat Tuhan.

  1. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (18-20).

Mandat yang Tuhan Yesus berikan untuk melakukan disiplin gereja dikuatkan dengan janji penyertaan Tuhan bagi mereka yang melakukannya dengan baik dan penuh dengan rasa tanggung jawab.  Kristus telah memberikan otoritas-Nya kepada orang-orang yang melakukan disiplin gereja tersebut seperti yang ia nyatakan: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 18:20).  Dan janji yang indah adalah ketika kita menegur saudara kita bersama-sama dengan dua atau tiga “rekan-rekan” kita, maka Kristus hadir di situ dan memberikan kuasa-Nya untuk mengubah mereka yang berdosa di hadapan-Nya untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.  Tentu saja hal yang sangat penting sekali adalah kita harus mau mengundang Dia hadir di tengah-tengah kita yaitu ketika kita sedang melakukan tugas disiplin gereja.  Kita mengundang-Nya melalui doa; sebelum dan sesudah kita berbicara kepada orang yang akan kita tegur, kita harus berdoa dan mengundang-Nya campur tangan secara ajaib.

KESIMPULAN DAN APLIKASI

Kita menyadari bersama bahwa tidak mudah menjadi seorang pemimpin di sebuah gereja ketika diperhadapkan kepada jemaat yang melakukan dosa atau pelanggaran terhadap Firman Tuhan.  Jika pelanggaran tersebut adalah pelanggaran yang “tidak kelihatan,” mungkin mudah bagi kita untuk menghindar dan melupakannya atau seakan-akan kita tidak melihat kenyataan ini.  Tetapi ketika jemaat di mana kita melayani jelas-jelas melakukan pelanggaran atau dosa yang “berat” dan “kelihatan” seperti percurian atau korupsi, perzinahan, pertikaian, penipuan, maka kita akan terasa berat dan sepertinya tidak tahu harus berbuat apa-apa.

Di sisi lain, desakan-desakan untuk “menindak” dan “menghakimi” terus mengalir menghampiri diri kita yang adalah pemimpin rohani di gereja.  Mungkin desakan-desakan tersebut diiringi dengan “bumbu-bumbu” yang seakan-akan mereka yang melakukan dosa tersebut sudah “tidak layak” lagi berada di lingkungan gerejanya.  Tampaknya lebih mudah bagi kita untuk mengikuti saran-saran mereka yang menghendaki demikian.  Tetapi menjadi hal yang lebih “merepotkan” lagi jika mereka yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang memiliki “kekuasaan” dan “pengaruh besar” di dalam gereja.  Umumnya, mereka yang seperti ini, akan dianggap manusia yang tidak dapat disentuh oleh aturan apa saja yang ada di dalam gereja termasuk Firman Tuhan.  Karena—menurut sebagian orang—tanpa mereka, gereja tidak bisa apa-apa.

Bagaimana sikap kita sebagai seorang pemimpin ketika diperhadapkan dengan dilema seperti ini?  Sebagai seorang pemimpin kita sudah diberikan mandat oleh Kristus untuk melaksanakan disiplin gereja dengan baik.  Tujuannya jelas yaitu supaya mereka yang berdosa dapat bertobat dan kembali kepada Kristus untuk memuliakannya.  Walaupun hukuman diberikan, tetap semua itu dipandang adalah alat untuk memulihkannya kembali kepada Allah.  Oleh karena itu, kita sebagai pemimpin tidak usah takut dan gentar.  Jika kita adalah seorang pemimpin yang benar-benar mengasihi Allah dan Firman-Nya, maka kita akan dimampukan dan diberikan kuasa Roh Kudus untuk melaksanakan semua itu dengan baik.  Selain itu, kita pun harus menyadari bahwa sebelum kita melaksanakan disiplin gereja, maka kita harus belajar untuk melakukan “disiplin pribadi” yaitu dengan belajar mengendalikan diri dan hidup terus mau dibentuk oleh Kristus menyerupai karakter-Nya.  Dengan demikian, kita yang seharusnya menjadi “subyek” atau “pelaku” disiplin gereja jangan sampai kita menjadi “obyek” atau “sasaran” daripada disiplin gereja karena pelanggaran yang kita lakukan.  Ada baiknya kita belajar dari nasehat Rasul Paulus yang diberikan kepada Timotius yaitu: “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1Tim. 4:16).

Selain itu, sebagai seorang pemimpin kita juga harus memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap mereka yang mengalami kejatuhan.  Jangan cepat kita mengambil kesimpulan dan “penghakiman” terhadap mereka yang jatuh.  Justru dengan didorong oleh rasa belas kasihan, kita berjuang supaya mereka kembali kepada kebenaran yaitu Firman-Nya yang hidup.  Tujuan utama disiplin gereja bukan penghakiman atau penghukuman tetapi pemulihan.

Sumber Kepustakaan:

Adams, Jay E.  Handbook of Church Discipline. Grand Rapids: Ministry Resources Library,

1986.

Baker, Don.  Beyond Forgiveness.  Portland: Multnomah, 1984.

Calvin, John.  Institutes of the Christian Religion.  trans. Henry Beveridge; Grand Rapids:

Flatt, Jr. Joseph.   “How Shall I Respond To Sin In The Church?” dalam Reforming Pastoral

Ministry.  Ed. John H. Armstrong; Wheaton: Crossway, 2001.

Jonge, Christian de.   Apa Itu Calvinisme? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.

Vine, W.E.  An Expository Dictionary of New Testament Words.  Old Tappan: Fleming H.

Revell, 1966.

Williamson, G.I.  Pengakuan Iman Westminster.  Surabaya: Momentum, 2006.

Zodhiates, Spiros. Ed.  The Hebrew-Greek Key Study Bible.  Chattanooga: AMG, 1996.

Hello world! 24/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
1 comment so far

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!