jump to navigation

APAKAH DISIPLIN GEREJA PADA MASA KINI TIDAK DIBUTUHKAN LAGI? 24/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
trackback

PENDAHULUAN

Pada masa kini, praktek disiplin gereja tampaknya sudah memasuki tahap “tumpul,” tidak lagi  tajam di dalam mengawasi, menegur dan membimbing anggota gereja yang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan.  Gereja yang berusaha keras di dalam mempertahankan penyampaian Firman Tuhan dengan setia sering kali lemah di dalam penegakan akan disiplin gereja.  Gereja yang demikian umumnya memberikan alasan bahwa disiplin gereja dapat berakibat buruk bagi orang yang melakukan kesalahan, mereka dapat tersinggung dan dapat meninggalkan gereja.  Selain itu, disiplin gereja dianggap sebagai sikap “menghakimi” yang dianggap juga sebagai sikap yang tidak dapat dibenarkan (Mat. 7:1).  Ada juga sebagian kalangan yang menyatakan bahwa tidak ada alasan yang kuat atau mendasar untuk menghukum atau mendisiplin seseorang hanya karena melakukan dosa yang sepele, terlebih lagi orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang terpandang, kaya dan berkuasa.  Tidak rela untuk menghukum mereka karena takut mereka “lari” ke gereja lain.

Dalam masalah disiplin gereja inilah, seorang pemimpin gereja berperan sangat penting.  Dia haruslah seorang yang memiliki integritas dan karakter yang baik.  Di sisi yang lain, pemimpin haruslah yang memiliki keberanian untuk bersikap di dalam menghadapi dosa-dosa yang ada di tengah-tengah umat Allah.  Pemimpinlah yang harus menjadi “imam” di dalam kehidupan umat-Nya yaitu menjadi perantara untuk menegur dosa-dosa umat-Nya dan menaikkan doa-doa pengakuan dosa di hadapan Tuhan bagi jemaat-Nya.  Oleh karena pentingnya tema ini khususnya berhubungan dengan disiplin gereja, maka penulis tertarik untuk membahasnya.

Arti Kata Disiplin Dalam Alkitab

Kata disiplin dalam bahasa Ibrani berasal dari kata “musar” yang berarti hukuman, koreksi, disiplin dan pengajaran.  Kata ini menggambarkan bagaimana pernyataan dan pemeliharaan-Nya di dalam kehidupan umat pilihan-Nya yaitu Israel.  Sebagai respon dari kasih-Nya dan pemeliharaan-Nya, Allah mengharapkan  akan kepercayaan dan ketaatan, yang mencerminkan akan kekudusan-Nya.  Tetapi oleh karena umat-Nya melawan Allah, maka Allah memberikan hukuman untuk mendisiplin mereka supaya umat-Nya tetap percaya dan setia kepada Firman-Nya (Ul. 4:36; 8:5; Hos. 7:12; 10:10).

Sedangkan kata disiplin dalam bahasa Yunani berasal dari kata “paideia” yang berarti latihan, pengajaran dan disiplin.  Kata “paideia” menunjuk kepada pengajaran kepada anak-anak (Ef. 6:4; 2Tim. 3:16).  Ini juga dapat membawa implikasi kepada hukuman atau disiplin, karena pengajaran yang efektif sering kali mencakup disiplin dan koreksi (Ibr. 12:5, 7-9, 11).

Dalam Perjanjian Baru disiplin dihubungkan dengan didikan Tuhan sebagai tindakan yang menyatakan kasih Allah untuk memelihara umat-Nya penghakiman akhir (Ibr. 12:5-6).  Disiplin Allah merupakan tanda kasih-Nya seperti seorang ayah sayang kepada anaknya (Ibr. 12:7-11).  Allah sebagai seorang ayah yang menghukum anak-anak-Nya karena Dia mengasihi, untuk menjaga kita dalam keberadaan kita sebagai anak-anak-Nya dan menyebabkan anak-anak-Nya berbalik dan berjalan pulang. Disiplin atau koreksi ini dapat dilakukan melalui perkataan, peringatan atau teguran (2Tim. 2:25) atau melalui penderitaan karena kejahatan dan bencana (1Kor 11:32; 2Kor. 6:9).

Jadi, disiplin gereja dapat diartikan tindakan yang dilakukan untuk memanggil atau membawa kembali mereka yang telah berdosa atau jauh dari Allah untuk kembali kepada-Nya dan mentaati Firman-Nya.  Dengan demikian, melalui disiplin gereja tersebut anak-anak Tuhan akan semakin bertumbuh dan menjadi serupa dengan-Nya.

Disiplin Gereja Sebagai Kebutuhan

  1. Disiplin Gereja adalah mandat dari Tuhan sebagai Kepala Gereja.

Menurut John Calvin—di dalam bukunya yang berjudul: Institutes of the Christian Religion—selain gereja memiliki kuasa untuk pengajaran dan membuat peraturan, gereja juga memiliki kuasa untuk menjalankan disiplin (peradilan/jurisdiction).  Kuasa untuk mengadakan disiplin gereja berdasarkan atas kuasa yang Kristus berikan kepada gereja (Mat. 18:15-18 dan 16:19) yaitu kuasa untuk menegur seseorang yang berdosa dan mengucilkannya setelah dilakukan penyelidikan dan prosedur yang tepat.  Selain itu juga, Kristus memberikan kuasa Roh Kudus untuk mengampuni seperti yang dinyatakan di dalam Yohanes 20:23: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Untuk tujuan itu, gereja telah menetapkan majelis jemaat (konsistori) untuk mengawasi kesusilaan, memeriksa kesalahan-kesalahan dan menyelenggarakan jabatan kunci.

Di dalam Matius 18:15-17, Kristus sendiri telah memerintahkan gereja untuk menghadapi dosanya sendiri dan memberikan prinsip bagaimana gereja dapat menangani permasalahan dosa dengan baik dan hal ini lebih daripada hanya sekedar langkah-langkah panduan belaka.  Gereja harus melakukan disiplin bagi anggota-anggotanya.  Paulus pun di dalam 1 Korintus 5:1-13 menegaskan bahwa disiplin gereja bukan hanya sekedar pilihan untuk dilakukan, tetapi itu sudah menjadi mandat untuk dilakukan.  Gereja memiliki otoritas untuk mengusir “orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1Kor. 5:13).

  1. Disiplin Gereja Diperlukan untuk Menjaga Kekudusan Umat Tuhan.

Tujuan disiplin gereja menurut Calvin adalah pertama, untuk mempertahankan kesucian gereja sebagai persekutuan yang merayakan Perjamuan Kudus, supaya nama Tuhan tetap dipermuliakan dan tidak dicemarkan; kedua, untuk melindungi orang-orang yang baik yang ada di dalam gereja supaya mereka tidak dirusak oleh pergaulan dengan orang-orang yang jahat.  Ketiga, untuk mendorong orang-orang jahat tersebut – melalui teguran dan hukuman – sehingga mereka merasa malu, menyesali kejahatan mereka dan bertobat.

Disiplin gereja perlu dilaksanakan di dalam gereja karena Allah mengharapkan kekudusan dari umat-Nya.  Orang-orang Kristen sebagai umat-Nya tidak akan pernah lepas dari sifat Allah itu sendiri yaitu kudus.  Oleh karena itu, karena Allah adalah Allah yang kudus, maka umat-Nya pun harus hidup kudus (Im. 11:44; 1Pet. 1:14-16; 2:9-10).  Berkenaan dengan hidup kekudusan, Paulus mengajarkan bahwa umat Tuhan haruslah memisahkan diri dari kehidupan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan (2Kor. 6:14-7:1).  Terlebih lagi kehidupan orang Kristen pada masa kini penuh dengan tantangan dan masalah.  Masalah seks, alkohol dan uang adalah hal-hal yang juga menjadi masalah di dalam kehidupan orang beriman.  Sekarang, tampak sekali tidak adanya perbedaan antara kehidupan orang Kristen dan non Kristen.  Oleh karena itu, gereja harus berusaha menyadarkan orang-orang Kristen untuk hidup terpisah dari hal-hal yang tidak benar dan tidak hidup munafik.

  1. Disiplin Gereja Diperlukan Supaya Umat Tuhan Memuliakan-Nya.

Tujuan dari disiplin gereja adalah memuliakan Allah melalui ketaatan kepada Firman-Nya.  Melalui ketaatan kepada Firman-Nya, maka hal ini sudah menyukakan hati Tuhan dan menjadi saksi kemuliaan-Nya di hadapan orang lain.

  1. Disiplin Gereja Diperlukan Supaya Umat Tuhan Berfungsi Sebagai Satu Tubuh Kristus

Orang-orang Kristen adalah satu tubuh di dalam Kristus.  Di dalam 1 Korintus 12:27 dengan jelas dikatakan: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” Oleh karena itu penting sekali kita menyadari bahwa “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita” (1Kor. 12:26).  Dosa salah seorang anggota jemaat haruslah menjadi keprihatinan bagi semua anggota jemaat.  Keprihatinan inilah yang harusnya mendorong bagi anggota jemaat yang lain untuk menegur “mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” (1Tes. 5:14).  Paulus pun memberikan nasehat kepada jemaat di Kolose: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kol. 3:16).  Menurut Calvin, disiplin gereja merupakan urat-urat yang saling menghubungkan anggota-anggotanya dan menjamin bahwa anggota-anggotanya tetap pada tempat yang selayaknya. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita sebagai sesama anggota tubuh Kristus untuk merangkul dan membangkitkan kembali mereka yang jatuh dan tenggelam dalam dosa dan bukan justru menghakimi dan menghindarinya.

Pelaksanaan Disiplin Gereja  Dengan Kasih

Dalam Matius 18:15-20, Tuhan Yesus telah memberikan beberapa langkah di dalam melaksanakan “disiplin gereja.”  Langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali (15).

Permasalahan disiplin gereja dimulai ketika saudara seiman kita melakukan hal yang tidak benar atau tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.  Dikatakan “jika saudaramu berbuat dosa,” menunjukkan bahwa sebagai orang Kristen, saudara seiman kita tetaplah manusia biasa dan dapat berbuat dosa.  Hal ini mengajarkan bahwa ketika saudara seiman atau satu gereja dengan kita jatuh dalam dosa, sebagai seorang pemimpin janganlah kita cepat menghakimi atau menghina dia sebagai seorang yang lemah dan tidak mampu menang melawan dosa.  Bukan juga menyebarkan keburukannya tersebut tetapi dikatakan “tegorlah dia di bawah empat mata.”  Terjemahan di dalam bahasa Inggris, kata tegorlah terdiri dari dua frase yaitu “go” dan “show him his fault” (New International Version/NIV). Sebagai seorang pemimpin langkah pertama-tama sekali ketika menyaksikan saudara seiman kita mengalami kejatuhan dalam dosa, pergilah mencarinya.  Umumnya jika seorang kedapatan jatuh dalam dosa, langkah yang biasa diambil oleh kebanyakan orang adalah menghindarinya dan jangan sampai kita ikut terlibat di dalam permasalahannya.  Tetapi Yesus menegaskan bahwa ketika saudara kita jatuh dalam dosa, kita harus pergi mencarinya.  Setelah kita mendapatinya, kita harus dapat menunjukkan kesalahan yang telah ia lakukan sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.  Teguran yang kita sampaikan harus dengan sikap yang baik dan lemah lembut seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam Galatia 6:1 yang berbunyi: “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”  Teguran pertama terhadap saudara kita harus bersifat pribadi dan hanya berdua saja.  Hal ini dilakukan untuk menghindari “gossip” atau “perbicaraan di luar” yang tidak membuat nyaman baik saudara kita tersebut dan juga situasi dan kondisi di dalam gereja.  Harapan dari teguran yang kita lakukan tersebut adalah pertobatan dari saudara kita yang berbuat dosa tersebut seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus: “jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”  Jika dia bertobat, maka akan ada rekonsiliasi dan pemulihan terhadapnya dan juga orang-orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung.

  1. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan (16).

Bagaimana jika saudara kita tersebut menolak teguran yang kita sampaikan?  Tuhan Yesus mengajarkan: “bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.”  Siapakah dua atau tiga orang saksi tersebut?  Sebagai seorang pemimpin gereja, kita harus berhati-hati di dalam memilih “rekan-rekan” kita di dalam melakukan tugas ini.  Orang-orang yang kita pilih lebih baik adalah para deaken atau penilik jemaat yang memang memilih tugas dan tanggung jawab terhadap jemaat serta yang memilih karunia di dalam menasehati atau mengajar.  Dengan menyertakan dua atau tiga orang saksi tersebut, maka perkara yang dibicarakan tersebut akan semakin diteguhkan yaitu bahwa memang benar apa yang dilakukan oleh saudara kita tersebut adalah salah atau melanggar Firman Tuhan.  Memang di dalam melakukan hal ini, tentu kita tidak hanya sekali lalu cepat mengambil kesimpulan.  Tetapi kita harus belajar bersabar dan dengan lemah lembut membawa saudara kita tersebut kembali kepada kehidupan yang benar sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.

  1. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat (17a).

Bagaimana jika dia kembali tidak mau mendengarkan teguran atau nasehat yang telah disampaikan oleh kita bersama-sama dengan dua atau tiga orang saksi?  Jika ia tetap tidak mau mendengarkan, maka Tuhan Yesus mengajarkan untuk membawa perkaranya kepada jemaat atau komunitas di mana dia berjemaat dan melayani.  Praktek ini tidaklah mudah dilakukan.  Tidak mudah membawa kesalahan seseorang di hadapan jemaat dan mengumumkan akan kesalahannya tersebut di hadapan jemaat.  Walaupun demikian, langkah ini adalah langkah yang terbaik.  Di satu sisi, hal ini mengajarkan jemaat untuk dewasa di dalam menyikapi jika salah satu dari mereka berbuat dosa.  Mereka diajarkan bahwa setiap orang dapat berbuat dosa dan memerlukan dukungan dari semua anggota jemaat; bukan untuk digosipkan atau dibicarakan tanpa jelas permasalahannya.  Di sisi yang lain, jemaat adalah kumpulan dari berbagai macam orang dengan berbagai macam karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.  Oleh karena itu, pertimbangan dari jemaat adalah pertimbangan yang terbaik asal dilakukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan bukan hanya berdasarkan perasaan atau emosi semata.  Pertimbangan perkara tersebut di bawah kepada jemaat bukan dengan tujuan untuk “lebih memojokkan” sang pelaku, tetapi kembali untuk meneguhkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh sang “pelaku” adalah tidak benar dan perlu pertobatan.  Hanya saja, sebagai pemimpin gereja kita perlu berhati-hati jangan sampai perkara ini menimbulkan konflik yang lebih melebar dan mengancam akan keutuhan gereja sebagai satu tubuh Kristus.

  1. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai (17b).

Langkah terakhir yang Tuhan Yesus ajarkan jika saudara kita tersebut tidak mau menyadari kesalahannya dan bertobat di hadapan Tuhan, maka dia harus dipandang sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau sebagai seorang pemungut cukai.  Tampaknya ini adalah langkah yang kejam dan tidak manusiawi.  Sepertinya Tuhan Yesus hendak melemparkan begitu saja orang yang berdosa terhadap-Nya.  Akan lebih “seram lagi” jika kita membaca apa yang disampaikan oleh rasul Paulus terhadap orang-orang yang tidak mau bertobat.  Terhadap orang-orang seperti itu, rasul Paulus dengan tegas menyatakan: “jauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:2), “serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis” (1Kor. 5:5), “buanglah ragi yang lama itu” (1Kor. 5:7), “usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1Kor. 5:13) dan “kuserahkan kepada Iblis” (1Tim 1:20).  Hanya saja kalau kita cermati dengan baik apa yang dimaksud dengan “seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai,” maka kita akan memiliki pandangan yang berbeda.  Kita tahu bahwa Kristus Yesus datang ke dalam dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.  Jika kita memperhatikan bagian Firman Tuhan sebelum dan sesudah Matius 18:15-20, maka kita dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus.  Di dalam Matius 18:12-14, Yesus menceritakan tentang perumpamaan domba yang hilang dan diakhiri dengan perkataan-Nya: “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang” (18:14).  Sedangkan di dalam Matius 18:21-35, Tuhan Yesus mengajarkan tentang pengampunan di mana ditegaskan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita.  Dengan demikian kita bisa memahami bahwa orang-orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai adalah orang yang terhilang dan yang membutuhkan pengampunan dari kita.  Mereka membutuhkan perhatian yang lebih lagi dari kita supaya mereka diselamatkan.  Jadi maksud Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang-orang yang tidak bertobat adalah sebagai orang-orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai, bukanlah supaya kita “menendang” mereka keluar dari komunitas kita sebagai satu tubuh Kristus. Tetapi bagaimana dengan kasih yang lebih nyata lagi kita harus mau merangkul dan mengasihi mereka supaya mereka diselamatkan.  Demikian juga dengan Rasul Paulus.  Di dalam 2 Korintus 2:5-8, Paulus menyatakan demikian: “Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–, hati beberapa orang di antara kamu.  Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat.  Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.”  Dari sini kita dapat belajar bahwa Paulus pun rindu orang-orang yang telah ditegor karena dosanya, harus tetap diperhatikan dan dikasihi.  Bukti nyata sebagai satu tubuh Kristus—yang mau saling membangun dan membantu satu sama lain—adalah kita mau mengampuni dan menghiburnya supaya jangan dia tenggelam di dalam kesedihannya sebagai orang-orang yang dianggap sebagai “pesakitan” karena pelanggarannya.  Oleh karena itu, kita harus menghindari sikap yang umum terjadi yaitu kita cenderung menghakimi mereka yang telah berdosa.  Bahkan mereka yang sudah bertobat dan kembali ke tengah-tengah jemaat pun terkadang masih “dihakimi” oleh sebagian jemaat melalui sikap dan perkataan yang terkadang menyakiti orang tersebut.  Tidak heran “lebih baik” dan “lebih nyaman” bagi dirinya untuk pindah ke gereja lain yang tidak tahu masalahnya tersebut.  Di sinilah seorang pemimpin rohani harus berperan dengan baik yaitu bagaimana “memuluskan” rekonsiliasi atau pemulihan bagi saudara kita yang telah bertobat untuk dapat diterima dengan baik di tengah-tengah jemaat Tuhan.

  1. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka (18-20).

Mandat yang Tuhan Yesus berikan untuk melakukan disiplin gereja dikuatkan dengan janji penyertaan Tuhan bagi mereka yang melakukannya dengan baik dan penuh dengan rasa tanggung jawab.  Kristus telah memberikan otoritas-Nya kepada orang-orang yang melakukan disiplin gereja tersebut seperti yang ia nyatakan: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga” (Mat. 18:20).  Dan janji yang indah adalah ketika kita menegur saudara kita bersama-sama dengan dua atau tiga “rekan-rekan” kita, maka Kristus hadir di situ dan memberikan kuasa-Nya untuk mengubah mereka yang berdosa di hadapan-Nya untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.  Tentu saja hal yang sangat penting sekali adalah kita harus mau mengundang Dia hadir di tengah-tengah kita yaitu ketika kita sedang melakukan tugas disiplin gereja.  Kita mengundang-Nya melalui doa; sebelum dan sesudah kita berbicara kepada orang yang akan kita tegur, kita harus berdoa dan mengundang-Nya campur tangan secara ajaib.

KESIMPULAN DAN APLIKASI

Kita menyadari bersama bahwa tidak mudah menjadi seorang pemimpin di sebuah gereja ketika diperhadapkan kepada jemaat yang melakukan dosa atau pelanggaran terhadap Firman Tuhan.  Jika pelanggaran tersebut adalah pelanggaran yang “tidak kelihatan,” mungkin mudah bagi kita untuk menghindar dan melupakannya atau seakan-akan kita tidak melihat kenyataan ini.  Tetapi ketika jemaat di mana kita melayani jelas-jelas melakukan pelanggaran atau dosa yang “berat” dan “kelihatan” seperti percurian atau korupsi, perzinahan, pertikaian, penipuan, maka kita akan terasa berat dan sepertinya tidak tahu harus berbuat apa-apa.

Di sisi lain, desakan-desakan untuk “menindak” dan “menghakimi” terus mengalir menghampiri diri kita yang adalah pemimpin rohani di gereja.  Mungkin desakan-desakan tersebut diiringi dengan “bumbu-bumbu” yang seakan-akan mereka yang melakukan dosa tersebut sudah “tidak layak” lagi berada di lingkungan gerejanya.  Tampaknya lebih mudah bagi kita untuk mengikuti saran-saran mereka yang menghendaki demikian.  Tetapi menjadi hal yang lebih “merepotkan” lagi jika mereka yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang memiliki “kekuasaan” dan “pengaruh besar” di dalam gereja.  Umumnya, mereka yang seperti ini, akan dianggap manusia yang tidak dapat disentuh oleh aturan apa saja yang ada di dalam gereja termasuk Firman Tuhan.  Karena—menurut sebagian orang—tanpa mereka, gereja tidak bisa apa-apa.

Bagaimana sikap kita sebagai seorang pemimpin ketika diperhadapkan dengan dilema seperti ini?  Sebagai seorang pemimpin kita sudah diberikan mandat oleh Kristus untuk melaksanakan disiplin gereja dengan baik.  Tujuannya jelas yaitu supaya mereka yang berdosa dapat bertobat dan kembali kepada Kristus untuk memuliakannya.  Walaupun hukuman diberikan, tetap semua itu dipandang adalah alat untuk memulihkannya kembali kepada Allah.  Oleh karena itu, kita sebagai pemimpin tidak usah takut dan gentar.  Jika kita adalah seorang pemimpin yang benar-benar mengasihi Allah dan Firman-Nya, maka kita akan dimampukan dan diberikan kuasa Roh Kudus untuk melaksanakan semua itu dengan baik.  Selain itu, kita pun harus menyadari bahwa sebelum kita melaksanakan disiplin gereja, maka kita harus belajar untuk melakukan “disiplin pribadi” yaitu dengan belajar mengendalikan diri dan hidup terus mau dibentuk oleh Kristus menyerupai karakter-Nya.  Dengan demikian, kita yang seharusnya menjadi “subyek” atau “pelaku” disiplin gereja jangan sampai kita menjadi “obyek” atau “sasaran” daripada disiplin gereja karena pelanggaran yang kita lakukan.  Ada baiknya kita belajar dari nasehat Rasul Paulus yang diberikan kepada Timotius yaitu: “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1Tim. 4:16).

Selain itu, sebagai seorang pemimpin kita juga harus memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap mereka yang mengalami kejatuhan.  Jangan cepat kita mengambil kesimpulan dan “penghakiman” terhadap mereka yang jatuh.  Justru dengan didorong oleh rasa belas kasihan, kita berjuang supaya mereka kembali kepada kebenaran yaitu Firman-Nya yang hidup.  Tujuan utama disiplin gereja bukan penghakiman atau penghukuman tetapi pemulihan.

Sumber Kepustakaan:

Adams, Jay E.  Handbook of Church Discipline. Grand Rapids: Ministry Resources Library,

1986.

Baker, Don.  Beyond Forgiveness.  Portland: Multnomah, 1984.

Calvin, John.  Institutes of the Christian Religion.  trans. Henry Beveridge; Grand Rapids:

Flatt, Jr. Joseph.   “How Shall I Respond To Sin In The Church?” dalam Reforming Pastoral

Ministry.  Ed. John H. Armstrong; Wheaton: Crossway, 2001.

Jonge, Christian de.   Apa Itu Calvinisme? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.

Vine, W.E.  An Expository Dictionary of New Testament Words.  Old Tappan: Fleming H.

Revell, 1966.

Williamson, G.I.  Pengakuan Iman Westminster.  Surabaya: Momentum, 2006.

Zodhiates, Spiros. Ed.  The Hebrew-Greek Key Study Bible.  Chattanooga: AMG, 1996.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: