jump to navigation

Hidup Dalam Kasih 25/06/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
trackback

Oleh: G.I. Santobi., M. Div.

Saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus Yesus,

Seringkali, ketika kita mendengar atau membicarakan tentang kasih, maka yang terlintas di benak kita adalah hal-hal yang indah-indah.  Kita pasti senang kalau ada orang yang mengasihi kita.  Apalagi gambaran kasih yang muncul di permukaan adalah kasih yang menyenangkan.  Coba kita perhatikan jika hari valentine tiba, banyak coklat dan bunga berbagai ukuran dan bentuk telah tersedia sebagai kado yang diberikan kepada orang yang kita kasihi.  Banyak orang juga menyempatkan diri untuk mencari waktu khusus hanya berdua saja supaya dapat menikmati kebersamaan.

Hanya saja, mengapa pula banyak orang yang menderita walaupun dia tahu bahwa ia dikasihi atau mengasihi?  Maksud saya adalah mengapa misalnya tetap ada duka dan kepahitan, ada kesusahan dan penderitaan di mana seharusnya kasih itu ditaburkan dan menuai keindahan dan kebahagiaan?  Misalnya saja di keluarga.  Mengapa harus ada air mata yang keluar atau teriak-teriak ketika konflik terjadi?  Mengapa harus pukulan-pukulan yang diberikan hanya untuk memberikan pelajaran?  Di manakah yang salah?  Apalagi kalau kita bicara tentang kasih di dalam gereja; mengapa harus ada pertikaian dan perpecahan; mengapa harus ada kedengkian dan iri benci?  Apakah yang salah?  Bukankah seharusnya gereja menjadi tempat di mana kasih tumbuh subur dan menghasilkan buah?

Saudaraku yang terkasih, hari ini kita akan belajar tentang Hidup Dalam Kasih, khususnya dari nasehat Paulus kepada jemaat di Korintus.  Kita tahu bahwa jemaat ini diberkati Tuhan dengan berbagai macam pengetahuan dan karunia, berbagai macam talenta dan kemampuan; mereka adalah jemaat yang luar biasa.  Tetapi yang mengherankan adalah mereka ternyata juga jemaat yang memiliki masalah yang luar biasa banyaknya.  Mereka ternyata jemaat yang masih hidup dalam pertikaian dan perselisihan.  Karena itu, di dalam bagian ini, Paulus memberikan pengajaran tentang kasih di tengah-tengah pengajaranya tentang karunia-karunia rohani; tentang karunia-karunia supranatural yang menjadi kebanggaan jemaat Korintus.  Tetapi bagi paulus, semua karunia itu adalah sia-sia tanpa kasih.  Karena itu, Paulus rindu mereka tidak hanya hidup melayani dengan begitu banyak karunia tetapi juga mereka harus hidup dalam kasih.  Untuk hidup sebagai satu tubuh, maka kasih tidak boleh ditinggalkan.  Di dalam kasih, tubuh di mana Kristus sebagai kepala, dibangun dan di dalamnya orang percaya berakar dan berdasar.  Kasih bisa dikatakan sebagai ikatan kesempurnaan dan bahkan pembentuk kesatuan jemaat (Kol. 2:2).

Karena itu, pada bagian ini Paulus mencoba menghubungkan berbagai karunia di dalam tubuh Kristus dengan kasih.  Dengan demikian jemaat dalam memiliki kehidupan di dalam kasih.

Untuk memiliki kehidupan dalam kasih, saya melihat ada tiga unsur penting. 1. Kasih menjadi Motivasi.

Maksudnya adalah di dalam kita berjemaat sebagai satu tubuh Kristus, motivasi yang paling mendasar dan utama adalam kasih.  Tanpa kasih, apa pun yang dilakukan adalah sia-sia; karena semua yang dilakukan hanya demi kepentingan diri sendiri saja.

Hal ini jelas dari apa yang dikatakan oleh rasul Paulus di dalam ayat 1 sampai 3.  Walaupun seseorang memiliki karunia berbahasa lidah atau mampu berbicara dalam semua bahasa atau bahasa malaikat, semua sia-sia tanpa motivasi kasih.  Walaupun seseorang memiliki karunia bernubuat dan mengetahui segala rahasia, tetapi tanpa kasih, maka semua itu sia-sia.  Walaupun seseorang memiliki iman yang paling tinggi—mampu memindahkan gunung—tanpa kasih, semua itu tidak berguna.  Bahkan sekalipun seseorang memiliki tingkat kasih yang paling tinggi, yaitu pengorbanan diri, tetapi jika ia tidak memiliki motivasi kasih dari apa yang ia lakukan, maka semua hanya sia-sia saja.  Tidak ada yang spesial dan khusus dari apa yang ia lakukan.  Karena semua yang ia lakukan hanya untuk diri sendiri dan hanya untuk kemuliaannya saja.

Jadi, dalam bagian ini, Paulus hendak menyatakan bahwa walaupun memiliki karunia-karunia yang hebat dan luar biasa seperti karunia bahasa lidah, bernubuat, iman dan kemurahan yang luar biasa, tanpa kasih, tanpa motivasi kasih, maka semua itu sia-sia saja.  Artinya jelas bahwa Paulus menasehati jemaat di Korintus ini untuk menekankan bahwa di dalam kita melayani Tuhan dengan berbagai macam karunia harus dan berdasar serta bermotivasi kasih dan bukan hanya untuk diri sendiri, kemuliaan diri sendiri dan untuk persaingan yang paling hebat, paling rohani dan tanpa mulia dari jemaat yang lain.  Jika itu terjadi, hanya menunjukkan kesombongan dan keangkuhan saja dan bukan menunjukkan seorang anak Tuhan yang rendah hati dan mengasihi Allah dan sesama.

Ada seorang anak perempuan kecil sedang berjalan-jalan dengan kakeknya.  Mereka tiba di depan pagar kebun yang diselimuti dengan bunga-bunga  mawar merah.  Sambil menarik nafas dalam-dalam, anak perempuan kecil itu berkata, “Kakek, bisakah kakek mencium harumnya bunga-bunga mawar itu?  Bunga-bunga itu bagus sekali.”

Kemudian keduanya mendengar suara seorang nenek tua yang sedang duduk di beranda atau teras.  “Ambillah sebanyak yang kamu inginkan, “ katanya.  Maka kedua orang itu, kakek dan cucunya, masing-masing memetik satu tangaki mawar dan mengucapkan terima kasih kepada nenek tua itu dan memuji keindahan bunga-bunga mawarnya.

Nyonya tua itu berkata, “Saya menanamnya dengan tujuan untuk membuat orang lain senang.  Saya sendiri tidak bisa melihat bunga-bunga itu, karena saya buta.”

Saudaraku yang terkasih, kita juga belajar bahwa dalam kehidupan kita pun harus berlaku demikian.  Kita rindu apa yang kita lakukan adalah untuk menyenangkan orang lain, berbuat untuk orang lain walaupun kita sadar bahwa seringkali kita tidak dapat menikmati apa yang kita miliki.  Tetapi dari ilustrasi ini kita belajar bahwa hidup dalam kasih adalah hidup yang memikirkan orang lain, hidup yang memiliki motivasi yang murni yaitu kasih itu sendiri.  Tanpa motivasi atau dasar kasih terhadap Tuhan dan sesama, maka apa pun yang kita lakukan adalah sia-sia dan tidak berguna; hanya untuk demi kepentingan dan kemuliaan kita saja.  Di rumah atau di keluarga, mari kita bekerja dan melayani dengan motivasi kita mengasihi keluarga kita.  Di gereja, kita melayani dan bersekutu dengan motivasi bahwa kita mengasihi saudara-saudara seiman kita.  Mari, kita bermasyarakat, kita menjadikan diri kita berkat bagi orang lain dengan motivasi kita mengasihi mereka.

2. Aksi atau demonstrasi

Di dalam kehidupan sebagai jemaat, kasih tidak cukup hanya sekedar motivasi tetapi juga harus ada aksi atau demonstrasi.  Inilah gambaran kasih yang sejati yaitu kasih yang benar-benar nyata di dalam perbuatan dan bukan hanya sekedar perkataan saja.  Bagi Paulus, hidup sebagai satu tubuh Kristus harus mempraktikkan kasih dan bukannya saling menyakiti dan saling menghina.  Sebagai satu tubuh Kristus, jemaat Tuhan tidak boleh saling iri dan mendengki, saling benci dan emosi, dan menunjukkan kesombongan.  Umat Tuhan harus memiliki kasih yang nyata dengan tabah di dalam menghadapi kesusahan, kepahitan dan perlakuan yang tidak baik dari orang lain, harus saling percaya dan bergandengan tangan di dalam menghadapi berbagai pencobaan dan pergumulan.  Dengan kasih yang nyata, jemaat akan bertumbuh bukan hanya sekedar kuantitas saja tetapi juga dalam kualitas.  Jadi, Paulus sangat, sangat menekankan bahwa di dalam jemaat Tuhan sangat dibutuhkan kasih yang nyata dan bukan hanya sekedar slogan atau perkataan saja.

Hal yang sama juga ditekankan oleh Rasul Yohanes yang menyatakan, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1 Yoh. 3:18). Tuhan Yesus menyatakan bahwa “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal” (Yoh. 3:16).  Kasih tidak hanya sekedar slogan atau janji saja tetapi juga menyangkut aksi. Allah tidak hanya sekedar mengasihi tetapi Ia juga telah membuktikan kasih-Nya dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib.  Apakah mudah saudaraku, Allah melakukan ini?  Apakah kita dapat melakukan hal yang sama seperti yang allah lakukan yaitu memberikan anak kita untuk menggantikan orang yang telah menyakiti kita ketika ia akan menerima hukuman?  Tidak mudah bahkan sangat sulit.  Tapi Allah mengasihi manusia dan juga telah membuktikan kasih itu.

Saudaraku, saya ingat sebuah gambar.  Di dalam gambar itu, ada seekor binatang yang sedang menggigil karena kedinginan dan kehujanan.  Kemudian datanglah seekor binatang lainnya yang memakai baju hangat dan payung.  Binatang yang kedua ini kemudian menanyakan apakah ia kedinginan atau tidak.  Tentu saja, ia menjawabnya dengan menyatakan iya.  Hanya saja, setelah bertanya tersebut, binatang yang kedua, berkata untuk mencari baju hangat dan payung.  Tetapi ia sendiri tidak pernah mau memberikan baju hangatnya atau payungnya untuk diberikan kepada binatang yang pertama tersebut.

Saudaraku, kalau kita ditanya apakah kita mengasihi orang-orang di dalam tubuh Kristus?  Tentu kita akan menjawab ya.  Tetapi berapa banyak dari kita yang mau dan rela memberikan apa yang kita punya dan juga rela berkorban untuk kebaikan saudara-saudaranya?  Berapa banyak dari kita yang tergerak mau membantu saudara-saudara kita yang mengalami kesusahan?  Kasih dapat menjadikan yang berbeda dapat mendapatkan perlakuan yang sama.  Kasih dapat menjadikan yang lemah dan miskin, menjadi orang yang istimewa.  Kasih dapat menjadikan yang terhilang menjadi orang yang diselamatkan.  Mari kita terapkan, kita nyatakan kasih itu dalam keluarga kita, dalam gereja, dalam pekerjaan kita dan di mana pun kita berada.

3. Relasi

Unsur ketiga hidup dalam kasih adalah relasi.  Kasih tanpa relasi adalah seperti seekor kura-kura yang tidak pernah mengeluarkan kepalanya dari rumah yang ia bawa ke mana-mana.  Kasih yang hidup adalah kasih yang berhubungan dengan pihak lain; bukan hanya dirinya sendiri.  Kasih tidak hanya berbicara tentang saya tetapi juga orang lain.  Kasih juga bukan hanya untuk kepentingan orang lain tetapi juga demi kepentingan orang lain.

Memang kasih yang terbuka sangat rentan dan mudah terluka.  Tetapi kasih tanpa penderitaan bukanlah kasih yang dewasa dan hidup.  Bagi Paulus, kasih tanpa relasi seperti kasih yang kanak-kanak dan bukan kasih yang dewasa.

Kasih itu harus terwujud dan nyata di tengah-tengah relasi kita dengan Allah dan sesama baik orang percaya maupun yang tidak percaya.  Kita berulangkali ditekankan untuk mengasihi Tuhan kita dengan segenap hati, jiwa, raga dan akal budi kita.  Ketika kita berelasi dengan Allah, maka kasih kita pun harus nyata yaitu dengan mengasihi dan berusaha menyenangkan akan Allah.  Kasih tanpa relasi dengan Allah merupakan kasih yang dingin dan mati, karena kasih yang sejati berasal dari Allah dan Allah sendiri adalah kasih.  Artinya orang dapat mengasihi dengan kasih yang sejati harus memiliki relasi dengan Allah sebagai sumber dari kasih itu.

Kasih juga memerlukan tempat di antara kita dan sesama untuk mewujudkannya.  Tanpa relasi dengan sesama, kasih kita adalah kasih yang kanak-kanak, yang hanya mementingkan dan memanjakan diri sendiri saja.  Dengan kasih yang terwujud di dalam relasi dengan sesama, kita belajar untuk memiliki kasih yang dewasa dan tahan lama.  Tentu saja, ketika kita berelasi dengan orang lain, kasih akan menghadapi ujian.  Terkadang konflik-konflik yang dapat membuat kasih dingin dan membeku.  Tetapi kasih yang dapat melewati konflik-konflik akan menjadi kasih yang hangat dan memberikan kedamaian di hati.  Kasih yang telah teruji melalui penderitaan, akan tahan lama dan bertahan sampai akhir bahkan akan terus ketika kita bersama dengan Tuhan di surga.

J. Knox Chamblin menyatakan demikian, “Kasihilah segala sesuatu, dan hatimu pasti akan diremukkan dan mungkin saja hancur.  Bila Anda ingin memastikan kasih itu tetap terjaga secara utuh, jangan berikan hati Anda kepada siapa pun, tidak juga kepada hewan.  Bungkuslah hatimu hati-hati dengan hobi-hobi dan kemewahan-kemewahan kecil; hindarilah semua keterlibatan; kuncilah hatimu dalam peti mati atau keranda keegoisanmu.  Tetapi dalam keranda itu—aman, gelap, tak bergerak, tanpa udara—hati itu akan berubah; tidak akan hancur, akan menjadi tahan banting, tak tertembus dan tak tertebus.  Alternatif bagi tragedi, atau setidaknya bagi resiko dari tragedi itu, adalah kebinasaan.  Satu-satunya tempat di luar Sorga di mana Anda bisa benar-benar selamat dari semua bahaya dan segala gejolak kasih adalah Neraka.”

Seorang ibu yang selalu mendapatkan kepala ikan ketika mereka makan bersama-sama.  Suatu ketika seorang ibu mendapatkan sebuah kepala ikan sebagai hadiah ultahnya.  Suaminya berpikir bahwa istrinya memang sangat suka kepala ikan.  Tetapi sebenarnya, istrinya berkorban demi suami dan anak-anaknya supaya mereka dapat makan bagian yang terbaik dari ikan tersebut. Sedangkan sisanya, termasuk kepala ikan, ia yang makan.

Saudaraku, ketika kita bertekad untuk hidup dalam kasih, maka jangan kita membayangkan bahwa kita akan hidup senang dan tanpa kesusahan.  Justru ketika kita membuka diri untuk mengasihi dan dikasihi, maka kita harus mau terbuka untuk disakiti dan menyakiti.  Hal ini kita hadapi sebagai proses pendewasaan kasih yang kita miliki.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: