jump to navigation

BUNUH DIRI DITINJAU DARI IMAN KRISTEN 08/08/2009

Posted by tobiong in Uncategorized.
trackback


PENDAHULUAN

Pada hari Senin, 12 Maret 2007 sebuah surat kabar harian memuat headline di halaman utamanya dengan judul “Ibu Ajak Empat Anaknya Bunuh Diri.” Isi beritanya adalah sebagai berikut:

Diduga karena tidak kuat menghadapi tekanan ekonomi, satu anggota keluarga yang tinggal di Jalan Taman Sakura 12, RT 1/10, Kel Lowokwaru, Kec Lowokwaru, Kota Malang, melakukan bunuh diri. Bunuh diri dilakukan oleh seorang ibu beserta empat anaknya.

Kelima korban adalah Ny Junania Mercy, 37; Athena Latonia, 11; Prinsessa Ladova, 9; Hendrison, 7; dan Gabriela Alcein,2.  Diduga kelima korban meninggal dengan cara meminum potasium dan sejenis kapsul. Namun sampai kemarin, polisi belum mengetahui jenis kapsul tersebut. Untuk sementara ini, polisi menyimpulkan Junanialah yang meminumkan potasium kepada empat anaknya tersebut.

Sesudah keempat anaknya meninggal, Junania meminum racun tersebut.  Kesimpulan ini diperoleh saat melihat posisi kelima korban.  Saat ditemukan pertama kali, posisi keempat anak Junania terbaring rapi di atas tempat tidur. Sedangkan Junania tertelungkup di bawah ranjang. Dari situ, polisi menyimpulkan, setelah anak-anaknya meninggal, Junania membaringkan keempat anaknya di atas ranjang. Menurut keterangan Ketua RT Hantoko, kematian istri beserta anak dari Hendri Suwarno, 35, tersebut, baru diketahui pada sekitar pukul 11.30 WIB. Hantoko mengaku mendapatkan laporan dari Cesar, teman Rudy Suwarno, adik korban yang biasa tinggal di rumah tersebut. Hantoko menuturkan, sekitar pukul 11.30 WIB, Cesar datang ke rumahnya, setelah mendapati lima orang keluarga temannya meninggal dunia di satu kamar.  Cesar sendiri datang ke rumah tersebut bersama Rudy setelah semalaman menginap di Kota Batu.

”Begitu berada di dalam rumah, mereka sudah menemui ke lima korban tersebut dalam kondisi tidak bernyawa,” tuturnya. Sementara itu, Kapolresta Malang AKBP Erwin Chahara Rusmana menyatakan, kemungkinan besar mereka meninggal karena bunuh diri. ”Berdasarkan identifikasi di TKP, 90% mengarah pada bunuh diri. Hal itu dapat dilihat dari ditemukannya sejenis kapsul dan potasium di sekitar mayat korban,”ujar Erwin. Polisi memperkirakan kematian korban ini terjadi pada malam hari. Erwin menyimpulkan untuk sementara ini, motif utama aksi nekat tersebut dikarenakan tekanan ekonomi. Erwin menuturkan, anak Junania yang bernama Hendrison mengalami gagal ginjal sehingga harus sering melakukan cuci darah.[1]

Berita di atas adalah salah satu berita tentang bunuh diri yang menggemparkan bukan hanya kota Malang tetapi juga seluruh Indonesia.  Tidak habis-habisnya masyarakat Indonesia membicarakan akan hal ini.  Ada yang ikut prihatin akan kenyataan yang dihadapi oleh keluarga tersebut dan ada pula yang mengecam tindakan sang ibu tersebut.

Walaupun demikian, jika kita cermati bersama, saat ini tindakan bunuh diri menjadi “trend” dan salah satu jalan keluar paling ‘favorit’ bagi orang-orang yang mengalami depresi, putus asa, jalan buntu dan ‘tidak tahu harus berbuat apa-apa’ lagi.  Dengan berbagai cara seperti gantung diri, terjun dari gedung bertingkat, minum racun, menusuk atau menggores tubuh/anggota tubuh dengan senjata tajam, bakar diri,  terjun ke sungai/laut, menjatuhkan diri ke rel kereta api/jalan raya kerap dilakukan bagi mereka yang melakukan bunuh diri.

Menurut data Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2005 yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti A. Prayitno pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Departemen Kesehatan di Jakarta, Senin 8 Oktober 2007, setiap tahun 50 ribu orang Indonesia melakukan bunuh diri akibat tekanan ekonomi, ledakan pengangguran, dan konflik berat di pengungsian. Dengan demikian, diperkirakan setiap hari 1.500 orang Indonesia mengakhiri hidupnya.  Dari jumlah tersebut, 41% mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, 23% menenggak insektisida, dan lainnya overdosis (kematian akibat overdosis obat-obatan terlarang yang mencapai 50 ribu orang per tahun). Prayitno menjelaskan kini 40 juta rakyat Indonesia menyandang status sebagai penganggur. Belum lagi dampak kemiskinan, mahalnya biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya hidup, penggusuran, pemutusan hubungan kerja, kesenjangan kaya-miskin, dan konflik berat di pengungsian. Menurutnya, faktor bunuh diri di Indonesia sudah cukup lengkap.[2]

Mengingat begitu besarnya jumlah orang yang melakukan bunuh diri[3] di Indonesia – tidak menutupi kemungkinan orang Kristen pun melakukan tindakan ini -, maka di dalam tulisan ini penulis akan membahas bagaimana pandangan etika secara umum terhadap bunuh diri dan bagaimana pula pandangan etika Kristen yang berdasarkan Firman Tuhan terhadap bunuh diri ini.  Dengan demikian, kita dapat mengambil sikap terhadap tindakan bunuh diri ini dari sudut Kekristenan dan juga bagaimana kita dapat memberikan pelayanan bagi mereka yang hendak melakukan bunuh diri.

PENGERTIAN DAN FAKTOR PENYEBAB BUNUH DIRI

Definisi

Kata bunuh diri di dalam bahasa Yunani berasal dari kata “apancho” yang berarti menahan (nafas sampai mati),[4] menyebabkan kematian dirinya sendiri dengan menggantung diri (apanchomai), menggantung dirinya sendiri atau melakukan bunuh diri (Mat. 27:5).[5]

Kata “suicide” (bunuh diri) pertama kali digunakan oleh Walter Charleton (1651) atau Sir Thomas Browne (1642).[6] Selama berabad-abad, pengertian “bunuh diri” ini memiliki arti yang berbeda menurut zaman dan konteksnya.  Kisah bunuh diri yang sangat terkenal pada abad-abad pertama adalah kisah bunuh diri Sokrates, guru dari filsuf Plato.  Socrates dipaksa meminum hemlock (cemara beracun) atas perintah pengadilan Yunani.  Selanjutnya di dalam sejarah gereja mula-mula, bunuh diri menunjukkan sebagai sebuah sikap pengorbanan yang dilakukan oleh para martir.  Tetapi sejak sidang gereja pada tahun 452, pengertian bunuh diri dihubungkan dengan dosa dan kejahatan.[7]

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, bunuh diri adalah “sengaja mematikan diri sendiri.”[8] Jadi, di dalam praktek bunuh diri yang berinisiatif dan yang mengambil tindakan adalah dirinya sendiri.   Demikian juga dengan definisi menurut kamus Wikipedia, di mana bunuh diri dapat didefinisikan sebagai “the act of intentionally terminating one’s own life.”[9] Sedangkan menurut Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary bunuh diri adalah “the act or an instance of taking one’s own life voluntarily and intentionally especially by a person of years of discretion and of sound mind.[10]

Sedangkan menurut J.P. Moreland, bunuh diri adalah:

An act is a suicide if and only if a person intentionally and/or directly causes his or her own death as an ultimate end in itself or as a means to another end (e.g., pain relief), through acting (e.g., talking a pill) or refraining from acting (e.g., refusing to eat) when that act is not coerced and is not done sacrificially for the lives of other persons or in obedience to God.[11]

Dalam definisi tersebut, Moreland menegaskan bahwa bunuh diri adalah tindakan yang diambil dengan inisiatif sendiri untuk mengakhiri hidupnya baik melalui tindakan maupun tidak dan bukan karena terpaksa atau pun karena mengorbankan diri demi orang lain atau karena taat kepada Allah (martir).  Karena di dalam diskusi mengenai bunuh diri ini, ada dua macam bunuh diri yaitu pertama, bunuh diri yang dengan sukarela dilakukan sebagai tanda “pengorbanan diri”.  Bunuh diri semacam ini adalah dikarenakan tugas militer, mempertahankan diri, pengorbanan diri sebagai bukti iman dan karena tradisi atau kepercayaan.  Kedua, kebebasan untuk mengambil nyawa sendiri.[12] Dan di dalam tulisan ini, pengertian kedua yang akan dibahas di mana bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk menghentikan kehidupannya sendiri demi menghindari penderitaan atau kesusahan jika kehidupan dilanjutkan.”

Faktor Penyebab Bunuh Diri

Orang yang melakukan bunuh diri biasanya disebabkan oleh: pertama, sakit yang telah berlangsung sangat lama, tidak ada harapan sembuh dan telah banyak menghabiskan biaya hidup keluarga; kedua, stress atau tekanan karena ditinggal oleh orang yang dikasihi karena kematian; ketiga, penyakit kejiwaan seperti depresi, skizofrenia, trauma, dsb; keempat, cacat fisik seperti lumpuh, buta; kelima, penyalahgunaan narkotika; keenam, lingkungan yang tidak menyenangkan seperti penganiayaan seks/abuse, kemiskinan, tidak memiliki tempat tinggal, diskriminasi, ketakutan akan pembunuhan atau penyiksaan; ketujuh, mengalami masalah dalam bidang keuangan seperti bangkrut, pengangguran, kehilangan harta karena kebakaran, kalah di dalam pasar saham/valas, perjudian, hutang yang tidak terbayarkan; kedelapan, mengalami masalah dalam keluarga seperti perceraian, keluarga yang tidak harmonis, perlakuan yang tidak adil, tidak mendapatkan perhatian dari orang tua; kesembilan, untuk menghindari rasa malu (misalnya bushido, yaitu jika seorang samurai Jepang gagal di dalam mempertahankan kehormatannya, maka dia mengambil jalan keluar dengan melakukan seppuku/bunuh diri); kesepuluh, merasa bosan dengan kehidupan atau merasa tidak memiliki arti di dalam hidup ini; kesebelas, terorisme yaitu tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan agama (misalnya : kasus Bom Bali) dan nasionalisme yang berlebihan (Irak)[13] dan pengaruh kuasa gelap.

John H. Greist dan James W. Jefferson mencatat beberapa faktor yang membuat seseorang berkecenderungan melakukan bunuh diri.  Faktor-faktor tersebut adalah pertama, usia yaitu bunuh diri meningkat sejalan dengan bertambahnya usia baik pria maupun wanita; kedua, jenis kelamin di mana pria tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan melakukan bunuh diri daripada wanita, tetapi wanita melakukan usaha bunuh diri tiga sampai empat kali lebih banyak daripada pria; ketiga, depresi di mana kira-kira tiga perempat orang yang melakukan bunuh diri, menderita depresi pada waktu mereka melakukannya; keempat, usaha bunuh diri sebelumnya dimana enam puluh persen orang yang bunuh diri telah melakukan usaha bunuh diri sebelumnya; kelima, penyalahgunaan alkohol dan obat bius yang diharapkan dapat melepaskan diri dari depresi tetapi cenderung mempercepat seseorang melakukan bunuh diri; keenam, baru saja kehilangan orang-orang penting, kedudukan dan harta milik; ketujuh, isolasi sosial di mana orang yang hidup sendirian dan tanpa dukungan dari teman-temannya dan kedelapan, rencana yang jelas untuk melakukan bunuh diri.[14]

Bunuh Diri di dalam Alkitab

Di dalam Alkitab ada enam orang yang melakukan bunuh diri yaitu : Samson (Hak. 16:23-31), Raja Saul dan pembawa pedangnya (1Sam. 31:3-5), Ahitofel – penasihat Raja Daud – yang telah menghianati Raja Daud dengan mengikuti Absalom (2Samuel 17:23), Raja Israel Zimri (1Raj. 16:18-19), dan Yudas Iskariot yang menghianati Tuhan Yesus dan kemudian menggantung diti (Matius 27:3-5).  Di dalam Alkitab tidak ada pernyataan baik atau buruk tentang tindakan-tindakan tersebut.  Khusus berkenaan dengan Raja Saul dikatakan bahwa Tuhan yang telah membunuh dia karena tidak berpegang pada Firman Tuhan dan telah meminta petunjuk kepada arwah dan bukan minta petunjuk kepada Tuhan (1Taw. 10:4, 14).[15]

Walaupun demikian, di dalam Alkitab kasus tentang bunuh diri tidak dinyatakan secara tegas dan jelas.  Tidak ada juga nasehat atau pernyataan sikap terhadap orang yang melakukan bunuh diri.  Secara tegas hanya yang berkaitan dengan pembunuhan seperti Hukum Keenam dari Sepuluh Hukum yaitu :”Jangan Membunuh” (Kel. 20:13).  Di dalam Matius 22: 39, orang Kristen tidak hanya diperintahkan untuk mengasihi orang lain tetapi juga dirinya sendiri.  Oleh karena itu, bunuh diri adalah tindakan yang tidak mengasihi dirinya sendiri tetapi justru membenci dirinya sendiri.  Jadi tindakan tersebut menunjukkan ketidaktaatan terhadap Firman Tuhan.[16]

PRO DAN KONTRA TERHADAP BUNUH DIRI

Pro Bunuh Diri

Di  dalam agama-agama orang-orang Eskimo dan suku-suku di Afrika terdapat anjuran untuk melakukan bunuh diri ketika seseorang mengalami kondisi dan situasi yang sulit seperti masalah ekonomi, atau karena mendapatkan malu.  Di dalam agama Sinto di Jepang, jika seseorang melakukan kesalahan dan kehilangan kehormatan, maka ia dianjurkan untuk melakukan upacara “hara-kiri” atau bunuh diri untuk memulihkan kehormatannya.  Di dalam tradisi agama Hindu, seorang janda yang menceburkan diri ke dalam api yang membakar jenasah suaminya yang telah meninggal dipuji karena dipandang sebagai pengorbanan yang mulia.[17]

Menurut David Hume,[18] tindakan bunuh diri tidak melanggar akan kedaulatan Allah atau kepemilikan Allah di dalam  hidupnya.  Bagi Hume, Allah tidak mencampuri semua urusan manusia termasuk di dalam penderitaan manusia.  Oleh karena itu, bunuh diri bukanlah bangkit dari kesombongan manusia tetapi karena ingin mengurangi atau menghilangkan rasa sakit dan penderitaan.  Baginya yang paling penting melalui bunuh diri dapat memberikan kebebasan dari rasa ketidakbahagiaan jika hidup tetap diteruskan.[19]

Pandangan dari kalangan etika liberal[20] menyatakan bahwa tindakan bunuh diri secara moral dapat dibenarkan asalkan tindakan tersebut tidak membawa akibat yang buruk bagi orang lain dan tetap di dalam kemerdekaan secara individu.  Bunuh diri juga dibenarkan karena dapat memberikan pembebasan dari kesusahan baik bagi si pelaku bunuh diri maupun bagi orang lain jika tidak jadi bunuh diri.  Bunuh diri juga dapat dibenarkan jika tindakan tersebut untuk menghindari “ledakan” biaya rumah sakit yang besar ketika seseorang menderita penyakit “terminal.”[21]

Para penganut etika otonom juga memberikan alasan bahwa tindakan bunuh diri sebagai suatu pilihan individu yang sah.  Bagi mereka, bunuh diri juga merupakan hak asasi manusia yang disebut sebagai “right to die”[22] (hak untuk mati)[23] yang berlawanan dengan “right to life.” Menurut mereka, jika seseorang (pasien) sudah sampai akhir hidupnya, ia berhak meminta supaya penderitaannya segera diakhiri.  Dengan demikian orang tersebut akan mengalami “kematian yang baik”, tanpa harus mengalami penderitaan yang tidak perlu.[24]

Joseph Flecher – seorang pencetus etika situasi[25] – menyatakan bahwa bunuh diri secara moral dibenarkan apabila tindakan tersebut diambil secara bebas, untuk mengurangi penderitaan, dan tidak mengganggu akan kesejahteraan orang lain.[26] Yang paling penting adalah tindakan bunuh diri dilakukan di dalam kasih.[27]

Kontra  Bunuh Diri

Di dalam agama-agama suku primitif ada pandangan bahwa roh orang yang melakukan bunuh diri menjadi roh yang jahat yang selalu gelisah dan tidak mendapatkan ketenteraman serta mengganggu orang-orang yang masih hidup.[28]

Plato di dalam Phaedo[29] menunjukkan bahwa tindakan bunuh diri harus dikutuk atau disalahkan dengan keras sebagai kejahatan yang mengerikan terhadap dirinya sendiri.  Seseorang yang ingin melakukan tindakan bunuh diri adalah mempersiapkan pemakaman yang tercela yang dianggap sama dengan melakukan pembunuhan terhadap anggota keluarganya sendiri.  Bagi Plato, tindakan bunuh diri merupakan tindakan perlawanan terhadap aturan negara dan dewa-dewa.[30] Plato menyatakan bahwa kita ini bukan milik kita sendiri tetapi milik para dewa.[31] Sikap Plato terhadap tindakan bunuh diri juga didukung oleh muridnya yaitu Aristoteles yang menyatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah tindakan yang melawan hukum dan nilai-nilai moral.[32]

Augustine di dalam menanggapi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh para wanita yang telah diperkosa oleh para Barbarian yang menyerbu kota Roma, menyatakan bahwa manusia wajib memelihara harta milik Allah yang dipercayakan kepadanya.  Tubuh dan jiwa kita adalah kepunyaan Allah dan orang yang bunuh diri berdosa terhadap Penciptanya.  Bagi Augustine, bunuh diri bukan hanya pelanggaran langsung atas perintah keenam, “Jangan membunuh”, melainkan suatu dosa yang tak terampuni yang merampas kesempatan pertobatan dan penyesalan.[33]

Seperti Augustine, Thomas Aquinas juga mengutuk bunuh diri yang dilakukan oleh wanita (perawan) yang mengalami perkosaan untuk kepentingan melindungi kesucian mereka, dan ia memandang bahwa bunuh diri sama saja dengan pembunuhan. Baginya, bunuh diri adalah tindakan yang selalu terlarang kecuali jika diperintahkan oleh Allah (seperti di kasus Samson).[34]

Selain itu, Aquinas mendasarkan pada tiga alasan untuk menentang tindakan bunuh diri yaitu pertama, tindakan tersebut tidak natural karena berlawanan dengan kecenderungan alam di mana semuanya berkeinginan untuk mempertahankan hidup dan berlawanan dengan kemurahan hati (belas kasihan) karena semua orang harus mengasihi dirinya sendiri; kedua, tindakan bunuh diri merupakan serangan melawan dan sebuah luka bagi sebuah komunitas karena seseorang milik dari sebuah komunitas dan ketiga, sebuah tindakan perampasan terhadap kuasa Allah yang memiliki hak untuk memberikan dan mengambil kembali kehidupan.[35]

Immanuel Kant (1729-1804) menyatakan bahwa seseorang yang mengasihi dirinya sendiri tidak mungkin membenarkan bunuh diri.  Karena orang yang mengasihi dirinya sendiri berjuang untuk melanjutkan akan kehidupannya.[36]

Albert Camus, seorang filsuf Prancis menyatakan: “There is only one serious philosophical problem: that is suicide.”  Bagi Camus, bunuh diri adalah tindakan yang tidak masuk akal.  Baginya, bunuh diri adalah tindakan hidup yang “menggelikan” (absurb) dan bertanya bagaimana mungkin seseorang dapat mengambil tindakan seperti itu.[37]

Dietrich Bonhoeffer menyatakan bahwa bunuh diri adalah tindakan pembenaran diri manusia yang hidupnya gagal dan sia-sia.[38] Selanjutnya Bonhoeffer menyatakan:

God has reserved to Himself the right to determine the end of life, because He alone knows the goal to which it is His will to lead it.  It is for Him alone to justify a life or to cast it away.  Before God self-justification is quite simply sin, and suicide is therefore also sin.  There is no other cogent reason for the wrongfulness of suicide, but only the fact that over men there is a God.  Suicide implies denial of this fact.[39]

Dalam banyak agama, bunuh diri juga dipandang sebagai suatu perbuatan yang tercela dan berdosa kepada Allah-nya. Di dalam tradisi agama Katolik, kehidupan merupakan pemberian dari Sang Pencipta dan oleh karena itu kita harus menggunakannya sebagai pelayanan dan bukan sebagai dominasi.[40] Artinya tindakan bunuh diri dianggap sebagai dosa melawan kedaulatan Allah.

Sedangkan di dalam tradisi agama Yahudi (Yudaisme), tindakan bunuh diri dilarang karena pertama, melawan akan kedaulatan Allah atau kepemilikan Allah dalam hidup kita.  Seorang manusia adalah milik Allah dan tidak memiliki hak untuk menghancurkan kehidupannya melalui bunuh diri.  Kedua, karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-28).[41] Walaupun demikian, di dalam tradisi Yahudi, tindakan bunuh diri dapat dibenarkan jika tindakan tersebut sebagai martir atau tanda pengorbanan diri demi Allah dan bangsanya.[42] Elliot N. Dorff juga menyatakan : “Jewish tradition prohibits suicide except as an ant of martyrdom.”[43] Dalam hal ini,  Eka Darmaputera juga menyatakan :

Sesungguhnya, bunuh diri adalah tindakan melawan kodrat, sekaligus tindakan melecehkan Tuhan.  Mereka yang mati terhormat memenangkan kemuliaan, tapi yang mati karena bunuh diri mewarisi kekelaman.  Begitulah bagi orang Yahudi, bunuh diri adalah dosa.  Walaupun kadang-kadang sekali, bisa saja seseorang dibenarkan merelakan nyawa karena iman, demi keyakinan, dan untuk Allahnya.[44]

TINJAUAN ETIKA TERHADAP BUNUH DIRI

Tinjauan Menurut Sistem Etika

Menurut Norman L. Geisler, sistem-sistem etika pada umumnya dapat dibagi ke dalam dua kategori yaitu teleologikal (berpusat pada tujuan) dan deontologikal (berpusat pada kewajiban).[45]

1.  Etika  Teleologikal

Menurut teori ini – sesuai dengan arti kata “telos” yang berarti tujuan, hasil[46]– apa yang  secara moral baik atau buruk, benar atau salah, wajib atau dilarang ditentukan oleh hasil dari tindakan yang dilaksanakan. Jika perbuatan menghasilkan hal yang baik secara moral, maka tindakan tersebut dapat dibenarkan secara moral. Dalam hal ini, hasil menentukan tindakan mana  yang baik dan yang tidak baik.[47] Yang lebih penting adalah tujuan atau akibat.[48]

Etika teleologikal pada mulanya berawal dari filsafat moral yang bernama hedonisme yang mengajarkan bahwa adalah baik apa yang memuaskan keinginan kita, apa yang meningkatkan kuantitas kesenangan atau kenikmatan dalam diri kita.  Bagi penganut hedonisme, tujuan hidup mereka adalah mencapai akan kenikmatan atau kesenangan.  Inilah jawaban yang dinyatakan oleh Aristippos dari Kyrene (433-355 SM)  ketika menjawab pertanyaan Sokrates: apakah yang menjadi tujuan akhir hidup manusia yang sungguh-sungguh baik?  Aristippos menjawab: yang sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan.[49]

Selanjutnya, filsafat moral hedonisme ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh Epikuros (341-270 SM) yang melihat kesenangan (hedone) sebagai tujuan kehidupan manusia.[50] Dan pada zaman modern ini, ajaran tersebut dikembangkan oleh Jeremy Bentham, seorang filsuf Inggris yang kemudian dikenal dengan nama etika utilitarianisme.  Menurut Bentham, manusia menurut kodratnya selalu ingin menghindari ketidaksenangan dan mencari kesenangan.  Seorang akan bahagia jika  memiliki kesenangan dan terlepas dari kesusahan.  Oleh karena itu, menurut Bentham, suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk dapat diukur dengan sejauh mana dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan sebanyak mungkin orang.  Baginya, moralitas suatu tindakan harus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia.  Akhirnya Betham menarik satu prinsip kegunaan (the principle of utility) yang berbunyi: the greatest happiness of the greatest number(kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar).[51]

Tokoh utilitarianisme selanjutnya adalah John Stuart Mill (1806-1873), seorang filsuf Inggris yang ‘memperbaiki’ etika Betham, pamannya itu.  Ia menjelaskan utilitarianisme yaitu pertama, nikmat jangan dibatasi pada nikmat jasmani saja.  Nikmat rohani lebih luhur daripada nikmat jasmani; “It is better to be Socrates dissatisfied than a fool satisfied.” Kedua, ia membuat jelas bahwa utilitarianisme tidak ada kaitan dengan egoisme di mana kebahagiaan terbesar mencakup semua orang yang terkena dampak dari tindakan kita.  Menurutnya lagi, bahagia tidak berarti bahwa tak ada pengurbanan yang tidak dilakukan hanya demi dirinya sendiri tetapi demi kebahagiaan orang lain.[52]

Menurut pandangan etika utilitarianisme, seseorang yang melakukan bunuh diri harus mempertimbangkan kesejahteraan dari orang-orang lain yang terkait dengannya, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.  Jika tindakan bunuh diri tersebut dapat memaksimalkan kegunaan (utility), maka tindakan tersebut secara moral dapat dibenarkan dan masuk akal.  Pertimbangan-pertimbangan yang dianggap cukup baik untuk melakukan bunuh diri adalah : kondisi dan situasi yang menyakitkan, penyakit yang tidak dapat disembuhkan (terminal), kehilangan kehormatan, jatuh miskin; menjadi cacat atau kehilangan kecantikan fisik, hilangnya kemampuan seksual, kehilangan harapan masa depan, kehilangan orang tercinta, kecewa dalam cinta, dan kelemahan atau penyakit karena usia terus meningkat. Jika seseorang mengalami hal-hal ini, bunuh diri mungkin dibenarkan jika tindakan seperti itu memaksimalkan jumlah kegunaan dibandingkan dengan tindakan alternatif lainnya.  Jika bunuh diri secara moral dapat dibenarkan, orang lain secara moral diwajibkan untuk membantu di dalam melaksanakan keputusan tersebut jika dibutuhkan bantuan orang lain.[53] Pada intinya adalah orang yang melakukan bunuh diri dapat dibenarkan atau diterima secara moral jika dia melakukan demi tujuan yang baik seperti menghilangkan atau mengurangi penderitaan atau kesusahan dirinya sendiri maupun orang lain yang terkait dengan dirinya.  Yang penting tujuan tercapai, bunuh diri tidak menjadi masalah.

Pandangan etika teleologikal tampaknya memberikan jalan keluar bagi mereka yang mengalami penderitaan dan kesusahan.  Dengan mengakhiri hidup mereka sendiri, tampaknya juga masalah telah selesai.  Selain itu, tindakan bunuh diri untuk menghindari kesusahan orang lain kemudian – misalnya akibat biaya rumah sakit yang besar – tampaknya memberikan jalan keluar yang heroik.

Hanya saja kalau kita pikirkan kembali, pandangan utilitarianisme tidaklah memberikan jalan keluar yang terbaik.  Justru orang-orang yang mengambil keputusan untuk bunuh diri dengan alasan untuk mengurangi penderitaan dan kesusahan atau pun demi kesejahteraan orang lain adalah tindakan yang pengecut dan tidak ksatria.  Mereka melakukan bunuh diri karena takut menghadapi masa depan yang tampaknya suram bagi mereka.  Selain itu, mereka juga tidak bisa menerima kenyataan hidup bahwa di dunia ini ada suka dan juga ada duka.  Ada senang dan ada pula penderitaan.  Mereka yang hanya mencari kesenangan dan kenikmatan saja, tidak bisa menerima realita hidup bahwa di dunia ini ada juga yang namanya kesusahan dan penderitaan.  Jika pandangan ini melakukan itu demi kesenangan orang yang menderita kesusahan – supaya tidak mengalami susah lagi -, apa benar bahwa kesenangan atau kenikmatan itu selalu baik jika menghalalkan segala cara demi tujuan mereka?  Bagaimana dengan orang yang mencuri dan merampok yang senang mendapatkan uang tetapi melakukan kejahatan?  Bagaimana dengan orang yang melakukan tindakan sadisme, yang mendapatkan kesenangan dan kenikmatan di atas penderitaan orang lain?  Apakah orang-orang seperti ini dapat dibenarkan secara moral hanya karena mereka memiliki tujuan untuk kesenangan dan kenikmatan?  Tentu saja mereka tidak dibenarkan dan tindakan mereka secara moral salah karena telah melakukan kejahatan.

2.  Etika Deontologikal

Kata “deontological” memiliki akar kata “deon’’ yang berarti sesuatu yang harus dilakukan sebagai hasil sebuah paksaan, tugas atau kewajiban.[54] Menurut David K. Clark dan Robert V. Rakestraw, etika deontologikal adalah sebuah etika tugas atau kewajiban; etika yang mendasarkan diri pada norma-norma yang wajib untuk dilakukan.[55] Etika deontologikal ini  menekankan bahwa benar atau salah sebuah tindakan ditentukan oleh standar atau norma yang yang wajib untuk dilakukan.[56] Seseorang dianggap baik secara moral apabila dia tidak melanggar standar atau aturan yang telah ditetapkan dan seorang dianggap buruk secara moral jika tindakannya bertentangan dengan norma-norma tersebut.[57]

Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman pendukung pandangan etika ini, menyatakan bahwa suatu tindakan dianggap baik adabila didasarkan pada kehendak yang baik.  Seseorang  dapat memiliki kehendak baik jika melakukan sesuatu karena kewajiban.  Jadi Kant berpendapat bahwa perbuatan adalah baik jika hanya dilakukan karena wajib dilakukan.[58] Selain itu, Kant juga berpendapat bahwa ada dua ukuran obyektif untuk menyatakan bahwa suatu tindakan itu benar atau salah secara etis.  Pertama, “bertindaklah atas dalil, bahwa apa yang kita lakukan dapat berlaku  sebagai hukum yang bersifat universal,” yaitu apabila yang kita lakukan di manapun dan kapan pun adalah yang seharusnya dilakukan oleh siapa pun.  Kedua, apa yang benar adalah apabila kita memperlakukan manusia di dalam setiap sebagai tujuan, dan bukan sekedar alat[59] atau cara untuk mencapai tujuan.[60]

Salah satu penerapan pandangan etika deontologikal ini adalah absolutisme total. Menurut Geisler, alasan dasar dari absolutisme total adalah bahwa seluruh konflik-konflik moral itu hanya kelihatannya saja konflik tetapi sebenarnya tidak konflik.[61] Ada hukum-hukum moral yang mutlak dan hukum-hukum moral ini tidak pernah konflik satu sama lain.[62] Selain itu, absolutisme total memiliki dasar pikiran lain yaitu providensia Allah di mana Dia selalu membuat “satu alternatif ketiga” di dalam setiap dilema moral yang jelas kelihatan.[63]

Karena etika absolutisme total didasarkan pada karakter Allah yang tidak berubah, maka kewajiban-kewajiban moral yang berasal dari natur-Nya itu juga bersifat mutlak, yang mengikat setiap orang di mana-mana.  Apa yang dapat ditemukan pada karakter moral Allah yang tidak berubah merupakan suatu kemutlakan moral termasuk di dalamnya kekudusan, keadilan, kasih, dan belas kasihan.[64] Dan hukum-hukum tersebut dinyatakan kepada manusia di dalam Firman-Nya yaitu Alkitab.

Tindakan bunuh diri jika ditinjau dari sudut etika ini adalah tindakan yang salah.  Mengapa?  Karena tindakan bunuh diri sudah melanggar akan hukum atau norma yang diberikan Allah kepada manusia yaitu “Jangan Membunuh”.  Seseorang yang melakukan bunuh diri jelas telah melanggar hukum tersebut karena ia telah sengaja membunuh yaitu dirinya sendiri.  Jadi larangan yang seharusnya wajib atau harus dilakukan, dia langgar dan justru melakukan hal yang bertentangan.

Selain itu, di dalam providensia Allah, Allah selalu menyediakan alternatif ketiga atau pilihan ketiga di dalam hikmat-Nya untuk kita mengambil keputusan sesuai dengan kehendak-Nya atau hukum-Nya.  Ketika seseorang diperhadapkan kepada pilihan “maju kena mundur kena,” Allah akan memberikan alternatif yang terbaik menurut kehendak dan waktu-Nya.  Hanya saja dibutuhkan kepasrahan dan iman dari orang tersebut.

Tinjauan Menurut Firman Tuhan

  1. Hidup ini adalah milik Tuhan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia.

Tindakan bunuh diri tidak dapat dibenarkan karena hidup seseorang adalah pemberian dari Tuhan.   Ketika Tuhan Allah menciptakan manusia dari debu dan tanah pada saat itu Dia “menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya” sehingga manusia tersebut menjadi manusia yang hidup (Kej. 2:7).  Nehemia pun mengakui bahwa Tuhan adalah Pencipta dan pemberi hidup segala yang diciptakan-Nya termasuk manusia (Neh. 9:6).  Pengkhotbah 12:7 menyatakan bahwa “debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.” Ayub menyatakan bahwa di dalam tangan Tuhan terletak segala yang hidup (Ayub 12:10) dan nafas dari Tuhan yang membuatnya hidup (Ayub 33:4).  Dalam Yohanes 14:6 pun Tuhan Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah “jalan dan kebenaran dan hidup.”  Hal ini dinyatakan setelah Tuhan Yesus membangkitkan kembali Lazarus yang telah meninggal dunia (Yoh. 11:1-44).  Jelas, bahwa hidup kita adalah pemberian dari Allah dan Allah sendiri yang berhak untuk memberi dan mengambilnya kembali.

Oleh karena hidup ini adalah milik Tuhan yang Dia berikan kepada manusia, maka manusia tidak boleh menolaknya yaitu dengan bunuh diri.  Hidup kita – mati atau hidup – adalah di tangan-Nya.  Tugas kita adalah bertanggung jawab atas kehidupan yang telah ia percayakan kepada kita. Dalam hal ini,  Verkuyl menyatakan :

Dan Tuhan melarang kita menolak hidup kita sendiri, artinja membunuh diri, sebab hidup dan mati bukan terletak dalam tangan kita, melainkan dalam Tangan Tuhan.  Tetapi pada manusia itu Tuhan telah meletakkan tanggungdjawab atas hidupnja sendiri.  Manusia mempunjai kebebasan mengenai hidupnja sendiri, tetapi kebebasan itu disertai suatu tanggungdjawab.  Ia bertanggungdjawab kepada Tuhan atas segala apa jang diperbuatnja terhadap hidupnja.  Manusia dapat menerima karunia jang disebut hidup itu, tetapi iapun dapat menolaknja, hal mana merupakan suatu perbuatan yang amat mengerikan, sebab menolak hidup berarti membunuh diri.[65]

Menurut Hauerwas yang dikutip oleh Moreland menyatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah salah karena hidup adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh sang Pencipta.  Oleh karena hidup ini adalah sebuah pemberian, maka manusia bertanggung jawab kepada Allah untuk hidup.[66]

  1. Bunuh diri melanggar Hukum keenam “Jangan Membunuh

Tindakan bunuh diri adalah tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan karena bunuh diri sendiri telah melanggar perintah Tuhan di dalam Sepuluh Hukum yaitu Hukum Keenam yang berbunyi “Jangan Membunuh” (Kel. 20:13; Ul. 5: 17).  Geisler sendiri menegaskan hal ini “Karena bunuh diri juga merupakan suatu bentuk pembunuhan, maka juga termasuk pelanggaran.”[67] Robertson McQulkin juga menyatakan bahwa bunuh diri salah atau dosa karena itu adalah pelanggaran akan larangan mengambil nyawa manusia.[68]

Di dalam Katekismus Singkat Westminster berkenaan dengan perintah keenam menyatakan:

(P. 68) Apakah yang dituntut dalam perintah keenam?  Perintah keenam menuntut kita untuk melakukan segala usaha yang dibenarkan untuk memelihara kehidupan kita dan kehidupan orang lain. (P. 69)  Apa yang dilarang dalam perintah keenam?  Perintah keenam melarang kita mengambil nyawa kita sendiri (Kis. 16:28) atau pun sesama kita secara tidak adil, atau melakukan perbuatan apa pun yang mempunyai kecenderungan demikian.[69]

Mengapa manusia tidak boleh membunuh dan dibunuh?  Karena sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah segambar dan serupa dengan-Nya, maka kita adalah ciptaan yang sangat berharga di mata-Nya.  Manusia yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya juga menyatakan bahwa manusia adalah wakil Allah di mana terpancar akan karakter dan sifat Allah di dalamnya.  Oleh karena itu, ketika seseorang membunuh ‘gambar Allah’, maka dia melakukan kekerasan terhadap Tuhan sendiri–“as if he had killed God in effigy.”[70] Kejadian 9:6 menyatakan “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”

Mengenai hal ini juga, James F. Childress and John Macquarrie menyatakan “an offense against the proper love of one’s own person as a creature made in God’s image to share his glory, a violation of the Sixth Commandment, and an act of despair which precludes repentance.”[71] Douma dalam hal ini juga menambahkan: “We may not kill our neighbor because he is created in the image of God.  But this applies to us as well.  We may not destroy the image of God that we ourselves are.  With Christian style, we must try to bear up under those troubles that can pressure us to consider suicide as a way out.[72] Oleh karena itu, kita tidak boleh membunuh diri kita sendiri karena kita adalah ciptaan Allah yang agung dan mulia.

  1. Bunuh diri melanggar akan kedaulatan Tuhan

Di dalam Ulangan 32:39 Tuhan Allah menyatakan: ”Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia.  Tidak ada Allah kecuali Aku.  Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan…”.   Hana di dalam doanya mengakui bahwa “TUHAN mematikan dan menghidupkan” (I Sam. 2:6).  Pengkotbah 8:8 menyatakan: ” Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian. Tak ada istirahat dalam peperangan, dan kefasikan tidak melepaskan orang yang melakukannya.” Jelas bahwa Allah-lah yang berdaulat atas kehidupan manusia.  Allah yang menciptakan hidup manusia dan Allah sendirilah yang memiliki hak untuk mengambil nyawa manusia.[73] Menurut Walter C. Kaiser, Allah sendiri adalah pemberi dan pemelihara kehidupan, oleh karena itu hanya Allah saja yang berhak mengambilnya kembali.[74] Menurut James F. Childress and John Macquarrie, dosa melawan Allah sebagai Pencipta dan Penebus, juga merupakan penolakan akan kasih dan kedaulatan-Nya.[75]

Dengan demikian, Firman Tuhan juga menolak akan pandangan bahwa manusia memiliki hak secara individu untuk menentukan nasib hidupnya sendiri termasuk di dalamnya adalah hak untuk mati (the right to die).  Hidup manusia bukanlah milik manusia sendiri (otonom) tetapi jelas sekali bahwa hidup manusia adalah milik Allah dan Allah sendiri yang memiliki hak untuk ‘mencabut’nya.  Selain itu, walaupun manusia memiliki kebebasan, Tuhan juga memberikan kepada manusia tanggung jawab yaitu bagaimana menggunakan kehidupan yang diberikan oleh-Nya dengan baik dan penuh tanggung jawab.[76] Oleh karena itu, Tuhan Allah juga memberikan mandat kepada manusia ketika Allah menciptakannya (Kej. 1:28).

  1. Bunuh diri melanggar hukum kasih.

Di dalam Matius 22:39 Tuhan Yesus memberikan hukum kasih yang berbunyi “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  Paulus pun menyatakan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri sebab tidak pernah seorang yang membenci tubuhnya sendiri, tetapi jusru mengasuhnya dan merawatinya (Ef. 5:28-29).  Hal ini menegaskan bahwa jika kita mengasihi diri kita sendiri, mengapa kita tega ‘menyakiti’ tubuh kita dengan membunuhnya?  Tentu ini menegaskan bahwa orang yang melakukan tindakan bunuh diri tidak mengasihi atau menyayangi akan tubuhnya.

Menurut Josh McDowell dan Norman Geisler menyatakan :

Mengambil nyawa itu salah, bahkan nyawa diri sendiri.  Bunuh diri adalah tindakan kebencian terhadap diri sendiri, tepat sebagaimana pembunuhan adalah tindakan kebencian terhadap orang lain.  Bunuh diri sama salahnya dengan pembunuhan, sebab melanggar perintah mengasihi diri sendiri, tepat sebagaimana pembunuhan melanggar perintah mengasihi orang lain.  Kasih bertentangan dengan kedua tindakan ini.  Bunuh diri adalah tindakan mementingkan diri sendiri mengakhiri kesulitan kita tanpa memperdulikan tindakan membantu orang lain berurusan dengan kesulitan mereka.  Mengambil jalan keluar yang “mudah” dari kesulitan hidup bukanlah jalan keluar yang paling penuh kasih dan bertanggung jawab.  Kasih tidak pernah kehilangan tujuan hidup.  Seseorang yang berfokus pada tindakan melindungi dan mencukupi kebutuhan orang lain tidak mempunyai alasan untuk membenci kehidupannya sendiri.  Mengasihi adalah obat penawar bagi godaan menghancurkan diri sendiri.[77]

Jadi, tindakan bunuh diri bertentangan dengan hukum kasih yang telah diajarkan oleh Yesus kepada kita.  Walaupun demikian, hukum kasih di sini berbeda dengan etika situasi yang juga mendasari tindakannya dengan kasih yang justru menyetujui tindakan bunuh diri dengan alasan “mengasihi” orang yang akan menanggung akibat jika ia tidak melakukan bunuh diri.  Dasar sama tetapi tujuan berbeda.   Etika situasi cenderung untuk diri sendiri sedangkan hukum kasih demi kemuliaan Tuhan.

  1. Bunuh diri  melanggar kewajiban di dalam masyarakat.

Menurut Hauerwas seseorang tidak boleh memiliki keinginan untuk bunuh diri karena kewajibannya terhadap orang lain di dalam masyarakat.  Seseorang tidak boleh berpikir bahwa dia seorang pribadi yang terpisah dari masyarakat.  Keberadaan seseorang tergantung pada interaksi dengan sesama di dalam masyarakat.  Kesediaan mereka untuk hidup dalam menghadapi kesakitan, kebosanan dan penderitaan adalah : pertama,  sebuah pelayanan moral untuk satu dengan lainnya; kedua, tanda bahwa kehidupan dapat dipikul; ketiga, sebuah kesempatan untuk mengajarkan kepada yang lainnya bagaimana untuk mati, bagaimana untuk menghadapi kehidupan, bagaimana hidup baik dan bagaimana seorang bijak memahami hubungan antara kebahagiaan dan kejahatan.  Sebuah tindakan bunuh diri menunjukkan kegagalan sebuah komunitas untuk mempedulikan orang yang bunuh diri ketika orang tersebut membutuhkan pertolongan dan itu menjadi tanda ketiadapedulian terhadap komunitas.[78]

Mengenai hal ini, James F. Childress and John Macquarrie menyatakan “an offense against humankind in that it both deprives society and one’s own family of a member prematurely and also denies them any opportunity of ministering to one’s needs.”[79]

6.  Bunuh diri melanggar iman kita kepada-Nya

Karena umumnya bunuh diri dihubungkan dengan penderitaan dan kesusahan, maka dalam ini orang yang melakukan bunuh diri tidak mempercayai hidupnya pada Tuhan.  Mereka sering kali merasa bahwa sudah tidak ada lagi harapan di dalam dunia ini bagi masa depan mereka.  Di sisi lain, Allah bagi mereka sudah ‘tidak ada lagi’ karena mereka tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhan.  Oleh karena itu, di dalam kedepresian mereka, mereka mengambil keputusan untuk melakukan bunuh diri.  Hanya saja, tampak bahwa mereka yang melakukan tindakan bunuh diri tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kepada pemeliharaan Tuhan yang hidup dan mahakuasa.  Menurut Bonhoeffer, tindakan bunuh diri adalah tindakan yang berdosa di hadapan Tuhan karena menunjukkan hidup yang kurang beriman.[80] R.C. Sproul juga menekankan bahwa “Allah tidak membenarkan kita untuk bunuh diri.  Bunuh diri, dalam ungkapannya yang penuh, melibatkan seorang yang menyerah pada keputusasaan.  Apapun kerumitan bunuh diri yang terlibat dalam penghakiman Allah, kita tahu bahwa bunuh diri tidak diberikan pada kita sebagai pilihan untuk kematian.[81]

C. Ben Mitchell menyatakan jika seseorang menyadari bahwa Tuhan adalah berdaulat dan baik hati, serta tak seorang pun lepas dari penderitaan, maka keinginan untuk melakukan bunuh diri itu akan surut.  Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu dan bekerja di dalam segala sesuatu bagi kemuliaan milik-Nya dan untuk kebaikan kita, maka kita akan dapat bertekun melewati penderitaan kita[82] (Roma 8:28).

KESIMPULAN DAN SIKAP KITA

Kesimpulan

Dari apa yang telah diuraikan di atas, penulis mengambil kesimpulan: pertama, tindakan bunuh diri pada umumnya didorong oleh rasa frustasi dan depresi yang membuat seseorang merasa tidak memiliki jalan keluar untuk segala macam permasalahan mereka; kedua, tindakan bunuh diri termasuk tindakan ‘pemberontakan’ terhadap kedaulatan Tuhan; jadi bunuh diri adalah dosa; ketiga, tindakan bunuh diri secara etis tidak dapat dibenarkan walaupun dengan alasan menghindari dari penderitaan dan kesusahan dan keempat, tindakan bunuh diri secara etis tidak dapat dibenarkan karena telah melanggar salah satu dari Sepuluh perintah Tuhan yaitu hukum keenam : Jangan Membunuh.

Sikap Kita Terhadap Bunuh Diri

Sikap kita di dalam menghadapin mereka yang mengambil tindakan bunuh diri adalah : pertama, terhadap mereka yang melakukan bunuh diri, kita jangan hanya melakukan pendekatan secara etika – benar atau salah – tetapi juga melakukan pendekatan secara empatik dan psikologis yaitu dengan melihat dan memahami apa yang menjadi pergumulan dan alasannya untuk melakukan bunuh diri; kedua, janganlah kita mengambil sikap ‘menghakimi’ mereka yang hendak dan telah mengambil tindakan bunuh diri, karena hak untuk menghakimi hanya pada Allah saja;[83] ketiga, terhadap mereka yang hendak melakukan bunuh diri, kita harus menjaga dirinya dengan baik, memberikan perhatian dan kasih yang cukup serta berkomunikasi dengan mereka; keempat, ketika kita berada di dalam pergumulan yang berat, bersandar penuh pada Allah yang memelihara kehidupan kita.  Allah tahu apa yang terbaik bagi kita demi kebaikan kita sendiri (Roma 8:28).

DAFTAR PUSTAKA

Augustine, Saint. The City of God. Ed. Vernon J. Bourke; New York: Image Books, 1958

Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia, 1999

________. Perspektif Etika. Yogyakarta: Kanisius, 2001

Blocher, Mark The Right to Die?. Chicago: Moody Press, 1999

Bonhoeffer, Dietrich. Ethics. New York: Touchstone, 1995

Clark, David K. dan Robert V. Rakestraw, “The Nature of Ethics” dalam Reading in Christian

Ethics Volume 1: Theory and Method. Ed. David K. Clark dan Robert V. Rakestraw;

Grand Rapis: Baker, 1994

Darmaputera, Eka. Etika Sederhana Untuk Semua : Perkenalan Pertama. Jakarta : BPK Gunung

Mulia, 1996

________. Sepuluh Perintah Allah Museumkan Saja. Yogyakarta : Gloria Graffa, 2005

Dorff, Elliot N.  Matters of Life and Death. Philadelphia: The Jewish Publication Society, 1998

Douma, J. The Ten Commandments. Phillipsburg: P & R Pub, 1996

Exegetical Dictionary of The New Testament Volume 1. Ed. Horst Balz dan Gerhard Schneider;

Grand Rapids : William B. Eerdmans, 1990

Feinberg, John S.  “Euthanasia An Overview” dalam Suicide – A Christian Response. Ed.

Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998

Feinberg, John S.  dan Paul D. Feinberg, Ethics For A Brave New World. Wheaton: Crossway,

1993

Geisler, Norman L. Etika Kristen : Pilihan dan Isu. Malang: SAAT, 2000

Greist, John H. dan James W. Jefferson, Depresi dan Penyembuhannya. Jakarta: BPK Gunung

Mulia, 1987

Kaiser, Walter C. Toward Old Testament Ethics . Grand Rapids: Zondervan, 1983

Larson, Edward J. dan Darrel W. Amundsen, A Different Death. Downers Grove: InterVarsity

Press, 1998

Louw, Johannes P. dan Eugene A. Nida. Greek-English Lexicon of the New Testament Volume 1.

New York: United Bible Societies, 1989

Magnis Suseno, Frans. Etika Dasar. Yogyakarta: Kanisius, 1987

________. Tiga Belas Model Pendekatan Etika. Yogyakarta: Kanisius, 1998

Maris, Ronald W. “The Evolution of Suicidology dalam Suicidology. Northvale: Jason

Aronson, 1993

McDowell, Josh dan Norman Geisler, Kasih Itu Selalu Benar. Jakarta : Professional, 1996

McQulkin, Robertson. An Introduction To Biblical Ethics. Wheaton: Tyndall House, 1989

Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary. Springfield: Merriam-Webster, 2000

Mitchel, C. Ben. Suicide And The Problem of Evil dalam buku Suicide – A Christian Response

Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998

Moreland, J.P. “The Morality of  Suicide dalam Suicide – A Christian Response. Ed. Timothy J.

Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998

Paris, John J.  dan Michael P. Moreland, “A Chatolic Perspective on Physian-Assisted Suicide

dalam Physician Assisted Suicide. Ed. Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita

Silvers; New York: Routledge, 1998

Pfeffer, Cynthia R. “Suicidal Children” dalam Suicidology. Northvale: Jason Aronson, 1993

Poerwadarminta, W.J. S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1995

Rakestraw, Robert V. “Ethical Choices : A Case for Non-conflicting Absolutisme” dalam

Reading in Christian Ethics. Ed. David K. Clark dan Robert V. Rakestraw; Grand Rapis:

Baker, 1994

Smith, Linda dan William Raeper. Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang. Yogyakarta:

Kanisius, 2000

Sproul, R.C. Hai Maut Di manakah Sengatmu? . Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Soubrier, Jean Pierre. “Definitions of Suicide dalam  Suicidology. Northvale: Jason Aronson,

1993

The Westminster Dictionary of Christian Ethics. Ed. James F. Childress and John Macquarrie .

Philadelphia: The Westminster Press, 1986

Uhlmann, Michael M. “Western Thought on Suicide : From Plato to Kant dalam Last Rights? –

Assisted Suicide and Euthanasia Debated. Ed. Michael M. Uhlmann; Grand Rapids:

William B. Eerdmans, 1998

Verkuyl, J. Etika Kristen Kapita Selekta. Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966

Williamson, GI. Katekismus Singkat Westminster 2 . Surabaya: Momentum, 2006

Zodhiates, Spiros The Hebrew-Greek Key Study Bible. Chattanoga: AMG, 1996

Zohar, Noam J.  “Jewish Deliberations on Suicide” dalam Physician Assisted Suicide. Ed.

Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita Silvers; New York : Routledge, 1998

Jurnal

Aloysius Soesilo, “Moralitas Bunuh Diri” dalam KRITIS No. 1/Th IX Juli-September 1994, 49

Internet

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/ibu-ajak-empat-anaknya-bunuh-diri-3.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide

http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2007100902314712


[1]http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/ibu-ajak-empat-anaknya-bunuh-diri-3.html

[2]“Data WHO:50 Ribu Orang WNI Bunuh Diri Per Tahun” dalam http://www.lampungpost.com/cetak/ berita.php?id=2007100902314712

[3]Data WHO yang dikeluarkan pada tahun 2005 dinyatakan bahwa negara yang paling tinggi tingkat bunuh dirinya adalah negara Lituania dengan rata-rata 42 orang per 100.000 penduduk di tahun 2003.  (Tentang daftar bunuh diri negara-negara di dunia lihat “Daftar negara menurut tingkat bunuh diri” dalam  http://id.wikipedia.org/wiki/ Daftar_negara_menurut_tingkat_bunuh_diri)

[4]Exegetical Dictionary of The New Testament Volume 1 (Ed. Horst Balz dan Gerhard Schneider; Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1990) 114

[5]Johannes P. Louw dan Eugene A. Nida, “apagcomai”” dalam Greek-English Lexicon of the New Testament Volume 1 (New York: United Bible Societies, 1989) 238

[6]Ronald W. Maris, “The Evolution of Suicidology dalam Suicidology (Northvale: Jason Aronson, 1993) 3

[7]Jean Pierre Soubrier, “Definitions of Suicide” dalam  Suicidology (Northvale: Jason Aronson, 1993) 36

[8]W.J. S., Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995) 169

[9]http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide

[10]Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary (Springfield: Merriam-Webster, 2000) 1174

[11]J.P. Moreland, “The Morality of  Suicide” dalam Suicide – A Christian Response (Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998) 186

[12]Di dalam The Westminster Dictionary of Christian Ethics dikatakan “Discussion on the morality of suicide are often confused by a failure to distinguish between the willing surrender of one’s life and the deliberate taking of it.” (The Westminster Dictionary of Christian Ethics [Ed. James F. Childress and John Macquarrie (Philadelphia: The Westminster Press, 1986] 609)

[13]http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri

[14]John H. Greist dan James W. Jefferson, Depresi dan Penyembuhannya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987) 36-38.  Untuk penyebab bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak, Cynthia R. Pfeffer menberikan beberapa penyebab yaitu : anak-anak yang mengalami masalah-masalah kejiwaan, krisis disiplin di dalam rumah dan sekolah, dari keluarga yang bermasalah contohnya bercerai, mengalami depresi dan stress di dalam lingkungannya, korban kekerasan dan sexual abuse yang dilakukan anggota keluarganya, kemiskinan, hidup yang tidak memiliki harapan, mengalami penolakan, tidak mendapatkan penolakan, dan sebagainya (Cynthia R. Pfeffer, “Suicidal Children dalam buku Suicidology [Northvale: Jason Aronson, 1993] 180-181)

[15]J. Douma, The Ten Commandments (Phillipsburg: P & R Pub, 1996) 224

[16]John S. Feinberg, “Euthanasia An Overview” dalam Suicide – A Christian Response (Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998) 165

[17]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966) 188-189.

[18]David Hume (1711-1776) lahir dan meninggal di Edinburgh.  Hume adalah seorang skeptis yang hebat dan filsafatnya menyatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui baik diri kita sendiri maupun dunia.  Hume mengkritik pengetahuan akan dunia, diri dan Allah.  Dia juga tidak percaya akan mujizat dan baginya mujizat  adalah “pengkhianatan terhadap hukum alam.” (Linda Smith dan William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang [Yogyakarta: Kanisius, 2000] 71-74)

[19]Michael M. Uhlmann, “Western Thought on Suicide : From Plato to Kant” dalam Last Rights? – Assisted Suicide and Euthanasia Debated (Ed. Michael M. Uhlmann; Grand Rapids: William B. Eerdmans, 1998) 35-37.

[20]Orang-orang yang memiliki pandangan utilititarianisme dan otonom dipandang oleh Moreland sebagai kalangan etika liberal. (J.P. Moreland, The Morality of  Suicide 187-188)

[21]Ibid. 187.

[22]Right to die” digunakan oleh mereka yang mendukung hak untuk menolak pengobatan secara medis bagi mereka yang mengalami sakit ‘terminal’ dan oleh mereka yang mendukung akan bunuh diri yang dianjurkan (assisted suicide) dan euthanasia (Mark Blocher, The Right to Die?, 91)

[23]http://ms.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri

[24]K. Bertens, Perspektif Etika (Yogyakarta: Kanisius, 2001) 130

[25]Etika situasi adalah pandangan etika di mana tindakannya berdasarkan kasih dan bukan pada peraturan.  Etika situasional diuraikan melalui enam proposisi yaitu pertama, hanya satu hal yang secara intrinsik baik; yaitu kasih:tidak ada yang lain; kedua, norma yang mengatur keputusan Kristen adalah kasih dan tidak ada yang lain; ketiga, kasih dan keadilan sama karena keadilan adalah kasih yang didistribusikan dan tidak ada yang lain; keempat, kasih menghendaki kebaikan sesama tidak pandang kita menyukai atau tidak; kelima, tujuan yang mengasihi membenarkan cara apapun dan keenam, keputusan-keputusan dibuat secara situasional  (Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu [Malang: SAAT, 2000] 50-60)

[26]Aloysius Soesilo, “Moralitas Bunuh Diri” dalam KRITIS No. 1/Th IX Juli-September 1994, 49.

[27]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 62

[28]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 188

[29]Phaedo adalah karya dari Plato yang ditujukan untuk mengingat akan gurunya yaitu Sokrates.  Phaedo sendiri menceritakan saat-saat terakhir Sokrates dengan membela keabadian jiwa.  Sokrates mengambil hemlock (racun) dan terus berbicara dengan teman-temannya sampai racun itu bereaksi. Sewaktu dia mati, ia bahagia bahwa di dunia berikut ia dapat terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang tidak dapat dibunuh lagi sebab waktu itu ia telah menjadi abadi. (Linda Smith dan William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu 13)

[30]Michael M. Uhlmann, “Western Thought on Suicide: From Plato to Kant “ dalam Last Rights? – Assisted Suicide and Euthanasia Debated 17

[31]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 189

[32]Michael M. Uhlmann, “Western Thought on Suicide” 18-19

[33]Aloysius Soesilo, ‘Moralitas Bunuh Diri’ 47. Augustine dalam The City of God menyatakan: “It is significant that in Holy Scripture no passage can be found enjoining or permitting suicide either in order to hasten our entry into immortality ot to void or avoid temporal evils.  God’s command, ‘Thou shalt not kill,’ is to be taken as forbidding self destruction, especially as it does not add ‘thy neighbor,’ as it does when it forbids false witness,”Thou shalt not bear witness against thy neighbor.’…It only remains for us to apply the commandment, “Thou shalt not kill,’ to man alone, oneself and others.  And, of course, one who kills himself kills a man.” (Saint Augustine, The City of God (Ed. Vernon J. Bourke; New York: Image Books, 1958] 55-56)

[34]Michael M. Uhlmann,”Western Thought on Suicide” 27

[35]Edward J. Larson dan Darrel W. Amundsen, A Different Death (Downers Grove: InterVarsity Press, 1998) 125

[36]Michael M. Uhlmann, Western Thought on Suicide 42

[37]Jean Pierre Soubrier, Definitions of Suicide 35

[38]Dietrich Bonhoeffer, Ethics (New York: Touchstone, 1995) 166

[39]Ibid. 167.

[40]John J. Paris dan Michael P. Moreland, “A Chatolic Perspective on Physian-Assisted Suicide” dalam Physician Assisted Suicide (Ed. Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita Silvers; New York: Routledge, 1998) 326

[41]Noam J. Zohar, “Jewish Deliberations on Suicide” dalam Physician Assisted Suicide (Ed. Margaret P. Battin, Rosamond Rhodes dan Anita Silvers; New York: Routledge, 1998) 364.

[42]Kisah yang mengharukan sekaligus heroik adalah Kisah Masada di mana ketika orang Yahudi diserang oleh bangsa Romawi pada tahun 1973 mereka lari dan masuk ke benteng Masada.  Karena tidak ingin dibunuh oleh musuh maka mereka saling membunuh dan terakhir mereka melakukan bunuh diri.  Josephus mencatat ada 960 orang yang melakukan bunuh diri bersama.  Lihat buku Edward J. Larson dan Darrel W. Amundsen, A Different Death (Downers Grove: InterVarsity Press, 1998) 38-50.

[43]Elliot N. Dorff, Matters of Life and Death (Philadelphia: The Jewish Publication Society, 1998) 183.  Menurut Mark Blocher, bunuh diri yang dapat digolongkan kepada tindakan hero dan martir yaitu “(1) they are responses to the needs of others or to divine commands; (2) the means of death are not under the individual’s control; and (3) death is a consequence of the objective to protect others or obey God.”  (Mark Blocher, The Right to Die? [Chicago : Moody Press, 1999] 76)

[44]Eka Darmaputera, Sepuluh Perintah Allah Museumkan Saja (Yogyakarta: Gloria Graffa, 2005) 148

[45]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 26

[46]Kata ‘telos’ dapat berarti: berakhir, penghentian, penyelesaian, tujuan, maksud.  Arti “telos” dapat berarti dari segi (1) waktu yaitu berakhirnya segala sesuatu atau generasi (Mat. 10:22; 24:6; 24:13,14); penyelesaian akan rencana Allah (Yoh. 13:1; 1Kor. 10:11); akhir dari kehidupan (1Kor. 1:8; 2Kor. 1:13; Ibr. 3:6, 14). (2) sebuah hasil, akibat, konsekuensi (Mat. 26:58) (3).  Tujuan, sasaran (I Tim. 1:5) (The Hebrew-Greek Key Study Bible [Ed. Spiros Zodhiates; Chattanoga : AMG, 1996] 1679)

[47]John S. Feinberg dan Paul D. Feinberg, Ethics For A Brave New World (Wheaton: Crossway, 1993) 27.

[48]Eka Darmaputera, Etika Sederhana Untuk Semua : Perkenalan Pertama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 11-12.

[49]K. Bertens, Etika (Jakarta: Gramedia, 1999) 235-236.

[50]Ibid. 237.

[51]Ibid. 247-248.

[52]Frans Magnis-Suseno, Tiga Belas Model Pendekatan Etika (Yogyakarta: Kanisius, 1998) 173-174

[53]J.P. Moreland, The Morality of Suicide 188

[54]Johannes P. Louw dan Eugene A. Nida, “dei” dalam Greek-English Lexicon of the New Testament Volume 1 670-672

[55]David K. Clark dan Robert V. Rakestraw, “The Nature of Ethics” dalam Reading in Christian Ethics Volume 1: Theory and Method (Ed. David K. Clark dan Robert V. Rakestraw; Grand Rapis: Baker, 1994) 20

[56]Robert V. Rakestraw, “Ethical Choices: A Case for Non-conflicting Absolutisme” dalam Reading in Christian Ethics 121

[57]Frans Magnis Suseno, Etika Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1987) 102

[58]K. Bertens, Etika 254-255.

[59]Eka Darmaputera, Etika Sederhana Untuk Semua: Perkenalan Pertama 12

[60]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 101

[61]Beberapa dasar pikiran utama yang merupakan sikap dari orang yang memegang pandangan etika absolutisme total yaitu pertama, karakter Allah yang tidak berubah merupakan dasar dari hal-hal moral yang mutlak; kedua, Allah telah menyatakan karakter moral-Nya yang tidal berubah di dalam hukum-Nya; ketiga, Allah tidak dapat mempertentangkan diri-Nya; keempat, karena itu, tidak ada dua hukum moral yang mutlak yang benar-benar dapat bertentangan dan kelima, seluruh konflik-konflik moral itu hanya kelihatannya saja konflik, tetapi sebenarnya tidak konflik (ibid. 106).

[62]Ibid. 5.

[63]Ibid. 105.

[64]Ibid. 24-25.

[65]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 188

[66]J.P. Moreland, The Morality of Suicide 189

[67]Norman L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan Isu 208

[68]Robertson McQulkin, An Introduction To Biblical Ethics (Wheaton: Tyndall House, 1989) 330

[69]GI Williamson, Katekismus Singkat Westminster (Surabaya: Momentum, 2006) 2.89

[70]Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics (Grand Rapids: Zondervan, 1983) 167

[71]The Westminster Dictionary of Christian Ethics 609

[72]J. Douma, The Ten Commandments 224-225.

[73]Norman L. Geisler, Etika Kristen : Pilihan dan Isu 207

[74]Walter C. Kaiser, Toward Old Testament Ethics 164

[75]The Westminster Dictionary of Christian Ethics 609

[76]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 188.

[77]Josh McDowell dan Norman Geisler, Kasih Itu Selalu Benar (Jakarta: Professional, 1996) 298.

[78]J.P. Moreland, The Morality of Suicide 190

[79]The Westminster Dictionary of Christian Ethics 609

[80]Dietrich Bonhoeffer, Ethics 166

[81]R.C. Sproul, Hai Maut Di manakah Sengatmu? (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 61

[82]C. Ben Mitchel, Suicide And The Problem of Evil dalam buku Suicide – A Christian Response (Ed. Timothy J. Demy and Gary P. Stewart; Grand Rapids: Fregel, 1998) 206

[83]Banyak yang menghakimi bahwa orang yang melakukan tindakan bunuh diri telah melakukan dosa yang paling besar dan ‘pasti’ masuk ke neraka.  Dalam hal ini, Verkuyl menyatakan bahwa pendapat bahwa dosa bunuh diri tidak dapat diampuni adalah terlalu berlebihan.  Ketika seorang anak Tuhan menghadapi pergumulan yang berat dan pada saat itu imannya ‘kurang’ dan merasa tidak ada jalan keluar baginya, mungkin saja dia dapat mengambil tindakan ini. (J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta 190). Selain itu, tindakan bunuh diri ini adalah tindakan membunuh yang dapat diampuni.  Hanya saja yang dibunuh adalah dirinya sendiri.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: